Kediri, Elmahrusy Media
Senin (19/10), berbagai rangkaian kegiatan telah mewarnai peringatan Harlah ke-6 Pondok Pesantren Daru Zainab HM Al-Mahrusiyah Putri. Mulai dari perlombaan Cerdas Cermat, DZ Got Talent, Miss Daru Zainab, hingga lomba kebersihan kamar telah berlalu dengan sangat meriah dan penuh antusiasme santri. Rangkaian kegiatan tersebut kemudian bermuara pada puncak penutupan Harlah ke-6 sebagai momentum refleksi perjalanan dan perjuangan pondok selama enam tahun terakhir.
Acara penutupan ini dimulai ba’da Maghrib dan dipimpin langsung oleh Agus Ahmad Nasyruddin Moenir bersama Ning Hj. Ita Rosyidah Miskiyah. Rangkaian acara diawali dengan pembacaan manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Maulid Diba’i. Usai rangkaian pembacaan tersebut, acara dilanjut dengan sambutan, mauidzah hasanah sampai penyerahan hadiah untuk para pemenang lomba dan prosesi pemotongan tumpeng.
Dalam sambutannya, Ning Ochi menjelaskan bahwa usia enam tahun Daru Zainab kali ini, merupakan fase peralihan dari masa balita menuju tahap pertumbuhan berikutnya (masa munuju akhir baligh). Usia ini masuk dalam fase Golden Age, di mana otak manusia saat usia 6 tahun itu sangat berkembang pesat. Mulai dari aspek motorik, komunikasi, dan segala hal lainnya. Dengan demikian, usia enam tahun bukan lagi fase yang dapat dipandang sebagai masa kanak-kanak semata, melainkan tahap penting yang membutuhkan perhatian, pendampingan dan asupan baik yang ekstra agar pertumbuhan dapat berjalan secara optimal.
Ning Ochi juga membahas salah satu hadits Nabi yakni:
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ بْنِ قَعْنَبٍ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ ثَابِتٍ، وَحُمَيْدٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
«حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ، وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ»
Dengan adanya hadits ini, Ning Ochi menjelaskan, “ Kalau kita tidak dikenalkan lebih jauh tentang lingkungan-lingkungan yang dapat menghantarkan pada surga, maka kita akan bisa terjerumus. Karena hal-hal ini penuh dengan rintangan sehingga banyak orang yang tidak suka. Padahal kebanyakan grati, Mba. Contoh: masuk ke masjid, istighosah, sholat jama’ah, dan masing banyak lagi. Sedangkan yang menjerumuskan pada neraka, kebanyakan sesuatu yang disukai banyak orang. Yang mana tanpa disadari, melangkah ketempat yang seolah-olah indah. Tetapi, dapat menjerumuskan ke neraka dan pasti bayar. Contoh: komr dan masuk diskotik. Sehingga ini menjadi pengingat untuk kita semua bahwa hal yang bisa mendekatkan diri kepada Allah pasti ada rintangan dan cobaan. Sedangkan yang menjerumuskan ke neraka semuanya memang tampak indah.”
Beliau juga berpesan bahwa “Kita sebagai seorang perempuan menjadi penerus bangsa di dunia dan akhirat. Kenapa? Karena perempuan itu inti dari pencetak bangsa dan menjadi tiang suatu negara. Sehinngga seandainya tiang itu runtuh, maka negaranya juga akan runtuh. Bahkan sekelas Imam Syafi’i dan Imam Hambal yang mendidik dari mereka belum bisa apa-apa sampai semasyhur itu, adalah ibunda beliau-beliau sendiri. Oleh karena itu, kalian disini bukan sekedar pindah tidur dan main-main. Akan tetapi, kalian membawa misi dan penerus bangsa ada di tangan kalian semua.”
Setelah Ning Ochi menyampaikan sambutan. Acara dilanjutkan dengan mauidzah hasanah oleh Gus Anas. Beliau menyampaikan Daru Zainab itu lahir dari sebuah cinta, karena apa? Karena manusia itu lahir dari cinta, mendengar, dan sabar. Cinta nyata Bu Nyai untuk ilmu Allah kemudian diwujudkan sampai mencapai usia 6 tahun sekarang dan menjadi pendengar ilmu, karena dari pendengar yang baik kita bisa melakukan ilmu itu sendiri. Sebagaimana yang telah beliau sampaikan ketika BMK kemaren, yakni hadis Rasulullah saw :
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُنْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا أَوْ مُسْتَمِعًا أَوْ مُحِبًّا وَلَا تَكُنْ خَامِسًا فَتَهْلِكَ (رواه بيهقى)
Nabi saw bersabda : “Jadilah engkau orang berilmu, penuntut ilmu, pendengar ilmu dan orang yang menyukai ilmu. Dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima maka kamu akan celaka.” (HR. Baihaqi).
Gus Anas juga menyampaikan “Kalau belajar itu mudah. Daru zainab bisa belajar dari kakak-kakaknya (Daru Rosyidah, Al-Misyki, Al-Mahda, Al-asyiqie). Akan tetapi, jarang manusia mau mendengar. Oleh karena itu, sedikit apapun itu harus tetap kita dengar , karena dengan mendengar itu sendiri bisa menjadikan kalian Muta’alimah, mempelajari ilmu itu sehingga kita menjadi orang yang berilmu, Daru Zainab yang berilmu.”
Kemudian di akhir Gus Anas berharap “Di uisa ke-6 Daru Zainab ini, yang tadi Ning Ochi sampaikan bahwa masuk pada fase Golden Age, maka saat nya dz untuk menjadi pendengar yang baik. Saat nya juga untuk melakukan dan penerapan yang baik.”
Waallahu a’lam.