Di suatu sore beraroma telur balado dan keringat.
Seekor kutu melompat dari rambut kusam seorang perempuan kusut, pun kutu yang keluar dari karung beras kurus akhir bulan: mereka sepakat bertemu di ventilasi dapur, tempat yang tepat untuk menikmati senja, aroma, dan takdir.
“But, kapan terakhir kali kamu merasa tidak percaya diri?” Tanya kutu beras pada kutu rambut.
Penulis sepakat untuk menggunakan kata terakhir karena kata awal mereka sama dan jika pun disingkat akan terasa aneh dan menciptakan krisis identitas; Kutbut? Kutras? Ah jelek sekali!
“Kenapa kamu berpikiran seperti itu, Ras? Rugi sekali rasanya jika hidup yang hanya sekali ini harus dibalut rasa ketidakpercayaan diri! Sebagaimana aku menikmati ketombe, nikmati saja karung buluk dan butir raskinmu itu. Agaknya hidup akan terasa lebih lapang penuh syukur.” Jawab kutu rambut.
Sepersekian detik, kutu rambut terdiam tertunduk terlihat mencerna.
“Oh gitu ya?”
Hanya itu.
Ia sedikit mengangkat kepala dan melihat ke depan dengan tatapan kosong setelahnya.
Senja semakin tinggi. Terlihat cantik dan mempesona sekali.
“Bukan seperti itu,” seloroh kutu rambut tampak masih ada yang mengganjal di batinnya. “Maksudku soal cinta, pernahkah kamu tidak percaya diri untuk hal yang disebabkan karena dan untuk cinta?”
Terlihat lebih hidup wajah itu. Ada kukuh juga di sana.
“Ah, soal cinta rupanya! Hahaha. Sedang jatuh cinta kah kau rupanya? Hahaha. Dasar kutu tengik!”
Gelak itu tak tertahan. Sungguh benar-benar tak tertahan. Sama sekali tidak bisa dibayangkan dalam sempit otak seekor kutu.
“Kau yang kutu tengik! Malah tertawa dia! Kusumpahi kau tersedak ketombe basah!” Serang kutu beras tak terima, sedikit tersinggung, lalu berakhir cemberut.
Semakin menggelegar gelak kutu rambut itu. Terpingkal-pingkal dibuatnya. Terbatuk. Hampir muntah.
“Baiklah baiklah, mari kita anggap persoalan ini milik bersama.”
Kutu rambut mengambil alih pembicaraan, tampak berhasil mengumpulkan serius setelah pua tertawa.
“Lantas, kutu manis mana yang telah berhasil menawan hati mungil sahabatku ini sehingga ia uring-uringan sepanjang hari, hah?” Lanjutnya.
Pertanyaan itu dilontarkan, tidak ada jawaban di beberapa detik awal setelahnya. Hanya sorot mata yang saling bertemu, berusaha mengirimkan jawaban tanpa harus diucapkan.
“Aku jatuh hati pada kutu buku.”
Jawaban itu diperdengarkan dengan begitu yakin, tulus, dan —sedikit iba.
“Ah, si kutu manis nan mempesona itu! Bagus juga seleramu.” Ucap kutu rambut sumringah seraya mengusap punggung belakang kutu beras dengan bangga.
Mulai bersemai, senyum kutu beras itu sedikit terangkat: merekah.
“Tapi bukankah kau tau siapa kutu buku itu, atau setidaknya kita sedang membahas realita dan nasib? Ia keluarga bangsawan, Ras.”
Mendengar jawaban kutu rambut yang sebenarnya ia sendiri pun tau, kelopak senyum itu perlahan menguncup hingga benar-benar layu pada akhirnya.
“Kau benar, But.”
Bukanlah sahabat jika tidak merasakan porsi bahagia yang sama, pun sedihnya.
“Tak apa, Ras. Apakah kau tau soal konsep filosofis admiration from afar? Atau psikologi dan sastra menamainya dengan unrequited love? Ah, tentu pula kau paham betul soal hedgehog’s dilemma gagasan cemerlang dari Arthur Schopenhauer dalam Parerga and Paralipomena-nya yang menjelaskan soal cinta dan luka?”
“Tapi aku bukan landak, But. Aku kutu!”
“Iya aku tau. Sebagaimana merasakan cinta, lantas apakah kutu tidak bisa terluka?”
Hening.
“Lalu aku harus bagaimana, But?”
Sorot mata kutu rambut tidak beranjak sedikitpun dari tatap kutu beras. Berusaha menyelami dengan penuh peduli.
“Sekalipun aku jawab untuk sadar diri, bisa kuyakinkan hatimu akan patah. Pun soal sabar. Tidak begitu berguna sadar dan sabar itu kini.”
“Lantas, apa maumu? Apa rencanamu? Biar aku dengar dan dukung.” Pertanyaan itu berbalik.
“Aku tidak ingin apa adanya. Aku tidak mau jatuh hati untuk cinta yang biasa saja. Cinta ini luar biasa, But! Luar biasa!”
Jawaban yang lantang dan gagah sekali.
“Aku ingin membuktikan cintaku, padanya, pada diriku, bahwa cinta bukan milik siapapun. Cinta adalah milik mereka yang mau berusaha. Dan aku akan mengusahakan pemantasan itu!”
Kutu rambut menyambut kalimat terakhir itu dengan senyuman yang teramat tulus.
“Aku mendukungmu, Ras. Tapi jangan lupa soal do’a. Pak Sapardi bilang, ‘Aku mencintaimu. Itu sebabnya aku tak pernah selesai mendoakan keselamatanmu.’”
“Ah, kau benar, But. Mari kita berdo’a di penghujung senja ini sebelum beranjak kembali pulang.” Ajak kutu beras yang disambut angguk-senyum kutu rambut.
Mereka berdo’a dengan khusyuk; dengan bahasa dan kepercayaan mereka, tentunya.
Di perjalanan pulang.
“Namun kenapa kamu bisa jadi bijak seperti ini, But? Jangan-jangan kau …”
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, kutu rambut segera membekap mulut kutu beras kuat-kuat dan gelagapan, untuk hal yang sepertinya tidak ingin kita dengar.
Ah, memang sungguh rumit dan sulit sekali dipahami dunia kutu itu?!