Di tanggal menuju akhir bulan ini, rasanya tiada yang lebih menyebalkan dari pedagang yang tidak menyediakan uang kembalian tunai. Sebagai penganut falsafah bahwa “Pembeli adalah raja” sudah seharusnya pedagang es teh jumbo itu melayani saya sebagaimana seharusnya bak seorang raja. Tidak hanya menyajikan kualitas teh dan gula, juga tidak pelit-pelit soal es batu, pelayanan itu juga harus berupa kesiapan atas pembayaran dan kembalian.
Ketika customer mengeluarkan uang untuk barang yang ia beli, anda seharusnya tetap tersenyum seraya memberikan barang tersebut dan mengambil uang tanda pertukaran transaksi antara es teh jumbo dan uang. Bukan malah memasang wajah kaget, bingung, panik, dan was was seperti anak sekolah yang menghadapi ujian matematika dengan tidak belajar karena semalam begadang menonton liga champions dan kalah.
Ekspresi itu ditambah dengan keringat yang tiba-tiba bercucuran dari dahi, pipi, dan sebalik lempitan leher belakang yang secara tidak langsung memberi kesan asin pada es teh jumbo yang seharusnya manis.
Kok bisa tukang es teh segar tapi dia malah gerah berkeringat asin berkerak? Kan tinggal diminum es tehnya. Ini protes saya yang pertama.
Protes yang kedua, adalah tepat di saat ia menyengir dan mengakui bahwa ia tidak memiliki kembalian: ia tidak melayani saya dengan inisiatif pergi memecah dan menukarkan uang itu sebagai bentuk menebus rasa bersalahnya atas ketidakbecusannya melayani berupa menyediakan kembalian.
“Coba sampean tukar dulu, Mas. Saya belum punya kembalian!”
What the hell nah?! What do you say?!
Raja jenis apa yang berani-beraninya dikongkon-kongkon seorang penjual es teh jumbo yang leher belakangnya berkerak asin keringat sampai hitam dan gurih?
Sejatinya hadirnya tulisan ini sebab poin protes saya yang ketiga: penjual es teh dan bahkan seluruh serikat dagang itu menjajakan dagangannya di trotoar, lengkap dengan gerobak, kursi, meja, kompor, dan sampahnya.
Entah apa yang mereka dagangkan, tapi cara mereka berdagang jelas tidak bisa dibenarkan.
Kita sama-sama tau, bahwa hidup ini menuntut kita serba cepat dan tergesa-gesa. Prestasi, karir, dan semua pencapaian itu memaksa kita harus meraihnya dengan segera. Aturan dan standar bias atas keberhasilan orang lain, menjadikan kita hilang rasa percaya pada diri sendiri.
Lambat berarti tertinggal.
Lambat berarti gagal.
Pun kita sama-sama tau, bahwa hidup ini klise, dikotomi, dualism, kontradiksi, dan paradoks. Selalu ada kemungkinan di setiap usaha dan hasil, untuk kenyataan bahwa hidup ini harus berimbang, harus sesuai tau batas dan porsinya, harus tau kapan ngegas dan kapan ngerem.
اعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأَنَّكَ تَعِيشُ أَبَدًا، وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوتُ غَدًا
“Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya, dan beramal lah untuk akhiratmu seakan-akan engkau mati esok hari.”
Namun cobalah sesekali bahkan di waktu lelahmu: melambatlah.
Bukan karena kalah ataupun menyerah. Bukan juga karena kamu lemah, cengeng, dan pemalas. Karena nyatanya, kita hanya bisa memahami hidup ini dengan berusaha sedikit melambat.
Memahami hidup, berarti memahami dirimu, orang lain, lingkungan, dan penciptanya.
Berjalan seorang diri di sepanjang jalan trotoar yang penuh sesak itu, saya berusaha mengimani ucapan Ryszard Kapuściński, seorang penulis dan jurnalis Polandia, ia mengatakan:
“My writing is a combination of three elements. The first is travel: not travel like a tourist, but travel as exploration. The second is reading literature on the subject. The third is reflection.”
Saya mencintai menulis.
Saya juga mencintai jelajah, buku-buku, dan perenungannya.
Tentu juga saya mencintai trotoar dan es teh jumbo.
Saya hanya benci pedagang yang berjualan tidak tau tempat: karena mencari rezeki bukan menjadikan alasan merampas hak orang lain, untuk menjadi bodoh dan jahat.