Seorang santri salafy yang menjalani kehidupan pesantren sekaligus menempuh pendidikan tinggi sedang memikul dua amanah sekaligus. Di kala waktu ia mungkin mengaji kitab kuning, di waktu lain mengikut perkuliahan, dan malam hari kembali mengulang pelajaran. Jadwal yang padat ini sering membuat orang bertanya, apakah semua itu sepadan. Jawabannya terletak pada pandangan Islam tentang ilmu, yang tidak pernah mengenal batas usia, tempat, maupun keadaan.
Allah SWT berfirman dalam surah Al-Mujadilah ayat 11:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” Ayat ini menegaskan bahwa ilmu adalah jalan untuk mengangkat martabat seseorang di hadapan Allah. Seorang santri yang bersungguh-sungguh menuntut ilmu, baik di pesantren maupun di bangku kuliah, sedang menapaki jalan yang dijanjikan kemuliaan itu.
Rasulullah SAW juga pernah bersabda, sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” Dalam hadist ini mengajarkan bahwa setiap langkah dalam belajar, betapapun kecilnya, bernilai di sisi Allah. Lelah membaca kitab hingga larut malam, atau bergegas dari pesantren menuju kampus, semuanya tercatat sebagai perjalanan menuju surga.
Mencari ilmu di tengah keterbatasan memang menguji kesabaran. Namun Allah telah menegaskan dalam surah Al-Insyirah ayat 5 dan 6:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” Pengulangan ayat ini menunjukkan kepastian janji Allah. Cobaan yang dihadapi santri, mulai dari keterbatasan waktu, tekanan tugas, hingga rasa lelah, bukanlah tanda bahwa jalan ini salah. Sebaliknya, ia adalah bagian dari proses pendewasaan yang Allah sediakan.
Kesempatan dalam belajar yang kini dimiliki juga merupakan nikmat yang tidak boleh disia-siakan. Biaya pendidikan, bimbingan para guru, dan fasilitas yang tersedia adalah hasil ikhtiar banyak pihak, termasuk dukungan keluarga. Maka, menjaga kesungguhan dalam belajar adalah bentuk syukur yang paling nyata. Allah berfirman dalam surah Ibrahim ayat 7:
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Sungguh, jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”
Di balik setiap langkah dan perjalanan seorang santri, selalu ada do’a seorang ibu yang tidak pernah putus. Allah mengajarkan kita untuk mendoakan kedua orang tua dalam surah Al-Isra ayat 24:
رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah mendidik aku waktu kecil.” Do’a ini mengingatkan bahwa kasih sayang orang tua adalah fondasi utama yang membuat seorang anak mampu berdiri dan melangkah. Rasulullah SAW juga menyebutkan keutamaan doa orang tua dalam hadis riwayat Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah:
ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ
“Ada tiga doa yang pasti dikabulkan: doa orang yang dizalimi, doa musafir, dan doa orang tua.” Keyakinan terhadap hal inilah yang membuat seorang santri tetap teguh ketika lelah, sebab ia tahu ada doa yang senantiasa menyertainya.
Dengan demikian, teruslah belajar selama masih diberi kesempatan. Ilmu tidak mengenal kata terlambat, dan setiap bab yang dipahami adalah bekal untuk masa depan. Rasulullah SAW juga bersabda bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
Percayalah, bahwa usaha yang dilakukan dengan niat yang lurus tidak akan sia-sia. Sebagaimana pohon yang tumbuh perlahan yang kokoh, seorang santri yang sabar dalam menuntut ilmu akan menuai hasil pada waktunya. Dengan ilmu, doa, dan keteguhan hati, masa depan yang cerah insya Allah akan menyambut. Barokalloh fikum…