web analytics

Menyembuhkan Trauma Masa Lalu Sebelum Memulai Cinta yang baru

0 0
Read Time:2 Minute, 48 Second

Di dalam lika-liku kehidupan ini, kita semua pasti pernah merasakan yang namanya putus cinta. Di saat itu kita pasti akan merasakan kesedihan yang cukup mendalam dan di sana lah akan keluar sebuah nasihat cukup terkenal, “Cara terbaik untuk melupakan masa lalu adalah dengan menemukan orang baru.”

Mungkin cara ini terdengar sangat instan untuk melupakan masa lalu, tapi cara ini bukanlah jalan pintas yang terbaik. Diibaratkan seperti sebuah luka yang diperban tanpa dibersihkan. Dari luar mungkin akan terlihat rapi dan baik-baik saja, tapi didalamnya ada luka yang tidak dapat sembuh dengan sehat dan benar.

Pasangan Baru Bukan Tempat Rehabilitasi

Memulai hubungan yang baru disaat hati yang masih di penuhi oleh puing-puing kekecewaan pastinya akan memberikan ketidak adilan kepada kita ataupun kekasih baru kita. Pastinya dihubungan itu nanti akan ada emosional yang cukup kuat dalam ”sistem pertahanan diri”, yang mana akan banyak menumbuhkan rasa curiga yang berlebihan, dan dibanding-bandingkan standarnya dengan mantannya yang dahulu. Hal itu dapat menjadikan orang baru itu menjadi korban yang bahkan tidak bersalah dan tidak tau apa-apa.

Secara tidak langsung, kita tidak menjalankan hubungan itu dengan sehat dan baik. Tapi kita membuat orang baru itu menjadi “petugas rehabilitas”, yang dituntut untuk menyembuhkan luka yang bahkan tidak pernah mereka buat. Yang seharusnya hubungan itu untuk saling menguatkan dan mencintai dengan tulus harus berakhir dengan pemanfaatan seseorang untuk menyembuhkan luka trauma masa lalunya.

Jeda Bukan Berarti Kalah

Ditengah-tengah sosial masyarakat, memberikan “jeda” setelah putus cinta dianggap seperti gagal move on atau tidak laku. Padahal memberi jeda pasca putuus cinta sangatlah baik untuk mengstabilkan emosi yang sempat kacau akibat sebuah kekecewaan.

Dengan mengambil jeda waktu untuk sendiri akan memberikan kita waktu untuk melakukan intropeksi terhadap diri sendiri. Dalam beberapa waktu iru kita dapat merenung dan berpikir; apa kabar dengan diriku yang terluka? Apa yang dapat kupelajari dari kegagalan kemarin? Apa yang harus kulakukan agar hal itu tidak akan terulang lagi di hubungan yang selanjutnya?.

Proses dalam menyembuhkan trauma mungkin tidak akan selalu nyaman. Pastinya akan banyak halang rintang yang akan selalu menghadang perjalanan kehidupan kita. Kita harus dipaksa untuk berani duduk bersama rasa sedih, kecewa dan juga marah tanpa harus memoles dengan kepura-puraan bahwa “semua akan baik-baik saja”. Kitqa mulai mencoba mengenali kembali diri kita juga kembali kepada keutuhan diri kita yang sebenarnya.

Mencintai dengan Utuh, Bukan Sisa-Sisa

Dalam hubungan yang sehat juga membutuhkan ruang hati yang lapang dan sehat. Bila di dalam hati itu masih dipenuhi dengan rasa dendam, takutnya dengan penolakan, dan ketidak percayaan yang berlebih kepada manusia, maka ia tidak akan menjadikan hubungannya itu sebagai hubungan yang sehat dan romantis.  Cinta itu hanya akan menjadi penambal bagi kehidupannya yang sepi.

Memberikan cinta yang tulus dan baik itu adalah sebuah keharusan bagi kita kepada pasangan kita nanti. Kita harus memulinya dengan lembaran baru yang tidak mengikut sertakan coretan dari lembaran-lembaran lama. Sebab setiap orang itu berhak menerima cinta yang utuh dan sehat, bukan dengan sekedar sisa-sisa puing kekecewaan dari masa lalu.

Dari sini, kita belajar untuk  menyembuhkan diri sendiri sebelum memulai hubungan yang baru. Karena disaat hati kita sudah benar-benar pulih kita tidak hanya siap untu mencintai kembali, tapi kita juga siap untuk mulai dicintai dengan cara yang berbeda, orang yang berbeda, juga dengan kenangan yang berbeda.

Mungkin kita tidak akan bertemu seseorang yang sempurna sesuai kemauan kita, tapi kesempurnaan itu akan didapat dengan ketulusan kita dalam mencintainya.

Oleh: Arina

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Pembungkaman Influencer dalam Pusaran Isu Karhutla

Pembungkaman Influencer dalam Pusaran Isu Karhutla

Menyelami juga Mengkritisi Diri Sendiri

Menyelami juga Mengkritisi Diri Sendiri

Hutan adalah Rumah Kemanusiaan dan Penghambaan

Hutan adalah Rumah Kemanusiaan dan Penghambaan

Seni Menjadi Baik ala Stoikisme

Seni Menjadi Baik ala Stoikisme

Ketika Mesin Belajar Menulis, Manusia Harus Tetap Berpikir

Ketika Mesin Belajar Menulis, Manusia Harus Tetap Berpikir

Kenyanglah Engkau Kenyang, Engkau Akan Lapar Lagi Setelah Ini

Kenyanglah Engkau Kenyang, Engkau Akan Lapar Lagi Setelah Ini