Kita manusia! Camkan itu! Jangan pergi jauh-jauh ke manusia lain! Cobalah untuk menyelami diri! Sebelum memanusiakan manusia, ada baiknya untuk menjadi manusia terlebih dahulu. Lihatlah seorang yang mengambil lembur sampai jam tiga pagi di ruang setinggi tiga meter hanya demi masa depan yang cerah—katanya. Sedangkan dia berpikir kalau besok dia mati apakah mimpinya tak pernah ada lagi?
Satu paragraf yang sungguh hina tersebut kiranya telah cukup untuk menggambarkan sesuatu yang akan diselami dalam tulisan ini. Bukan lain juga lain bukan, hal ini tentu perlu kita bahas untuk menghindari krisis identitas yang melebihi batas. Berangkat dari perbincangan dengan teman yang selalu melihat apa kata orang. Ayolah kawan! Kita hidup bukan untuk orang lain. Maksudnya, kita tidak selalu harus menerima dan kecanduan pandangan orang lain. Untuk apa jikalau kamu beribadah hanya agar dilihat orang? Apa gunanya suka membaca buku apabila ada orang yang lewat di depanmu? Bahkan kamu tidak perlu pura-pura mencintai seseorang sebagai dalih menyelami diri.
Bukan berarti kita harus senantiasa menyepi supaya tidak dilirik, namun untuk apa memaksa melakukan hal yang tidak kamu suka hanya agar dilihat baik oleh orang yang bahkan tak pernah tahu siapa kita? Bahkan mungkin kamu sendiri belum mengenal siapa dirimu sebenarnya. Makanan kesukaanmu, hobimu, kebiasaanmu, kesibukan yang menghantui pikirmu, bisa jadi semua itu belum kamu kenali karena hanya sibuk mengenali penglihatan orang lain. Ayolah kawan! Atau bila kamu beruntung, orang lain—yang mencintaimu—justru malah lebih tahu tentang kamu daripada dirimu. Lihatlah dirimu! Iqra’!
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ
“sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4)
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا
“Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam dan Kami angkut mereka di darat dan di laut. Kami anugerahkan pula kepada mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS. Al-Isra’: 70)
بَلِ الْاِنْسَانُ عَلٰى نَفْسِه بَصِيْرَةٌ
“Bahkan, manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri” (QS. Al-Qiyamah: 14)
Hakikatnya manusia diciptakan dengan akal, maka renungilah ayat-ayat di atas. Ungkapan “manusia harus memanusiakan manusia lain” didasari oleh setiap individu memiliki harkat, martabat, dan harga diri yang wajib dihargai. Oleh karena itu, seorang individu pun perlu memanusiakan dirinya sendiri.
Bayangkan! Apa saja yang telah kita lewati sepanjang hari ini? Adakah suatu kegiatan yang kembalinya ke diri kita sendiri? Atau malah kita terpaksa melakukannya sehingga menjadi formalitas semata?
Namun, ironisnya, kegiatan mencari diri sendiri sebenarnya adalah sebuah paradoks. Karena ketika semakin keras seseorang mencari siapa dirinya, justru ia akan semakin menjauh atau merasa asing dengan dirinya sendiri. Bagaimana tidak? Karena—secara tidak langsung—kita bertindak sebagai subjek juga objek di waktu yang bersamaan. Saking sibuknya seseorang melabeli serta menilai diri sendiri juga berpotensi membangun “topeng” atau konsep baru tentang diri, bukan menemukan esensi aslinya.
Lantas pendekatan seperti apa yang perlu kita lakukan untuk bisa hidup bersama diri? Gagasan “kehilangan diri untuk menemukan diri” adalah kunci utama untuk keluar dari jebakan paradoks ini.
Apakah kita melakukan sesuatu karena diri kita sendiri? Mengapa kita sampai berpikir seperti ini? Apakah sesuatu yang kita pikirkan saat ini adalah hal yang memang kita pikirkan? Bagaimana kalau ternyata pikiran yang kita pikirkan bukanlah pikiran kita sendiri?
Wallahu a’lam.