Suatu hari di sebalik buai senyum manis.
Kekasihku terlahir dari pohon gaharu pedalaman Kalimantan.
Ia menyemai dan permai, semerbak dan menyeruak, harum dan ranum: kami sepakat bertemu di ujung dahan dan saling berbagi cium.
Lalu iblis datang membantai kehidupan.
Pedih, sungguh pedih.
Ia menyimpan lukannya sendiri. Dari garang setegar karang, kini ia tak ubahnya julang di tepian jurang: seonggok tegak yang dicerca tawa cuih remeh seekor gagak, yang berputar, menyelinap di sebalik asap, berceracau mengabarkan kematian.
Biak-biak tak sempat dibicarakan baik-baik.
Kalian boleh mengira, bahwa kehidupan bisa berarti terpotong-potong dan meminta tolong. Namun apa yang bisa diharap dari sekumpulan pembohong sombong yang otaknya kosong?
Kosong.
Pada dunia yang sia-sia: tanah yang menyimpan api, angin yang meniupkan asap, tak ada air dari daratan yang menghitam dan angkasa yang memerah.
Iblis kencing muntah berak di sana, menyisakan bercak-bercak keparat.
Setelahnya, tak lagi, kami sepakat bertemu di pundak. Ia yang menyisakan gelondong, biar tak apa saya gendong.
“Kita pergi ke Jawa, Sayang. Siapa tau kita menemukan rawa-rawa dan jumawa.”
Lengang, gamang.
“Tapi tidak, Sayang. Pundakmu sudah cukup berat oleh isi pikiran dan perasaan, juga sumpah serapah bajingan sampah. Aku tidak ingin merepotkanmu. Aku bisa sendiri.”
Ia gelondong, lalu gelinding: aku gelandang dan tetap mencintainya.
Kini, kekasihku adalah selembar tisu.
Lukanya menjadikannya putih dan lembut, tetapi juga tipis dan ringkih.
“Kenapa kamu tidak pernah mengajakku menari-nari di dalam hujan, atau tertawa lepas di terik panas? Atau ya setidaknya dapat mengajariku menyentuh angin?” Protesnya cemberut, seperti semut kalut yang ciut takut ribut melawan belut karena kesalahpahaman membedakan rambut yang kusut tersangkut di sela-sela lempitan carut-marut kerut perut yang berlumut.
Namun kekasihku jauh lebih imut.
Tanpa mengurangi rasa hormat dan sayang cintaku untuk menanggapi pertanyaannya: ah kekasih, kamu sudah tau persis jawabannya!
Aku tidak ingin menyakitimu.
Maka dari itu, izinkan aku membawakan sepotong pelangi yang—maaf-maaf saja hanya bisa kutangkap-dapatkan warna merahnya—tapi bisa kusajikan dengan tulus untuk mewarnai pipimu, bibirmu, darahmu, hatimu, lantas menyalakan gejolak merah api asmara yang gila menyalak.
Kini dalam kuntum, tak akan ada lagi iblis-iblis keparat itu yang dapat menghalangi kita untuk kembali bertemu dan saling berbagi cium.
Meski tak di dahan.
Sepenuhnya tak tahan.