web analytics

Bima dan Sebungkus Kebaikan

0 0
Read Time:3 Minute, 52 Second

Hujan deras malam itu seolah berlomba dengan tetesan air yang menembus atap seng rumah Bima. Di rumah kayu yang reot dan bocor di sana-sini itu, Bima duduk termenung di samping tempat tidur ibunya. Ibunya, wanita paruh baya yang selalu mengajarkannya untuk menjadi anak yang jujur, baik hati, dan suka menolong, kini terbaring lemah. Badannya menggigil panas.

Bima bingung setengah mati. Ia tak punya uang sepeser pun untuk membeli obat. Rasa takut kehilangan ibu mengalahkan segalanya. Dengan napas terengah-engah, Bima menerobos hujan menuju sebuah toko obat kecil di ujung gang.

Di dalam toko obat yang sepi itu, jemari Bima gemetar. Matanya tertuju pada satu strip obat penurun panas dan antiinflamasi. Hatinya berkecamuk hebat. Ada rasa ragu dan penyesalan yang mendalam. Ia tahu mencuri itu dosa, tetapi bayangan wajah ibunya yang merintih kesakitan terus membayang. Dengan tangan bergetar, ia mengambil satu strip obat itu dan berbalik cepat.

“Tunggu dulu, Nak!”

Suara tegas menghentikan langkah Bima. Pemilik toko, seorang pria paruh baya bernama Pak Saputro, berdiri di depan pintu. Bima menunduk dalam-dalam, badannya gemetar ketakutan, air mata mulai menetes di pipinya.

“Kamu… mau mengambil obat itu tanpa bayar?” tanya Pak Saputro pelan namun tegas.

“M-maafkan saya, Pak…” Bima terisak, mendekapkan obat itu di dadanya. “Saya tahu ini salah. Saya benar-benar minta maaf. Tapi ibu saya di rumah sakit parah, Pak. Panasnya tinggi sekali dan saya tidak punya uang sama sekali untuk beli obat. Saya terpaksa, Pak… ampuni saya…”

Also Read: Kesepian

Pak Saputro menatap mata Bima yang jujur dan penuh keputusasaan. Tidak ada kebohongan di sana, hanya kasih sayang seorang anak pada ibunya. Ketegangan di wajah Pak Saputro perlahan luluh menjadi rasa iba.

“Sudah, jangan menangis,” ucap Pak Saputro lembut. Beliau mengambil strip obat itu, mengemasnya dengan rapi, lalu menyerahkannya kembali ke tangan Bima. “Ambil obat ini untuk ibumu. Kamu tidak usah bayar.”

Tak berhenti di situ, Pak Saputro mengambil bungkus nasi Padang yang baru saja beliau beli untuk makan malamnya, serta lima tusuk sempol hangat yang ada di meja. “Ini, bawa sekalian untuk makan malammu dan ibumu.”

Also Read: Biru Sunyi

Gemetar tubuh Bima berubah menjadi tangis haru. Ia membungkuk berkali-kali. “Terima kasih banyak, Pak… Terima kasih! Semoga Allah membalas semua kebaikan Bapak.”

Setelah Bima berlari pulang, Aufa, anak Pak Saputro yang sejak tadi memperhatikan dari balik meja kasir menghampiri ayahnya dengan wajah kesal.

“Ayah ini bagaimana, sih?” protes Aufa. “Ngapain anak seperti itu dibantu? Dia kan mau mencuri! Kalau Ayah memberi obat dan makanan gratis ke semua pencuri, malah kita yang rugi, Yah!”

Pak Saputro tersenyum tenang, menepuk bahu anaknya. “Aufa, ingatlah satu hal. Kebaikan tidak pernah membuat kita rugi. Apa yang kita tanam hari ini, akan kita tuai suatu hari nanti. Percayalah, semua kebaikan pasti ada balasannya.”

20 Tahun Kemudian…

Waktu berlalu begitu cepat. Pak Saputro yang kini makin renta tiba-tiba jatuh sakit keras. Beliau mendadak mengalami penyakit yang harus segera ditangani. Aufa, yang kini menggantikan ayahnya mengurus toko obat, duduk lemas di koridor rumah sakit.

Also Read: Kutu

Biaya pengobatan dan perawatan  ayahnya mencapai puluhan juta rupiah. Sebuah angka yang sangat besar dan tak sanggup ditanggung oleh Aufa saat itu. Aufa menggenggam rincian biaya medis sambil menangis sesenggukan di samping tempat tidur ayahnya.

“Ayah… maafkan Aufa…” bisik Aufa lirih, merasa gagal sebagai anak.

Karena tak sanggup menahan rasa sesak di dadanya, Aufa melangkah keluar ruangan sebentar untuk menenangkan diri dan mencari udara segar. Saat Aufa berdiri di koridor luar, ia melihat seorang dokter spesialis berjas putih bersih berjalan anggun memasuki ruangan ayahnya.

Beberapa menit kemudian, dokter tersebut keluar kembali dari ruangan. Aufa bergegas masuk kembali ke dalam untuk menemani ayahnya.

Namun, begitu melangkah ke dalam ruangan, mata Aufa tertuju pada meja kecil di samping tempat tidur Pak Saputro. Di atas meja itu, tergeletak seporsi nasi Padang yang masih hangat, dan di bawahnya terdapat secarik kertas lembaran kwitansi pembayaran rumah sakit.

Dengan tangan bergetar, Aufa mengambil kertas tersebut. Di atas kertas rincian biaya operasi yang tadinya berjumlah puluhan juta rupiah, kini telah tercoret rapi dan tertulis pesan singkat berstempel resmi rumah sakit:

“Total Biaya Pengobatan & Operasi Bapak Saputro: Rp 0,-“

“Semua biaya medis telah dilunasi sepenuhnya dengan satu strip obat, sebungkus nasi Padang, dan lima tusuk sempol 20 tahun yang lalu.”

— Dr. Bima

Aufa membeku. Air matanya menetes makin deras, menimpa kertas di tangannya. Kenangan masa lalu berputar kembali di benaknya. Bayangan seorang anak kecil beraju lusuh yang menangis ketakutan di toko obat ayahnya dulu. Anak yang dulu ditolong ayahnya kini telah menjadi seorang dokter yang menyelamatkan nyawa ayahnya.

Aufa memeluk ayahnya yang tertidur pulas dengan dada bergemuruh. Hari itu, ia sadar betapa benarnya perkataan ayahnya dahulu: kebaikan yang ditanam dengan tulus tidak akan pernah hilang, ia hanya menunggu waktu untuk kembali.

 

Oleh: Zahra Nur Khumairok

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Pemakaman Diselimuti Kekonyolan

Pemakaman Diselimuti Kekonyolan

Kesepian

Kesepian

Biru Sunyi

Biru Sunyi

Satu Hari untuk Beribu Kewajiban

Satu Hari untuk Beribu Kewajiban

Kutu

Kutu

Gonjang-Ganjing Seekor Kambing

Gonjang-Ganjing Seekor Kambing