Di antara waktu yang berlari, tanggung jawab yang menanti, dan air mata yang tak sempat jatuh.
Pukul tiga dini hari, ketika sebagian dunia masih terlelap dalam mimpi, suara alarm dari sebuah jam bekers memecah keheningan aula. bilqis membuka mata perlahan. Tubuhnya masih menyimpan sisa lelah dari hari kemarin, sementara pikirannya telah sibuk menyusun apa saja yang harus diselesaikan hari ini.
Hafalan yang belum lancar. Tugas kuliah yang belum rampung. Amanah sebagai pengurus yangmembayang . Belum lagi kegiatan pondok yang tak mungkin ia tinggalkan seenaknya.
Ia menarik napas panjang, lalu bangkit dari tempat tidurnya.
“Bismillah, semoga hari ini lebih baik buat jalanin kegiatannya,” gumamnya.
Kalimat itu telah menjadi doa yang selalu ia ulang setiap pagi. Bukan karena ia tidak pernah lelah, melainkan karena ia tidak tahu harus mengadu kepada siapa selain kepada Allah.
Di pesantren, waktu bukanlah sesuatu yang bisa dimiliki sesuka hati. Ada jadwal yang harus ditaati, kewajiban yang harus dipenuhi, dan ilmu yang harus diperjuangkan. Seusai salat Subuh berjamaah, bilqis membuka al-qur’an di hadapannya dilokal murrotil. Matanya mengikuti baris-baris tulisan Arab, sementara bibirnya bergerak mengulang ayat demi ayat. Sesekali ia menguap, lalu kembali memaksakan fokus.
Belum selesai satu halaman, pikirannya sudah melompat pada tugas kuliah yang harus dikumpulkan siang nanti.
“bil, hafalan nadzomu sudah sampai mana?” tanya naila, teman sekamarnya.
Bilqis tersenyum tipis. “Sedikit lagi.”
Padahal, ia tahu, masih banyak bagian yang belum benar-benar melekat di ingatannya.
Ia tidak ingin mengeluh. Bukankah dahulu ia sendiri yang bersemangat memilih jalan ini? Bukankah ia pernah berjanji kepada orang tuanya bahwa ia akan belajar dengan sungguh-sungguh, mengaji dengan tekun, dan pulang membawa sesuatu yang membanggakan?
Namun, terkadang, antara keinginan dan kenyataan terbentang jarak yang tidak pendek.
***
Siang hari menjadi perlombaan yang lain.
Seusai kegiatan pondok, bilqis bergegas mempersiapkan diri untuk kuliah. Di dalam tasnya, buku catatan bercampur dengan kitab, lembar tugas, dan beberapa kertas berisi rancangan kegiatan sorogan. Ia melangkah cepat, takut terlambat, sembari mengulang materi yang belum sempat ia pelajari.
Di kelas, ia berusaha menyimak penjelasan dosen. Tetapi beberapa kali pikirannya terpecah oleh pesan dari teman-teman organisasi yang menanyakan perkembangan sebuah acara.
Ia ingin fokus. Sungguh, ia ingin.
Sayangnya, keinginan saja tidak selalu cukup untuk membuat segala sesuatu berjalan sesuai rencana.
Sore harinya, setelah kembali ke pondok, ia mendapati tumpukan tanggung jawab masih menunggunya. Ada kegitan yang harus dipersiapkan, catatan yang perlu dirapikan, dan hafalan yang belum juga selesai.
Bilqis duduk di sudut kamar dengan nadzom yang terbuka di pangkuan. Ia menatap jarum jam yang terus bergerak, seolah sengaja mengingatkannya bahwa waktu tidak pernah bersedia berhenti hanya karena seseorang sedang kewalahan.
“Kenapa sehari cuma dua puluh empat jam, ya?” keluhnya pelan.
Naila yang sedang melipat pakaian menoleh. “Memangnya kalau sehari empat puluh delapan jam, kamu yakin semuanya bakal selesai?”
Bilqis terdiam, lalu tertawa kecil.
“Enggak tahu. Setidaknya aku punya waktu lebih banyak buat panik.”
Mereka tertawa bersama. Sesaat, beban itu terasa lebih ringan.
Namun, begitu naila kembali sibuk dengan kegiatannya, senyum bilqis perlahan menghilang.
Ia merindukan rumah.
Ia merindukan suara mamanya yang selalu bertanya apakah ia sudah makan. Ia merindukan ayahnya yang tidak banyak bicara, tetapi selalu menyelipkan doa setiap kali mereka berpamitan. Ia merindukan masa ketika tidur cukup bukanlah kemewahan dan menyelesaikan satu pekerjaan tidak berarti harus mengorbankan pekerjaan lainnya. Bilqis pun tiba-tiba terngiang akan ucapan mamanya:
Bil, jangan lupa jaga kesehatan, ya. Makannya harus teratur, jangan sering telat. Tidurnya juga jangan terlalu malam.
Bilqis terdiam. Kalimat sederhana itu kembali terngiang di benaknya, menghadirkan sosok mama yang selalu mencemaskan keadaannya dari kejauhan. Ia teringat betapa sering dirinya melewatkan waktu makan karena tugas yang belum selesai, atau memaksakan diri tetap terjaga hingga larut malam demi mengejar hafalan dan menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk.
Ia menunduk, menatap buku-buku yang berserakan di hadapannya. Ada begitu banyak hal yang ingin ia tuntaskan, begitu banyak tanggung jawab yang takut ia abaikan. Namun, di tengah kesibukan mengejar semuanya, ia justru kerap melupakan satu hal yang juga perlu dijaga: dirinya sendiri.
Matanya mulai terasa panas. Bukan semata-mata karena lelah, melainkan karena ia baru menyadari betapa tulus ibunya mengkhawatirkan hal-hal kecil yang sering ia anggap sepele. Di tengah segala tuntutan yang ingin ia penuhi, masih ada seseorang yang tidak mengharapkannya menjadi sempurna. Seseorang yang hanya ingin ia tetap sehat, makan dengan teratur, dan memiliki cukup waktu untuk beristirahat.
Air matanya jatuh perlahan. Malam itu, Bilqis merindukan rumah bukan hanya tempat untuk pulang, melainkan tempat di mana ia tidak perlu terlihat kuat setiap saat. Tempat di mana kelelahan tidak harus disembunyikan dan air mata tidak perlu dijelaskan.
Tidak semua lelah mampu dijelaskan dengan kata-kata. Ada kesedihan yang bahkan sulit diberi nama, sebab seseorang terlalu sibuk bertahan hingga lupa bagaimana caranya mengakui bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.
Malam itu, Aisyah menangis tanpa suara. Bukan karena ia menyesali pilihannya menjadi santri, melainkan karena ia takut tidak mampu menjalani semua yang telah dipercayakan kepadanya.
Ia takut mengecewakan orang tua. Takut tertinggal dari teman-temannya. Takut dianggap tidak bertanggung jawab. Dan yang paling menyakitkan, ia takut bahwa semua usahanya ternyata tidak cukup.
***
Keesokan harinya, sesuatu berubah.
Bukan jadwal pondok yang mendadak longgar. Bukan tugas kuliah yang tiba-tiba menghilang. Bukan pula organisasi yang berhenti membutuhkan bantuannya.
Yang berubah adalah cara bilqis memandang waktunya sendiri.
Pagi itu, ia membuka sebuah buku kecil dan menuliskan seluruh kewajibannya. Ia memberi tanda pada pekerjaan yang harus segera diselesaikan, menyisihkan waktu khusus untuk hafalan, dan mengatur kembali kegiatan yang selama ini ia kerjakan tanpa perencanaan.
Ia mulai belajar mengatakan bahwa dirinya tidak sanggup mengambil semua amanah sekaligus. Ia belajar meminta bantuan ketika diperlukan, bukan menunggu sampai kelelahan membuatnya kehilangan arah. Ia pun mulai memahami bahwa beristirahat bukanlah bentuk kemalasan, melainkan cara menjaga dirinya agar tetap mampu berjuang.
Tidak semua rencananya berjalan sempurna. Ada hafalan yang masih harus diulang, tugas yang membutuhkan waktu lebih lama, dan hari-hari ketika tubuhnya kembali terasa letih.
Tetapi kali ini, ia tidak lagi menghukum dirinya sendiri setiap kali sesuatu berjalan di luar rencana.
Ketika gagal memenuhi target, ia memperbaikinya. Ketika merasa lelah, ia mengambil jeda. Ketika pikirannya mulai dipenuhi kecemasan, ia mengingat kembali alasan mengapa dahulu ia memilih jalan ini.
Ia tidak ingin sekadar terlihat sibuk. Ia ingin benar-benar bertumbuh.
Pada suatu malam, setelah menyelesaikan tugas kuliah dan mengulang hafalan nadzom secukupnya, bilqis duduk dipojok lorong. Dari kejauhan terdengar suara santri yang sedang murajaah, disertai angin yang yang berhembus dengan tenang. Ia memandangi buku catatannya. Masih ada beberapa hal yang belum selesai.
Akan tetapi, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak merasa perlu menangisi semuanya.
Ia menengadahkan tangan, berdoa dengan suara lirih.
“Ya Allah, ajari aku menggunakan waktuku dengan baik. Jangan biarkan kesibukanku membuatku lupa pada tujuan. Jangan biarkan lelahku menjauhkan aku dari-Mu. Dan kalau suatu hari aku merasa tidak sanggup, ingatkan aku bahwa aku tidak harus berjalan sendirian.”
Doa itu sederhana, tetapi ada ketenangan yang perlahan tumbuh di dalam dadanya.
Bilqis akhirnya mengerti: waktu tidak pernah menjanjikan bahwa semua urusan akan selesai dalam sehari. Waktu hanya memberikan kesempatan untuk memilih, berusaha, dan memperbaiki diri.
Seorang santri bukanlah manusia yang tidak pernah lelah. Ia juga bisa menangis, merasa tertinggal, bahkan kehilangan semangat. Namun, dari setiap kelelahan itu, ia belajar mengenali batas dirinya, menata prioritas, dan kembali melangkah dengan niat yang lebih jernih.
Malam semakin larut. Bilqis menutup nadzomnya, merapikan tempat tidurnya, lalu bersiap untuk beristirahat. Esok, beribu kewajiban mungkin kembali menunggunya. Akan ada jadwal yang padat, hafalan yang perlu dijaga, dan tanggung jawab yang harus ditunaikan.
Tetapi kini ia tahu, ia tidak perlu menaklukkan semuanya sekaligus.
Cukup satu langkah hari ini, satu doa malam ini, dan satu tekad untuk kembali berusaha esok pagi.
Sebab pada akhirnya, hidup di pesantren bukan tentang siapa yang paling sibuk atau siapa yang paling sedikit mengeluh. Ia adalah perjalanan panjang untuk belajar mengabdi tanpa kehilangan diri, berjuang tanpa melupakan kesehatan, dan mengejar cita-cita tanpa melepaskan Tuhan dari hati.
Bilqis memejamkan mata dengan senyum kecil.
Di luar sana, jarum jam terus bergerak. Waktu tetap berlari, seperti biasanya.
Namun, untuk pertama kalinya, ia tidak lagi merasa sedang dikejar olehnya.
Ia sedang belajar berjalan bersamanya.
Oleh: Soraya