Dulu, ketika orang tua kita mulai mengenalkan Tuhan dan ilmu-ilmu agama, tidak jarang timbul segelintir rasa penasaran dan pertanyaan-pertanyaan dari bocah kecil kala itu: “Sebenarnya, siapa sih Allah itu? Ngapain kita harus selalu ingat kepada-Nya, padahal kenal saja enggak? Bahkan, tampak oleh mata juga enggak.”
Sebenarnya, pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak sepenuhnya dapat disalahkan. Sebab, secara logika, hal itu memang masuk akal. Sesuatu yang tidak kita tahu, tidak kita kenal, dan tidak tampak oleh pandangan mata, mengapa harus selalu kita ingat dan menjalankan apa yang Dia perintahkan?
Akan tetapi, mungkin persoalannya tidak sesederhana sesuatu yang bisa dilihat atau tidak bisa dilihat. Sebab, bagaimana mungkin kita bisa mengenal sesuatu yang bahkan belum pernah kita coba cari tahu lebih dalam?
Padahal, kunci untuk dapat mengenal, atau biasa disebut ma’rifat kepada Allah Ta’ala, ada pada tempat yang paling dekat dengan diri kita sendiri.
Iya, mengenal diri kita sendiri.
Nabi Muhammad Saw. bersabda:
مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ
“Siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”
Kalau kita lihat, memang sesederhana itu. Hanya dengan mengenal diri kita sendiri, sudah bisa mengenal Tuhan kita. Tapi, benarkah mengenal diri itu sesederhana mengetahui siapa nama kita, berapa umur kita, apa kesukaan kita, atau seperti apa fisik kita?
Ternyata tidak.
Ketika ada orang yang mengatakan, «إِنِّي أَعْرِفُ نَفْسِي», “Sesungguhnya aku telah mengenal siapa diriku,” maka sebenarnya ia mungkin baru mengenali dirinya secara fisik dan lahiriah, tetapi belum sampai mengenal sisi batiniahnya.
Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Kimyaus Sa’adah menggambarkan sisi batiniah manusia melalui berbagai dorongan yang ada dalam dirinya. Ketika kita ingin marah, misalnya, muncul dorongan untuk membuat permusuhan. Ketika memiliki hasrat, muncul keinginan untuk memenuhinya. Ketika lapar, kita ingin makan, dan sebagainya.
Lalu, bagaimana cara kita mengenal diri kita sendiri?
Caranya, kita harus mengenali diri kita secara hakikat, tidak hanya sekadar mengenal secara lahiriah. Dengan begitu, kita mulai bertanya: Siapa kita? Untuk apa kita diciptakan? Dari mana kita berasal? Dengan sebab apa kita mendapatkan kebahagiaan? Dan karena apa kita bisa merasa susah?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, jika kita benar-benar memikirkannya, ternyata jawabannya tidak sesederhana itu.
Menariknya, Imam Al-Ghazali juga menjelaskan bahwa di dalam dimensi batiniah manusia terdapat beberapa sifat. Di antaranya, sifat hewan, sifat binatang buas, sifat setan, dan sifat malaikat.
Coba kita lihat diri kita sendiri.
Ketika lapar, kita ingin makan. Ketika memiliki hasrat, kita ingin memenuhinya. Ketika marah, terkadang kita ingin membalas. Ketika merasa ada yang menyaingi, muncul keinginan untuk menjauhinya. Semua itu merupakan bagian dari dorongan yang ada dalam diri manusia.
Namun, di sisi lain, manusia juga memiliki kemampuan untuk menahan diri dari semua itu. Kita bisa memilih untuk memaafkan ketika sebenarnya kita mampu membalasnya. Kita masih bisa mengendalikan emosi. Kita bisa meninggalkan sesuatu yang kita inginkan karena sadar bahwa hal tersebut tidak baik bagi kita. Kita juga masih bisa beribadah, merasa menyesal setelah melakukan hal-hal yang kurang baik, bahkan terkadang menangis karena merasa belum mampu menjadi hamba yang taat.
Bukankah menarik?
Hanya dalam satu diri, ternyata ada begitu banyak kecenderungan yang saling tarik-menarik.
Di sinilah manusia menjadi makhluk yang begitu kompleks.
Sifat-sifat tersebut tergambar dari tindakan makan, minum, berbuat buruk, dan berbagai kecenderungan lain yang terkadang kita lakukan. Hal-hal tersebut juga menjadi bagian dari dorongan yang terdapat pada sifat hewani dan setani dalam diri manusia.
Sedangkan, kebahagiaan malaikat adalah menyaksikan keindahan hadirat Allah. Tidak ada celah bagi sifat amarah dan nafsu untuk menguasai malaikat.
Lalu, di sini kita bisa mulai bertanya: Sebenarnya, siapa aku?
Apakah aku hidup hanya untuk makan, minum, tidur, dan mencari kesenangan? Atau ada sesuatu yang lebih dalam dari itu? Mengapa kita bisa merasakan berbagai perasaan—marah, sedih, bahkan cinta? Dan yang paling penting, setelah seluruh perjalanan hidup ini selesai, ke mana aku akan kembali?
Mungkin, mengenal diri bukan sekadar berdiri di depan cermin dan berkata kepada diri sendiri, “Ini aku.”
Mengenal diri berarti berani melihat apa yang ada di balik diri kita sendiri. Sebab, ketika sudah benar-benar mengenal diri, kita juga mulai menyadari segala keterbatasan yang kita miliki.
Kalau begitu, siapa sebenarnya kita?
Kita bukan pemilik mutlak atas diri kita sendiri. Kita adalah makhluk yang diciptakan, yang memiliki banyak kebutuhan, dan yang pada ujung ceritanya akan kembali kepada Sang Pencipta. Dari sinilah, pengenalan terhadap diri dapat menjadi jalan menuju ma’rifatullah.
Bukan berarti ketika kita mengenal diri, kita otomatis mengenal Tuhan kita. Namun, semakin dalam kita mengenali kelemahan dan keterbatasan diri, semakin kita menyadari bahwa ada Dzat Yang Mahakuasa di balik keberadaan kita di dunia ini.
Bayangkan saja, jika kita sudah bisa mengenal Sosok yang memegang kendali atas diri kita dan seluruh keajaiban alam yang kita tempati. Pasti rasanya seperti kenikmatan dan kebahagiaan yang tidak mampu kita gambarkan dengan imajinasi.
Sebagaimana Imam Al-Ghazali menjelaskan:
“Semua kenikmatan nafsu dunia berhubungan dengan raga dan akan lenyap dengan kematian. Sementara kenikmatan pengetahuan tentang Tuhan berhubungan dengan hati, sehingga tidak akan hilang dengan kematian, karena hati tidak binasa oleh kematian. Bahkan, kenikmatannya akan lebih besar dan cahayanya akan lebih terang, karena ia telah keluar dari kegelapan menuju cahaya.”
Mari bersama-sama mulai menyadari dan berani melihat lebih dalam kepada diri kita sendiri, lalu bertanya: “Sebenarnya, siapa aku?”
Sebab, mungkin selama ini kita hanya sibuk mencari kebahagiaan yang akan hilang bersama dunia. Padahal, ada kebahagiaan yang tiada tara dan tidak ikut hilang. Ia tinggal di hati dan membawa kita kembali kepada-Nya.
Wallahu a’lam.