Sungguh sebuah kabar yang membahagiakan bagi setiap wali santri, bahkan bagi sang santri itu sendiri, saat mendengar kenyataan bahwa jadwal sambangan pertama telah tiba.
Setelah bersusah payah menahan sedih yang berlarut dan rindu yang tak pernah surut selama 40 hari pertama mencicipi jarak perpisahan, pondok pesantren akhirnya memberi ruang manis untuk sebuah pertemuan dalam tajuk “Sambangan Pertama”.
Berbeda dengan momen pelepasan saat memasuki pondok yang diliputi kesedihan, sambangan kali ini jelas berbalut suka cita dan kebahagiaan. Hambur pelukan, tebar senyuman, berbincang dan bercanda, hingga kudapan masakan rumah yang selalu dinantikan. Semuanya menjadi bagian dari sebuah pertemuan yang telah lama dirindukan.
Sambangan memang selalu memiliki makna dan romansanya tersendiri.
Namun, sedikit menepi dari hiruk-pikuk romansa, sejatinya sambangan adalah sesuatu yang temporer. Pertemuan itu memiliki batas waktu. Ada saat ketika orang tua harus kembali pulang dan sang anak kembali menetap di pondok. Dan kebahagiaan yang sepenuhnya bersandar pada sesuatu yang temporer akan mudah menjadi rapuh, ringkih, dan kering ketika pertemuan itu berakhir. Sedih akan tetap menjadi sedih. Rindu akan tetap menjadi rindu.
Dengan ini, lantas bagaimana cara kita menyikapi sambangan?
Kesuksesan dan keberhasilan dalam usaha mencari ilmu tidak terlepas dari tiga aspek peran: guru, orang tua, dan sang santri. Ketiganya harus bersinergi dan sama-sama berusaha.
Guru berusaha dengan mengajar dan mendidik. Orang tua berusaha dengan memberikan dukungan, termasuk dalam hal finansial dan biaya pendidikan. Sementara sang santri berusaha dengan semangat, kesungguhan, dan ketekunan dalam belajar.
Hingga, satu hal yang tak kalah penting adalah doa.
Doa bukan hanya bentuk perwujudan dari keinginan dan harapan baik. Lebih dari itu, doa adalah bentuk usaha penguatan batin yang menjembatani mereka yang terpisah satu sama lain.
Dikatakan:
الدعاء سلاح المؤمن
“Doa adalah senjatanya orang mukmin.”
Senjata bagi mereka yang terus berharap. Senjata bagi mereka yang terus berusaha. Senjata bagi mereka yang terpisah oleh jarak, terbentang oleh waktu, dan terbelenggu oleh rindu.
Terlebih subjek dalam momentum sambangan ini adalah orang tua dan anak. Doa masing-masing keduanya sangat berarti.
Sebagai orang tua, bekal yang paling penting bagi sang anak bukan hanya makanan, uang saku, atau kebutuhan sehari-hari. Lebih dari itu, ada doa yang senantiasa dipanjatkan untuk kebaikan dan keberhasilan sang anak.
Sebab, doa orang tua untuk anaknya memiliki keutamaan yang besar. Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a., Nabi Muhammad Saw. bersabda:
ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ لَا تُرَدُّ: دَعْوَةُ الْوَالِدِ، وَدَعْوَةُ الصَّائِمِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ
“Ada tiga doa yang tidak tertolak: doa orang tua, doa orang yang berpuasa, dan doa orang yang sedang safar.” (HR. Al-Baihaqi).
Dalam redaksi hadis yang lain disebutkan:
ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ
“Ada tiga doa yang mustajab tanpa diragukan lagi: doa orang yang terzalimi, doa orang yang sedang safar, dan doa orang tua kepada anaknya.” (HR. At-Tirmidzi).
Dalam Faidul Qadir dijelaskan:
أي: الأصل لفرعه؛ (كدعاء النبي لأمته)؛ في كونه مقبولا قبولا حسنا؛ غير مردود (دعاء الوالد لولده)
“Doa orang tua untuk anaknya, yakni doa orang yang menjadi asal kepada cabangnya (orang tua kepada anak); seperti doa Nabi untuk umatnya, dalam hal bahwa doa tersebut diterima dengan penerimaan yang baik dan tidak ditolak.”
Pun begitu pula dari sisi sang anak. Doa anak kepada orang tua tidak kalah penting dan utama. Jika orang tua menitipkan harapan kepada Allah melalui doa-doanya untuk sang anak, maka sang anak pun semestinya tidak lupa menitipkan kedua orang tuanya kepada Allah dalam setiap doanya.
Sebab, pada akhirnya, sambangan bukan sekadar tentang bertemunya dua orang yang saling merindu. Ia adalah kesempatan untuk kembali menguatkan alasan mengapa sang anak berada di pondok, mengapa orang tua rela melepasnya, dan untuk apa jarak serta rindu itu harus dijalani.
Pertemuan boleh berakhir. Pelukan boleh dilepaskan. Masakan rumah boleh habis. Bahkan sambangan pun akan selesai dan orang tua kembali pulang.
Tetapi ada sesuatu yang tidak harus ikut pulang bersama mereka: doa.
Doa orang tua tetap menyertai langkah anaknya di dalam pondok. Doa sang anak tetap mengiringi orang tuanya di rumah. Guru terus mendidik, orang tua terus mendoakan, dan santri terus berjuang.
Barangkali, demikianlah cara terbaik menyikapi sambangan: menikmati pertemuannya, tetapi tidak menggantungkan kebahagiaan kepadanya. Menuntaskan rindunya, tetapi tidak berhenti pada kerinduannya. Sebab setelah pertemuan usai, masih ada perjuangan yang harus diteruskan dan doa yang harus terus dipanjatkan.
Sambangan pertama boleh menjadi akhir dari penantian 40 hari. Tetapi semoga ia sekaligus menjadi awal dari kesungguhan yang lebih panjang dalam perjalanan mencari ilmu.