web analytics

Jangan Berhenti Berharap pada Rahmat Allah

0 0
Read Time:3 Minute, 7 Second

Kediri, Elmahrusy Media — (09/22) Kali ini Tim Elmahrusy Media meliput sebuah perayaan Haul Akbar Syekh Abdul Qadir Al-Jailani yang berada di Pondok Pesantren Darul Ubudiyah Raudlatul Muta’allimin Semampir, Surabaya. Diawali dengan melaksanakan salat Magrib dan Isya berjamaah, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.

Perayaan Haul Akbar kali ini berbeda dengan biasanya. Hal ini disebabkan peserta haul sendiri bukan hanya dari kalangan santriwan dan santriwati, melainkan jamaah dari luar pondok pesantren yang turut meramaikannya. Ketika tim kami datang dengan sebuah angkutan umum setelah sebelumnya menaiki bus, kami telah melihat arus deras dari beberapa jamaah non-pondok pesantren yang ikut meramaikan Haul Akbar tersebut.

Adapula dari masing-masing jamaah yang telah datang saat waktu salat Zuhur tiba. Kemudian, semakin gelapnya hari, kami melihat arus yang semakin ramai dipadati oleh jamaah non-pondok pesantren serta para santriwan dan santriwati yang bersiap untuk mengikuti perayaan haul tahun ini.

Dalam perayaan Haul Akbar kali ini, Habib Musthofa bin Umar Alaydrus menuturkan bahwa seorang ulama yang benar-benar menjadi penerus Rasulullah bukan hanya seorang yang tekun beribadah kepada Allah, banyak berpuasa, ataupun bersedekah. Lebih dari itu, seorang ulama juga mampu merangkul masyarakat untuk kembali ke jalan yang benar serta memuliakan orang lain dengan rasa cinta dan kasih sayang (rahmat) kepada seluruh makhluk-Nya.

Beliau juga menjelaskan mengenai rahmat Allah yang diturunkan ke bumi sebanyak seratus bagian. Dari seratus rahmat tersebut, hanya satu yang diturunkan ke dunia sehingga manusia dapat saling menyayangi dan berbuat baik kepada sesama makhluk. Sementara itu, sembilan puluh sembilan rahmat lainnya Allah simpan untuk diberikan kepada makhluk-Nya kelak.

Beliau kemudian menyampaikan sebuah kisah mengenai seseorang yang sedang menjalani hisab. Orang tersebut memiliki amal yang separuhnya baik dan separuhnya buruk sehingga berada dalam keadaan yang tidak dapat masuk ke surga maupun neraka. Di sisi lain, terdapat seseorang yang seluruh amalnya buruk dan hanya memiliki satu kebaikan.

Orang yang memiliki satu kebaikan tersebut kemudian melihat orang di sebelahnya dan merasa kasihan. Ia mengetahui bahwa orang tersebut hanya membutuhkan satu kebaikan agar dapat masuk ke surga. Karena merasa iba, ia kemudian berkata kepada Allah agar satu kebaikan yang dimilikinya diberikan kepada orang tersebut meskipun dirinya sendiri akan masuk ke dalam neraka.

Namun, Allah menunjukkan keluasan rahmat dan kemurahan-Nya. Allah memberikan ampunan kepada keduanya dan memasukkan mereka ke dalam surga. Dari kisah tersebut, Habib Musthofa mengajak para jamaah untuk senantiasa berharap kepada rahmat Allah.

Rahmat tersebut juga tercermin dalam diri Nabi Muhammad saw. Beliau menjelaskan bahwa Rasulullah merupakan teladan dalam menunjukkan sifat rahmat, kemuliaan, dan kedermawanan. Bahkan, Rasulullah pernah menangis ketika membaca ayat yang berisi doa Nabi Isa untuk kaumnya, yang bermakna bahwa apabila Allah menyiksa mereka, mereka adalah hamba-Nya, dan apabila Allah mengampuni mereka, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Menurut beliau, warisan rahmat tersebut terus berjalan dari Nabi Muhammad saw. kepada para ulama. Salah satunya adalah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani rahimahullah. Dalam manaqib yang dibacakan, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani disebut memiliki perhatian terhadap umat hingga mendoakan orang-orang yang melewati madrasahnya agar diringankan azab dan hisabnya pada hari kiamat.

Oleh karena itu, beliau mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa mengharapkan rahmat Allah. Sebab, bukan semata-mata salat, puasa, ataupun sedekah yang menjadi sandaran seorang hamba, melainkan rahmat Allah yang diharapkan dapat menyelamatkan manusia di akhirat.

Beliau juga mengingatkan bahwa manusia memiliki banyak kekurangan dan dosa. Oleh sebab itu, sudah semestinya manusia senantiasa memohon ampunan dan rahmat kepada Allah Swt. serta berharap agar rahmat tersebut dapat dibawa pulang dari majelis ini kepada keluarga dan kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, beliau mengajak jamaah untuk memohon kepada Allah agar diberikan rahmat, ampunan, serta keselamatan di dunia dan akhirat. Dengan rahmat Allah, diharapkan umat dapat memperoleh pertolongan-Nya dan dikumpulkan bersama Nabi Muhammad saw. kelak di akhirat.

Wallahu a’lam.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Buya Kafa Menyampaikan Keutamaan Sholawat dan Takwa

Buya Kafa Menyampaikan Keutamaan Sholawat dan Takwa

Perkuat Kemandirian Pers Santri Kediri, Pelatihan Produksi dan Monetisasi Media Massa Multiplatform

Perkuat Kemandirian Pers Santri Kediri, Pelatihan Produksi dan Monetisasi Media Massa Multiplatform

Mendedah Rahasia di Balik “Kesaktian” Pancasila

Mendedah Rahasia di Balik “Kesaktian” Pancasila

Studi Banding Madin Putri PP. Sunan Drajat di PP. HM Al-Mahrusiyah Lirboyo

Studi Banding Madin Putri PP. Sunan Drajat di PP. HM Al-Mahrusiyah Lirboyo

Semarak Haul Akbar Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani di Pondok Pesantren Darul Ubudiyah

Semarak Haul Akbar Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani di Pondok Pesantren Darul Ubudiyah

Gus Izzul: “Wa Bil Ilmi Intafa’a, Wa Bil Khidmati Irtafa’a!”

Gus Izzul: “Wa Bil Ilmi Intafa’a, Wa Bil Khidmati Irtafa’a!”