web analytics

Qasidah Burdah: Ekspresi Cinta dan Keberkahan Sholawat

0 0
Read Time:2 Minute, 45 Second

Khazanah sastra Islam tentu mengenal madaih nabawiyah, yaitu tradisi sastra yang berisi pujian dan penghormatan kepada Rasulullah SAW. Terdapat beberapa karya yang masyhur di kalangan umat Islam, di antaranya seperti maulid simtudhuror karya Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi merupakan bait-bait mulia yang terlahir karena cinta. Begitu pula Qasidah Burdah karya Imam Bushiri pun juga memiliki sejarah filosofis dibalik penamaannya dengan istilah burdah yang berarti “selimut”.

Berdasarkan catatan sejarah, pada saat penyusunan syair Burdah Imam Bushiri dalam keadaan sakit dengan setengah dari tubuh beliau dalam kondisi lumpuh. Kondisi fisik yang kian terbatas tidak mampu memupuskan semangat beliau dalam mengekspresikan cintanya kepada Nabi dalam syair-syair pujian. Secara tidak langsung Qasidah Burdah terlahir sebab cinta dan diselesaikan dengan kekuatan dan keberkahan dari cinta.

Pada saat proses penyusunan qasidah tersebut sampai pada bab tiga, Imam Bushiri tidak dapat melanjutkan karyanya sebab kondisi tubuhnya yang semakin tidak memungkinkan. Dalam istirahatnya Imam Bushiri bermimpi disambangi oleh baginda Nabi, sehingga beliau berkesempatan untuk membacakan syair pujian yang beliau karang, hingga berhentilah pada bab tiga yang belum sempat beliau selesaikan.

Dikisahkan bahwa Nabi Muhammad senang mendengar pujian yang dilantunkan oleh Imam Bushiri sehingga beliau pun dengan mukjizatnya mengusap tubuh Imam Bushiri yang lumpuh dan memakaikan padanya jubah untuk menyelimuti tubuhnya. Kemudian kanjeng Nabi juga melanjutkan penggalan qasidah yang belum selesai dikarang untuk menyempurnakan bait yang masih rumpang. Bait tersebut berbunyi,

فَمَبْلَغُ الْعِلْمِ فِيْهِ أَنَّهُ بَشَرٌ ۞ وَأَنَّهُ خَيْرُ خَلْقِ اللهِ كُلُّهِمِ

Puncak pengetahuan tentang beliau (Nabi Muhammad SAW) adalah bahwa beliau merupakan seorang manusia, dan bahwa beliau adalah sebaik-baik makhluk Allah diantara seluruhnya.

Ketika Imam Bushiri sudah bangun dari tidurnya beliau terkejut dan bersyukur mendapati tubuhnya tidak lagi lumpuh bahkan sembuh total. Kemudian ketika beliau keluar rumah beliau bertemu dengan salah seorang tetangganya yang menanyakan terkait syair pujian, Imam Bushiri pun terkejut dan terheran. Bagaimana bisa tetangganya mengetahui tentang syair itu? Sementara Ia pada mulanya hanya ingin menulis syair untuk mengekspresikan cintanya saja. Masyaallah.

Berawal dari peristiwa inilah syair burdah dianggap dapat menjadi wasilah dalam mendatangkan keberkahan terlebih sebagai penyembuh dari segala macam penyakit, tidak lain adalah dengan wasilah kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW. Hal ini membuktikan bahwa Nabi Muhammad adalah sosok paling tepat sebagai objek cinta kita. Untuk itu mari kita perbanyak membaca sholawat, karena dengan membaca sholawat kita akan dikenal oleh baginda, dan dengan sholawat kita bisa menumbuhkan cinta kita kepada baginda Nabi. Sebab, hanya Nabi Muhammad yang bisa memberi syafaat kepada seluruh ummat.

Sebagai seorang santri, memperbanyak sholawat merupakan bagian dari ikhtiar untuk memperoleh keberkahan dalam menuntut ilmu. Namun, sebagai seorang muslim tidak sepatutnya merasa cukup dengan amal yang telah dilakukannya. Sholawat, doa, dan amal saleh tetap perlu disertai kerendahan hati, pengharapan kepada Allah Swt., serta kecintaan kepada Rasulullah SAW. Semoga melalui kecintaan dan keberkahan sholawat, kita memperoleh syafaat Rasulullah SAW. kelak di hari akhir.

Apapun jenis sholawatnya baik dengan niat ataupun tidak tetap akan dihitung ibadah dan bernilai pahala. Perbanyak sholawat supaya dapat syafaat. Sebab seandainya tanpa sholawat, apakah kalian yakin amal yang kalian lakukan dapat menyelamatkan di hari kiamat? Yakinkah kalian bahwa dosa kita tidak lebih sedikit dari amal kebaikan yang kita lakukan? Silahkan direnungi, lalu baca sholawat Nabi!

Wallahu a’lam.

About Post Author

Alifia Azzahra

Santri Mahrusy, pengemis syafaat Nabi asal kediri
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Santri Mahrusy, pengemis syafaat Nabi asal kediri

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Ngaji Syamail: Meninggalkan Keburukan sebagai Jalan Menuju Kesalehan

Ngaji Syamail: Meninggalkan Keburukan sebagai Jalan Menuju Kesalehan

Cerita Gus Baha’ uddin Pada Haul 15 Kiai Imam Yahya Mahrus Tentang Yai Imam

Cerita Gus Baha’ uddin Pada Haul 15 Kiai Imam Yahya Mahrus Tentang Yai Imam

Mengenal Tujuan Maqosid As Syari’ah

Mengenal Tujuan Maqosid As Syari’ah

Apakah Niat Kita Telah Ideal dan Ikhlas di Tengah Kompleksitas

Apakah Niat Kita Telah Ideal dan Ikhlas di Tengah Kompleksitas

Ilmu Apa yang Wajib Dicari?

Ilmu Apa yang Wajib Dicari?

Belajar Adab Al-Qur’an dari Kitab Tibyan Imam Nawawi

Belajar Adab Al-Qur’an dari Kitab Tibyan Imam Nawawi