Pada haul 15 kali ini, terasa cukup isitimewa karna pada Mauidhotul Hasanah mengundang KH Baha’udin Nursalim yang terkenal dengan ke dalaman ilmunya. Pada awal mauidhotul hasanah/ceramah, beliau menyampaikan terkait hubungan Mbah Imam atau Yai Imam, pada keluarga Mbah Zubair atau Mbah Maimoen. KH Baha’udin atau Gus Baha’ menyampaikan bahwa Mbah Imam atau Yai Imam itu memiliki sumbangsih pada berdirinya pondok Al Anwar, karna dulu Mbah Zubair ingin Mbah Moen itu menjadi sosok Kiai juga. Pada saat Kiai Imam di sarang, tepatnya di tempatnya Mbah Zubair, Mbah Zubair menyuruh Kiai Imam untuk menempati tempatnya atau pondoknya Mbah Maimoen, dulu itu namanya belum Al-Anwar, tapi Pohama.
Maka dari itu Mbah Imam itu terkenang sebagai sebab berdirinya pondoknya Mbah Maimoen atau Pondok Al Anwar. Selain itu beliau juga menjelaskan tentang perbedaan makna kitab Mbah Zubair dan Mbah Maimoen dengan Mbah Abdul karim. Menurut Gus Baha’ yang di dapatkan dari Mbah Maimoen, Makna kitab Mbah Abdul Karim itu lebih visioner. Sedangkan Mbah Zubair atau Mbah Maimoen itu maknanya lebih jelas atau tahqiq. Tetapi Gus Baha’ tidak mempermasalahkan hal itu, karna menurut beliau dhomir atau makna itu dinamais. Karna menurut Gus Baha’ yang di dasarkan pada kitab tafsir yang muktabar, bahwa makna itu nanti tetap pada siapa yang bisa berpandangan. Beliau juga menambahkan, bahwa dalilnya atau ciri khas Mbah Abdul karim pada makna kitab itu adalah “Ad domir fi domir faman lam ya’rif fi domir falaisa lahu domir”.
Selain itu beliau menjelaskan pengalaman beliau saat Ngaji di puasanan di Lirboyo, kala itu menemani Gus kamil, Putra Mbah Maimoen. Dengan ciri khas ceramah candaan beliau, beliau menyampaikan bahwa “ Dulu itu saya ngaji Posonan di Lirboyo menemani Gus Kamil, selama 21 hari dan saya ngaji hanya dua hari, saya masih ingat waktu itu ngaji dengan Mbah Imam yang beliau kaji kalau gak salah kitab Mutamimmah atau apa, karna waktu itu ngajinya habis shubuh, sedangkan saya habis shubuh itu tidur, dan yah katanya orang-orang tidur habis shubuh itu bisa fakir, makanya saya menjadi kiai yang tidak terlalu kaya” ucap beliau sambil tertawa.
Beliau juga melanjutkan “Saya masih ingat pada saat itu Mbah Imam menjelaskan pada Bab Tamyiz, menurut Mbah Imam, pokok e lek moni apane, berarti kuwi tamyiz”. Gus baha’kembali tertawa canda pada saat menyampaikan hal itu. Karna menurut beliau Mbah Imam atau Kiai Imam, memang memiliki karakter yang suka bercanda atau guyonan.
Terlepas dari cerita tadi, Gus Baha’ juga menceritakan terkait kedekatan beliau dengan Mbah Imam. Karna menurut Gus Baha’, kelurga beliau, Mbah Zubair dan Mbah Maimoen itu memang sangat dekat dengan Mbah Imam. Karna pada saat di sarang yang menjadi penderek Mbah Imam ya Gus Baha’. Terlepas penjelasan dan cerita tadi, beliau sambung dengan hal lain yang ilmiah, dan tak lupa beliau menggojlok atau membercandai Gus Reza, karna sebelumnya Gus Reza yang menggojlok Gus Baha’. Memang karakter Gus Baha’ adalah suka bercanda. Setelah beliau ceramah, Gus Baha’pun di amanahi untuk membacakan Do’a, walaupun toh sebelumnya sempat menolak, karna mungkin sifat tawadhu’ beliau.