web analytics

Ekspresi Cinta pada Nabi Boleh Beragam, Asal Tak Mengultuskan

0 0
Read Time:3 Minute, 48 Second

Bagaimana umat Islam mengartikulasikan kecintaannya kepada Rasulullah SAW? Tentu sangat beragam. Ada yang melantunkan pujian, ada yang menajamkannya melalui kajian, ada yang mengabadikannya dalam bentuk tulisan, ada pula yang menerjemahkannya dalam wujud keteladanan.

Perbedaan medium tersebut tidak serta-merta menunjukkan perbedaan kadar mahabbah. Sebagaimana dawuh KH. Baha’uddin Nursalim dalam acara Haul KH. Imam Yahya ke-15, “Seneng Nabi iku macem-macem. Ono model kados Habib Ahmad, kados Sayyid Ali sing ngarang Simtudduror, macem-macem. Tapi yo banyak Ulama’ sing seneng Nabi itu pakai logika. Itu nggak kalah hebatnya, kados shohibul Ihya’. (Mencintai Nabi itu memiliki cara yang beragam. Ada yang seperti Habib Ahmadmengekspresikannya melalui sholawat, ada yang seperti Sayyid Ali pengarang Simtudduror, (ekspresinya) beraneka ragam. Tapi banyak juga Ulama’ yang mencintai Nabi menggunakan logika, dan itu tidak kalah hebatnya seperti Shohibul Ihya’yaitu Imam Ghozali pengarang kitab Ihya’ Ulumuddin).

Mahabbah tidak hanya satu wajah, Bisa saja tampak melalui suara, sastra, rasa, etika, atau tersembunyi dalam karsa. Diversity of expression tersebut merupakan bentuk keluasan pandangan, bukan sesuatu yang perlu dipertentangkan. Ingat, jangan sampai “Ana khoirun minhu” tumbuh lantaran melihat perspektif yang berbeda darimu.

Dalam kesempatan yang sama, KH. Baha’uddin Nursalim mengajarkan cara mencintai Nabi Muhammad SAW ala Sayyid Muhammad bin Muhammad Al-Husaini Al-Murtadho Az-Zabidi. Beliau merupakan mushonnif kitab Ithafus Sadatil Muttaqin bi-syarhi Ihya’ Ulumuddin. Cara pandang beliau terhadap lafadz sholawat sebagai berikut:

اللهُ هُوَ الْمُعْطِيْ وَالنَّبِيُّ هُوَ إِنْ جَلَّ قَدْرُهُ مُحْتَاجٌ إِلَى رَحْمَتِهِ تَعَالَى

Allah adalah الْمُعْطِي (Al-Mu‘thi), Dzat Yang Maha Memberi. Sedangkan Nabi Muhammad SAW—وَإِنْ جَلَّ قَدْرُهُ مُحْتَاجٌ إِلَى رَحْمَتِهِ تَعَالَى (meskipun sangat tinggi dan agung kedudukannya), beliau tetap membutuhkan rahmat Allah SWT.

Dengan demikian, terdapat إِثْبَاتُ الْأُلُوهِيَّة: menetapkan bahwa Allah adalah Tuhan, Al-Mu‘thi, satu-satunya Dzat yang memberi. Sekaligus terdapat إِثْبَاتُ الْبَشَرِيَّةِ: menetapkan sisi kemanusiaan Nabi SAW, bahwa beliau tetap sebagai ‘abd (hamba) yang membutuhkan Allah SWT.

“Dadi, Nabi ne yo tetep TOP sebagai basyar, Allah e tetep TOP sebagai Al-mu’thi.” Tutur KH. Baha’uddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha’. Beliau menjelaskan bahwa sholawat merupakan shighot yang menunjukkan kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW. Namun, pada saat yang sama, sholawat juga mengandung penegasan tauhid, “Shighot sholawat iku wes otomatis shighot tauhid, plus sayang nang Nabi Muhammad SAW.”

Diroyah seperti ini sangat penting agar kecintaan dan penghormatan kita kepada Nabi Muhammad SAW senantiasa berada dalam koridor yang proporsional. Sebab, sejarah memperlihatkan bagaimana penghormatan yang tidak disertai batas teologis dapat bergeser menjadi pengultusan. Nabi Isa AS, misalnya, beliau adalah utusan Allah yang sangat mulia. Namun, sebagian umatnya kemudian terjatuh pada sikap berlebihan hingga mengangkat beliau pada derajat ketuhanan. Maka dari itu, Nabi Muhammad SAW memberikan batas yang tegas dalam persoalan pujian:

لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ

“Janganlah kalian berlebihan dalam memujiku sebagaimana kaum Nasrani berlebihan dalam memuji putra Maryam.”

Kita diperbolehkan memuji Nabi Muhammad SAW, asalkan sesuai anjuran Qashidah Burdah karya Imam Al-Bushiri:

دَعْ مَا ادَّعَتْهُ النَّصَارَى فِي نَبِيِّهِمِ * وَاحْكُمْ بِمَا شِئْتَ مَدْحًا فِيهِ وَاحْتَكِمِ

وَانْسُبْ إِلَى ذَاتِهِ مَا شِئْتَ مِنْ شَرَفٍ * وَانْسُبْ إِلَى قَدْرِهِ مَا شِئْتَ مِنْ عِظَمِ

فَإِنَّ فَضْلَ رَسُولِ اللهِ لَيْسَ لَهُ * حَدٌّ فَيُعْرِبَ عَنْهُ نَاطِقٌ بِفَمِ

“Tinggalkanlah apa yang diklaim oleh kaum Nasrani terhadap Nabi mereka (Nabi Isa AS). Pujilah Rasulullah SAW dengan pujian apa pun yang engkau kehendaki, dan nisbatkan kepada beliau segala kemuliaan dan keagungan yang layak bagi kedudukan beliau. Sebab, keutamaan Rasulullah SAW tidak memiliki batas yang mampu diungkapkan sepenuhnya oleh lisan.”

Memuliakan tidak berarti mengultuskan, mengagungkan tidak berarti mempertuhankan. Di sinilah letak keindahan mahabbah Rasulullah SAW. Ekspresinya boleh beragam, namun buahnya adalah ketaatan pada Allah SWT dan kedekatan dengan Rasulullah SAW. Keduanya harus equilibrium.

Wallahu a’lam.

 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Struggle

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Cerita Gus Baha’ uddin Pada Haul 15 Kiai Imam Yahya Mahrus Tentang Yai Imam

Cerita Gus Baha’ uddin Pada Haul 15 Kiai Imam Yahya Mahrus Tentang Yai Imam

Muwadda’ah Full Barokah, Jangan Lupa Dawuh Dzurriyyah

Muwadda’ah Full Barokah, Jangan Lupa Dawuh Dzurriyyah

Puncak Harlah Asrama Darur Rosyidah Ke-24

Puncak Harlah Asrama Darur Rosyidah Ke-24

Burdah Jum’at, Rojab, dan Rahasia Bacaan Tahiyat

Burdah Jum’at, Rojab, dan Rahasia Bacaan Tahiyat

Satu Dasawarsa Pondok Pesantren Al-Misky HM Al-Mahrusiyah Lirboyo Kediri

Satu Dasawarsa Pondok Pesantren Al-Misky HM Al-Mahrusiyah Lirboyo Kediri

Pesan KH M Yusuh Chudori “Teruslah Belajar dan Melangkah Demi Kesuksesan”

Pesan KH M Yusuh Chudori “Teruslah Belajar dan Melangkah Demi Kesuksesan”