web analytics

Enam Bekal Santri Baru: Membaca Kembali Nasihat dalam Nadzom Alala

0 0
Read Time:4 Minute, 7 Second

قال الإمام الشافعي رحمه الله:

أَلَا لَا تَنَالُ الْعِلْمَ إِلَّا بِسِتَّةٍ
سَأُنْبِيكَ عَنْ تَفْصِيلِهَا بِبَيَانِ
ذَكَاءٍ وَحِرْصٍ وَاصْطِبَارٍ وَبُلْغَةٍ
وَإِرْشَادِ أُسْتَاذٍ وَطُولِ زَمَانِ

“Ketahuilah, engkau tidak akan memperoleh ilmu kecuali dengan enam perkara. Akan aku jelaskan rinciannya: kecerdasan, kesungguhan, kesabaran, bekal, bimbingan guru, dan waktu yang panjang.”

Tahun ajaran baru selalu menghadirkan suasana yang berbeda di pesantren. Koper-koper diturunkan dari kendaraan, orang tua mengantarkan putra-putrinya dengan doa yang panjang, sementara para santri baru memulai babak kehidupan yang sama sekali baru. Ada yang tampak bersemangat, ada yang masih canggung, bahkan tidak sedikit yang diam-diam menahan rindu kepada rumah.

Dalam momen seperti ini, bait terkenal dalam Nadzom Alala layak kembali direnungkan. Bait tersebut bukan sekadar syair yang dihafalkan, melainkan peta perjalanan bagi setiap pencari ilmu. Enam perkara yang disebutkan di dalamnya merupakan bekal yang harus dipersiapkan oleh siapa saja yang ingin berhasil dalam menuntut ilmu, terlebih bagi santri yang baru memulai kehidupan mondok.

Bekal pertama adalah dzakā’ (kecerdasan). Kecerdasan sering dipahami sebagai kemampuan memahami pelajaran dengan cepat. Namun dalam tradisi pesantren, kecerdasan tidak selalu identik dengan nilai tinggi atau hafalan yang kuat. Kecerdasan juga berarti kemampuan mengenali kekurangan diri, memahami adab belajar, dan menggunakan akal untuk menerima nasihat. Banyak ulama besar yang tidak dikenal sebagai orang paling cerdas di masa mudanya, tetapi mereka memiliki kemauan untuk terus belajar dan memperbaiki diri.

Bekal kedua adalah hirsh (kesungguhan). Semangat belajar merupakan bahan bakar perjalanan ilmu. Tanpa kesungguhan, kecerdasan yang tinggi pun tidak akan menghasilkan banyak manfaat. Sebaliknya, kesungguhan sering kali mampu mengalahkan keterbatasan. Karena itu para ulama mengatakan:

مَنْ جَدَّ وَجَدَ

“Barang siapa bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil.”

Bagi santri baru, kesungguhan tampak dalam kemauan mengikuti pelajaran dengan baik, mengulang pelajaran yang belum dipahami, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.

Bekal ketiga adalah ishtibār (kesabaran). Mungkin inilah bekal yang paling banyak diuji pada masa awal mondok. Rindu keluarga, harus hidup bersama banyak orang, serta berbagai aturan yang berbeda dari kehidupan di rumah sering kali menjadi tantangan tersendiri.

Allah Swt. berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu, kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap siaga serta bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali ‘Imran: 200)

Ayat ini mengingatkan bahwa keberhasilan tidak dapat dipisahkan dari kesabaran. Tidak ada ulama besar yang memperoleh ilmunya tanpa melewati ujian dan kesulitan.

Bekal keempat adalah bulghah (bekal atau sarana). Dalam konteks menuntut ilmu, bekal tidak hanya berarti biaya pendidikan. Bekal juga mencakup kesehatan, perlengkapan belajar, serta dukungan dari keluarga. Karena itu santri perlu mensyukuri segala fasilitas yang dimilikinya dan menggunakannya untuk hal-hal yang bermanfaat.

Bekal kelima adalah irsyādu ustādz (bimbingan guru). Inilah salah satu ciri khas pendidikan pesantren. Ilmu tidak hanya dipelajari dari kitab, tetapi juga melalui bimbingan guru yang membimbing pemahaman dan akhlak muridnya. Imam Az-Zarnuji dalam Ta’lim al-Muta’allim menekankan pentingnya menghormati guru sebagai jalan memperoleh keberkahan ilmu.

Beliau menulis:

لَا يَنَالُ الْعِلْمَ وَبَرَكَتَهُ إِلَّا بِتَعْظِيمِ الْعِلْمِ وَأَهْلِهِ

“Seseorang tidak akan memperoleh ilmu dan keberkahannya kecuali dengan mengagungkan ilmu dan para pemiliknya.”

Karena itu, adab kepada guru bukanlah pelengkap dalam belajar, melainkan bagian dari proses memperoleh ilmu itu sendiri.

Bekal terakhir adalah thūlu zamān (waktu yang panjang). Di zaman yang serba instan, banyak orang ingin mendapatkan hasil dengan cepat. Namun ilmu memiliki tabiat yang berbeda. Ia memerlukan waktu, ketekunan, dan pengulangan yang terus-menerus.

Para ulama dahulu rela menghabiskan puluhan tahun untuk belajar. Mereka berpindah dari satu kota ke kota lain demi mendengar satu hadis atau memahami satu masalah ilmu. Hal ini mengajarkan bahwa ilmu bukan tujuan yang dicapai dalam sekejap, melainkan perjalanan yang harus dinikmati prosesnya.

Bagi santri baru, enam bekal dalam Nadzom Alala sesungguhnya adalah kompas yang akan menuntun perjalanan selama mondok. Kecerdasan membantu memahami pelajaran, kesungguhan menjaga semangat, kesabaran menguatkan hati, bekal menopang perjalanan, guru menunjukkan arah, dan waktu menyempurnakan semuanya.

Masa-masa awal mondok mungkin terasa berat. Namun setiap santri senior pernah menjadi santri baru. Setiap ulama besar pernah menjadi murid yang belajar dari dasar. Tidak ada keberhasilan yang lahir tanpa proses.

Karena itu, ketika seorang santri melangkahkan kaki memasuki gerbang pesantren, sesungguhnya ia sedang memulai perjalanan panjang untuk membentuk dirinya. Jika enam bekal yang diajarkan dalam Nadzom Alala terus dijaga dan ditumbuhkan, insyaallah perjalanan tersebut tidak hanya menghasilkan ilmu, tetapi juga melahirkan pribadi yang berakhlak, tangguh, dan bermanfaat bagi umat.

 

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Antara Panggilan Jiwa dan “Tukang Doorsmeer”

Antara Panggilan Jiwa dan “Tukang Doorsmeer”

Pesan-Pesan Gus Reza Seputar Santri Baru

Pesan-Pesan Gus Reza Seputar Santri Baru

Menulis Buku sebagai Mahar

Menulis Buku sebagai Mahar

Antara Kesepian dan Validasi

Antara Kesepian dan Validasi

Hidup yang Keras atau Kita yang Lemah?

Hidup yang Keras atau Kita yang Lemah?

Mengenal 78 Cabangan Iman: Menyelami Kedalaman Ajaran Syaikh Nawawi Al-Jawi

Mengenal 78 Cabangan Iman: Menyelami Kedalaman Ajaran Syaikh Nawawi Al-Jawi