Kediri, Elmahrusy Media
Menyambut Jumat pertama di bulan Muharram 1448 H, Santriwati Asrama Darsyi menggelar Majelis Dzikir Burdah di Aula Al-Fatah pada Jumat sore (19/06). Kegiatan rutin yang diikuti santriwati dan jamaah ibu-ibu tersebut berlangsung khidmat dengan kehadiran Pengasuh Asrama Darsyi, Ning Hj Ita Rosyidah Miskiyah (Ning Ochi). Setelah beberapa pekan beristirahat pascamelahirkan beliau kembali membersamai majelis bersama sang putra bungsu, Hirzi Imam Mahrus.
Dalam mauidzoh hasanahnya, Ning Ochi menjelaskan kemuliaan bulan Muharram sebagai salah satu bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Beliau mengingatkan jamaah tentang keutamaan puasa Tasu’a pada 9 Muharram dan puasa Asyura pada 10 Muharram yang memiliki nilai ibadah besar dalam Islam.
“Bulan Muharram adalah bulan yang dimuliakan Allah SWT. Pada tanggal 10 Muharram terdapat hari bersejarah bagi umat Islam, dan sehari sebelumnya, yaitu tanggal 9 Muharram, terdapat amalan puasa yang dikenal sebagai puasa Tasu’a, sedangkan tanggal 10 Muharram dikenal dengan puasa Asyura,” tutur beliau.
Pada kesempatan tersebut, Ning Ochi mengajak seluruh jamaah untuk melakukan muhasabah dengan memperhatikan satu bagian dalam diri manusia yang senantiasa menjadi perhatian Allah SWT, yakni hati.
“Saya ingin mengajak teman-teman semua untuk melihat sebuah tempat yang pada setiap diri manusia selalu dilihat oleh Allah Ta’ala. Tempat itu adalah hati,” tutur beliau.
Ning Ochi ngendikan bahwasannya seseorang perlu senantiasa meneliti dan menjaga kondisi hatinya agar terhindar dari berbagai penyakit hati yang dapat merusak keimanan dan kualitas ibadah. Beliau menjelaskan bahwa terdapat tiga penyakit hati utama yang harus diwaspadai, yaitu kibr (sombong), riya’ (pamer), dan hasad (iri dengki).
“Penyakit hati yang besar itu ada tiga, yaitu kibr, riya’, dan hasad,” jelas Pengasuh Asrama Darsyi.
Beliau menerangkan bahwa apabila penyakit hati dibiarkan, sedikit demi sedikit akan muncul bercak-bercak hitam yang menutupi hati. Akibatnya, seseorang akan semakin sulit menerima kebenaran, malas beribadah, bahkan kehilangan kenikmatan dalam beribadah.
“Penyakit hati itu memiliki penawar, tetapi harus diusahakan melalui amal dan perbuatan,” dawuh Ning Ochi.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa obat bagi sifat kibr atau sombong adalah tawadhu’ (rendah hati). Salah satu cara menumbuhkan tawadhu’ ialah dengan mengingat kelemahan diri sebagai manusia.
“Kibr itu obatnya tawadhu’. Salah satunya dengan mengingat kelemahan diri kita. Karena pada hakikatnya manusia berasal dari nutfah. Dengan menyadari kelemahan diri, insyaallah dapat menghempas rasa sombong,” jelas beliau.
Ning Ochi juga menambahkan, “Selain tawadhu’ hal yang dapat menghempas kesombongan adalah makan talaman (makan bersama menggunakan nampan) dan juga ro’an (bersih-bersih) yang diniati untuk membersihkan hati,” tutur santri alumnus Daruz Zahro, Tarim.
Sementara itu, penyakit hati kedua adalah riya’, yakni keinginan memperoleh pengakuan atau validasi dari manusia. Padahal, dawuh beliau, “Penilaian manusia itu tidak ada apa-apanya,” dalam artian tidak mampu menentukan nilai seseorang di hadapan Allah SWT.
Untuk mengobati sifat riya’, Ning Ochi menganjurkan agar seseorang memperbanyak amalan sir (rahasia) atau amalan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, seperti sedekah secara diam-diam.
“Sedekah sir dapat meredam kemurkaan Allah SWT,” jelas beliau.
Adapun penyakit hati ketiga adalah hasad atau iri dengki. Ning Ochi menjelaskan bahwa orang yang memiliki sifat hasad cenderung tidak senang ketika melihat kebahagiaan maupun kenikmatan yang diperoleh orang lain.
“Seseorang yang memiliki sifat hasad tidak ingin melihat orang lain bahagia dan tidak ingin orang lain mendapatkan kenikmatan,” terang beliau.
Sebagai upaya mengobatinya, beliau menganjurkan agar seseorang membiasakan diri mendoakan orang yang mendapatkan nikmat agar Allah SWT semakin menambah kenikmatan, keberkahan, rezeki, dan kebaikan dalam hidupnya.
Sebelum menutup mauidzoh hasanah, Ning Ochi kembali menegaskan pentingnya ikhtiar dalam membersihkan hati dari berbagai penyakit batin.
“Penyakit hati itu obatnya harus disertai amaliyah dan ikhtiar dari diri kita sendiri,” pesan beliau.
Majelis Dzikir Burdah sore itu kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Ning Hj. Ita Rosyidah Miskiyah. Suasana khusyuk dan penuh kekhidmatan menjadi penutup rangkaian kegiatan yang mengingatkan jamaah akan pentingnya muhasabah untuk menjaga kebersihan hati sebagai bekal meraih ridha Allah SWT.
Wallahu a’lam.