Kediri, Elmahrusy Media.
Dalam perhelatan acara Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren Al Mahrusiyah pada (13/06), KH. Zuhrul Anam Hisyam berkesempatan memberikan mauizhotul hasanah.
Di awal beliau menyampaikan bahwa pada mulanya tidak ada niatan berkenan untuk datang. Terlebih untuk mengisi sebuah mauizhoh di lingkup Pondok Pesantren Lirboyo yang dengan ungkapannya, beliau bilang “kaannani dakholtu fil ghobbah fiha usuduha”, seperti masuk ke sebuah hutan yang banyak macannya.
Hanya saja, karena mengingat bahwa Gus Reza sebelumnya menyanggupi undangan haul Yai Maimoen Zubair, beliau merasa harus datang saat Gus Reza mengundang.
Beliau menyampaikan, pada mulanya ia tidak berkenan untuk hadir. Tapi setelah diingat ternyata
Dalam mauizhohnya beliau membuka dengan kisah Nabi Muhammad Saw sebagai teladan. 22 tahun 2 bulan 22 hari masa turunnya Al Qur’an, nabi menghadapi bangsa Arab yang dikenal sebagai bangsa yang mengalami kerusakan dalam segala hal agama, sosial, moral, dan keilmuan. Lahir pada 571 M, nabi dengan luar biasanya mengubah bangsa Arab yang rusak sampai menjadi bangsa yang mulia.
Yai Anam menambahkan cerita
Saat sepupu nabi, Ja’far bin Abi Thalib melakukan hijrah ke Habasyah, ia ditanya oleh gubernur Habasyah perihal kondisi bangsa Arab. Ja’far menjawab:
“Kami adalah bangsa jahiliyah. Terbiasa makan bangkai. Terbiasa minum-minuman keras. Terbiasa melakukan perzinahan. Terbiasa berkata-kata bohong dan palsu. Dan terbiasa menyembah berhala dan memutus tali persaudaraan. Orang-orang yang kuat di antara kami terbiasa memakan orang yang lemah.”
Dengan luar biasanya, Yai Anam merefleksikan pembahasan Al Qur’an sebagai hal penting yang harus ditanam dan dipegang oleh para santri. Beliau mengutip Prof. Hamdi Zaqzuq dari Mesir dalam memahami Al Alaq ayat 1-5 sebagai miftahul hadhoroh atau kunci peradaban.
“Iqro’ ay bimakna ta’alam. Tidak sedikit bahwa perintah bacalah memiliki makna belajarlah.” Begitu dawuh menantu Yai Maimoen Zubair.
Yai Anam juga menyampaikan perihal keutamaan antara majelis dzikir dan majelis ilmu dalam sebuah kisah bahwa nabi pernah datang ke sebuah tempat yang di sana terdapat mejelis dzikir dan majelis ilmu. Nabi bersabda bahwa keduanya sama-sama baik. Hanya saja nabi lebih memilih ikut duduk di majelis ilmu yang menjadikan isyarah bahwa majelis ilmu lebih utama.
Lantas nabi bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ
“Sesungguhnya aku (Nabi Muhammad SAW) diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. Baihaqi)
Yai Anam banyak menjelaskan tentang teladan nabi, Al Qur’an, dan Islam untuk bisa diambil inti pelajaran oleh para santri, lewat kisah-kisah inspiratif.
Pun beliau turut membahas tentang 6 kaidah bekal pencari ilmu dalam nazhom Alala yang salah satunya, “Bahwa santri itu harus thulu zaman atau masa yang lama. Dan idealnya bagi seorang santri dalam mencari ilmu itu 20 tahun. Sebagai mana jenjang sekolah formal dari SD sampai S3.” Seperti itu jelas pengasuh Pondok Pesantren At Taujieh.
Di akhir, beliau berharap do’a semoga semoga santri-santri Al Mahrusiyah membawa ilmu yang barokah, manfaat, difutuh oleh Allah Swt.
Wallahu a’lam.