web analytics

Senja Murahan Merasuki Ikan dalam Kolam

0 0
Read Time:3 Minute, 20 Second

Segar sekali sinar matahari yang merasuki aku. Meski tidak besar, rumahku yang penuh akan air dan terletak di bawah pohon beringin telah dihuni empat keturunan. Memang buyutku telah mati, namun keturunannya masihlah kuat sekadar hidup dalam tempat membosankan ini. Kegiatan kami sehari-hari hanya berenang kesana-kemari tanpa tujuan pasti sambil meratapi manusia cilik yang tak jarang mengamati kami.

Semua berubah ketika sesuatu jatuh dari langit hingga menimbulkan suara macam bom atom yang dijatuhkan di Bikini Atol kala itu. Ah … Mengapa cinta selalu jatuh di tempat yang bikin kepala menggelinding?

“Sopo kui?” Tentu saja aku terkejut, karena sesuatu yang tercebur bukanlah cinta melainkan anak manusia.

“Nyapo iki?”

Aku terbangun di tempat yang lebih kecil dari rumahku setelah masuk ke dalam baju seekor anak manusia. Meski kecil, tempat ini sangat cantik nan bersih dengan berbagai terumbu karang juga filter air. Lagi pula ini memang tujuanku.

***

Panas sekali sinar mentari di Taman Segartaji hari ini. Meski tak bikin kulit perih, hawa gerah dapat menarikku bergegas melompat ke dalam kolam ikan itu. Sepertinya segar!

Mataku yang berkeliling memantau sekitar menemukan seorang bernama Mamud yang membawa kedua anaknya berkeliling taman. Sekadar informasi, Mamud merupakan istri dari Mamang Pentol langgananku yang biasa menjual senja seharga seribu tiga. Karena senja yang semakin ke sini semakin tidak berharga, Mamang Pentol jadi tidak bisa menuruti keinginan anak-anaknya yang terobsesi dengan sirip ikan.

Seperti yang kita tahu, dewasa ini, sepotong senja sebagai kado untuk kekasih sudah terlampau zaman bahkan sangat pasaran. Sudah terlalu banyak senja-senja dicuri orang sebagai makanan sosial media. Sudah tidak ada harganya. Terlebih menjual senja hasil curian merupakan tindakan illegal yang dibenci oleh Perawat Agama.

“Mau gimana lagi, Dit? Saya ndak bisa menghasilkan cuan yang lebih banyak guna menuruti Si Kambing Hitam yang selalu kejang-kejang apabila tidak melihat dan membayangkan sirip ikan.” Mendengar curhatan Mamang Pentol kala itu membuatku ingin muntah dan menyerahkannya pada Perawat Agama biar dia dipenjara bersama sirip ikan.

Kembali ke mataku yang sedang mengawasi Si Kambing Hitam-nya Mamang Pentol memperhartikan ikan dalam kolam. Akhirnya aku menemukan Kambing Hitam! Tanpa pikir panjang, aku memegang kedua tangan Si Kambing Hitam sementara Perawat Uang memegangi kedua kaki Si Kambing Hitam. Kami mengayun-ayunkan tubuh Si Kambing Hitam beberapa kali sebelum embikannya berakhir dengan suara air yang meledak akibat Si Kambing Hitam telah bertamu ke dalam kolam.

Para ikan yang terkejut tak henti-hentinya mengepakkan sayap menjauhi tubuh Si Kambing Hitam yang kian melemas. Anehnya salah satu ikan malah menghampiri dan masuk ke dalam baju Si Kambing Hitam dan merayapi punggungnya. Hal tersebut bikin aku ingin cepat-cepat menceburkan diri ke dalam kolam, menghampiri kesegaran, menghilangkan kegerahan, sampai menyelamatkan kedok.

***

Also Read: Nektar

Kejadian itu berlalu sangat cepat, bahkan aku tidak sempat menghalau layer yang senantiasa menyinari mata juga tidak sempat berkata, “Hei! Kalian apakan anakku?”

Meski salah satu dari mereka turut menceburkan, diceburkan, atau tercebur—aku tidak tahu motifnya apa—perlakuan mereka kepada Si Kambing Hitam membuatku, selaku ibu, murka. Terlebih seorang yang berpacak macam pemuka agama menghampiriku sambil berucap …

Maqoli inna rahmatan… ya malaikat maut, maqoli inna rahmatan fima Allah… inna koli inna skalayy, syududu.”

Hal tersebut tidak menghentikan kainginanku menamparnya dan menghubungi polisi, karena dia ikut terlibat dalam kejadian ini.

***

Sebab perbuatan aneh kami, penjara menjadi akibatnya. Interogasi terus dilakukan dan dihaturkan kepada kami sekadar penasaran terhadap latar belakang cerita ini.

“Bukan kami yang melakukan ini! Ikan dalam akuariummulah yang merasuki kami!” Meski telah berkali-kali mengeluarkan kalimat yang sama setiap sesi interogasi, seorang polisi bertopeng sialan itu selalu membantah.

“Adit. Kamu ikut saya!” Kenapa polisi ini tahu namaku? Kenapa pula Perawat Agama tidak ikut bersama? Apa salahku? Apa salah ibuku?

Sepanjang perjalanan menunjukkan bahwa kami bukanlah berada di penjara yang sesungguhnya. Bagaimana bisa penjara memiliki kamar dan lorong semewah ini? Lorong bercat emas dengan pernak-pernik dan motif-motif senja pada pilar-pilar megahnya. Karena masih terpana dengan mulut menganga, aku tidak sadar menabrak punggung polisi yang telah berhenti sambil melepas topengnya.

“Mamang Pentol?” Sayangnya mulutku tak pernah kembali tertutup setelah mengetahui siapa dalang di balik ini semua.

About Post Author

Rahmat Adhy Wicaksana

Lahir di ujung timur Pulau Sumatra. Hidup sederhana sambil melukis menggunakan kata-kata.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Tagged with:
cerpen

Lahir di ujung timur Pulau Sumatra. Hidup sederhana sambil melukis menggunakan kata-kata.

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Untungnya, Bumi Masih Berputar

Untungnya, Bumi Masih Berputar

Medan Magnet Bumi

Medan Magnet Bumi

Mahasiswa Kritis di Negeri Anti-Kritik

Mahasiswa Kritis di Negeri Anti-Kritik

Nektar

Nektar

Antara Kita dan Layar

Antara Kita dan Layar

Lalang Hilang

Lalang Hilang