web analytics

Nektar

0 0
Read Time:53 Second

Di suatu sore yang tersambut senja kemerahan. Terasa begitu sepi sunyi, hanya ada alun ilalang dan kepak kicau parau burung untuk sesaat kembali pulang.

Tapi entah dengan lalat itu, berusaha untuk tak menyerah di ujung hari, di detik yang kesekian. Sayapnya perlahan merebah untuk sesekali loncat, dari satu tempat ke tempat yang lain: tersambut, menjanjikan tenang dan senang.

Ia terlihat begitu gusar tak nyaman. Seakan kantung dunia bergetar, jatuh, tumpah, dan mengisi kepalanya yang tak seberapa. Dipaksa muat di sana.

Kenapa juga ia harus gusar dan tak nyaman? Bukankah teras meneduhkan? Bisa saja ia pada kolong bangku, rak sepatu, kardus koran bekas, plastik belanjaan, atau vas-vas terhias. Jangan tanyakan untuk bunga dengan kelopak yang merekah bermekar. Seakan menjadi pelangi yang menawarkan terang, lembut, dan manis-manis.

Ia malah memilih tong sampah untuk tempat kembali, di akhir loncat, saat sayapnya benar-benar tak mampu tak daya.

Lalat tau, bunga lebih indah dari tong sampah. Tapi lalat sadar, bahwa yang ditunggu bunga adalah kupu-kupu.

“Semoga harimu menyenangkan, Bunga!”

Senja melarut, cahayanya semakin surut.

“Teruslah merekah!” Ucapnya sebelum akhir.

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Also Read: Lalang Hilang

Tagged with:
cerpen

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Mahasiswa Kritis di Negeri Anti-Kritik

Mahasiswa Kritis di Negeri Anti-Kritik

Antara Kita dan Layar

Antara Kita dan Layar

Lalang Hilang

Lalang Hilang

Jejak Panjang di Balik Selembar Kertas

Jejak Panjang di Balik Selembar Kertas

Kerajaanku yang Malang (Pt4)

Kerajaanku yang Malang (Pt4)

Keranjang

Keranjang