Lampu kamar remang-remang. Ruangan itu terasa sunyi, hanya terdengar detak jarum jam dinding di sudut kiri atas, tepat di samping tumpukan rak kitab dekat lemari. Disana, Ali tertidur sangat nyenyak. Di saat santri yang lain berangkat mengaji, ia justru merasa nyaman mendekap bantal biru muda bergambar Doraemon kesayangan—kado ulang tahun dari sang ibu.
Ini sudah kesekian kalinya Ali absen dari kelas mengaji. Segala macam takzir (hukuman) seolah tidak mempannya. Ia pernah dijemur siang hari di tengah lapangan, melakukan push-up seratus kali dengan satu tangan, hingga perintah yang paling tidak masuk akal: mencari capung jantan. Namun, ia tetap saja mengulangi kesalahannya, tak peduli apa pun hukumannya.
Namanya Ali Akbar, santri kelas sebelas. Jika bicara soal hafalan, ia sangat kuat. Ia pun mampu menguasai pemahaman kitab dengan baik. Dalam forum bahtsul masail, ia selalu berdiri di barisan paling depan. Siapa yang tidak kenal Ali? Ia masyhur sebagai sosok yang vokal di angkatannya. Namun, jika menyangkut mengaji Al-Qur’an, rasa malasnya luar biasa. Baru duduk sebentar di kelas, kantuknya langsung menyerang. Alasan utamanya karena ustaz pengajarnya sering tidak hadir. Menurut Ali, masuk kelas tanpa pengajar hanyalah buang-buang waktu, lebih baik ia gunakan untuk tidur di kamar.
Keesokan harinya, Ali dipanggil ke bagian kesiswaan. Ia sudah menduga akan dihukum berdiri lagi. Dugaannya benar, namun kali ini ada yang berbeda. Ia disuruh berdiri sambil kedua tangannya memegang ember berisi air penuh. Lima belas menit pertama belum terasa, namun lama-kelamaan bebannya terasa sangat berat. Kakinya mulai gemetar, tak kuat lagi menahan tumpuan.
“Ali, sudah,” ujar staf kesiswaan.
“Alhamdulillah,” timpalnya terengah-engah.
“Hari ini kamu sudah melewati batas karena terus-menerus bolos kelas mengaji. Sebagai hukumannya, selain berdiri memegang ember, kami telah melaporkanmu kepada Pak Kyai. Beliau memintamu menemui beliau besok pagi.”
“Iya, Pak,” jawab Ali singkat.
Sesuai instruksi kesiswaan, esok paginya dengan berat hati Ali menuju kediaman Pak Kyai. Ia sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukan saat berhadapan dengan beliau. Namun, daripada masalahnya bertambah panjang, ia memberanikan diri.
Tok, tok, tok.
“Assalamualaikum,” Ali mengetuk pintu.
“Waalaikumussalam. Maaf, Kang, Abah sedang ingin keluar pagi ini,” jawab seorang abdi ndalem.
“Maaf, Kang, tapi Pak Kyai meminta saya menemui beliau pagi ini,” lanjut Ali.
Di tengah percakapan, Pak Kyai muncul. Dengan sigap, Ali dan abdi ndalem itu langsung menunduk sebagai tanda hormat.
“Ali, saya mau pergi dulu. Kamu tunggu sampai saya pulang, ya? Oh iya, tolong kamu isi bak mandi yang di belakang. Ambil airnya dari sungai saja, dan gunakan ini untuk mengangkut airnya,” ujar Pak Kyai sambil menyerahkan sebuah keranjang sampah plastik yang penuh lubang.
Tanpa pikir panjang, didorong rasa takzim kepada gurunya, Ali menjawab, “Baik, Yai.”
Pak Kyai segera berangkat. Mobil Fortuner putih itu melaju kencang meninggalkan Ali yang termangu. Ia memandangi keranjang sampah berlubang itu dengan bingung. Pikirnya, mustahil bisa mengisi bak mandi menggunakan wadah seperti itu. Namun, karena sudah terlanjur mengiyakan perintah gurunya, ia tetap melaksanakannya.
Ali bersiap. Ia menyingsingkan sarungnya dan melepas kemejanya. Dengan penuh keyakinan pada perintah gurunya, ia berlari ke sungai. Ceburan pertama berhasil, keranjang penuh air. Namun, baru dua langkah, airnya sudah habis tak tersisa. Ia mencoba lagi; keranjang penuh, tapi baru tiga langkah airnya kembali ludes. Ali tidak menyerah. Kali ini ia mencoba menambah kecepatan larinya. Usahanya membuahkan sedikit peningkatan; ia berhasil membawa air hingga delapan langkah. Ia terus mencoba berulang-ulang sampai tak terasa matahari sudah berada tepat di atas kepala.
Ali kelelahan. Ia sadar hal itu sia-sia; mustahil mengisi bak dengan keranjang berlubang. Ia bingung harus berkata apa saat Pak Kyai pulang nanti. Bolak-balik ia lakukan, namun jarak terjauh yang bisa ia tempuh hanya sebelas langkah sebelum air benar-benar habis tak tersisa.
Akhirnya ia beristirahat sejenak di samping bak. Ia mulai memandangi keranjang sampah yang tadinya sangat kotor tersebut. Ia memperhatikannya dengan saksama sampai suara mobil terdengar dari depan. Pak Kyai sudah datang. Ali panik; ia merasa tidak enak karena perintah gurunya tidak terlaksana.
“Ali, bagaimana? Baknya sudah penuh?” tanya Pak Kyai.
“Belum, Pak Kyai” balas Ali menunduk.
“Ya sudah, tidak apa-apa. Walaupun baknya tidak terisi penuh, tapi keranjang kotor yang kamu gunakan tadi, sekarang jadi bersih, kan?” tegas Pak Kyai.
Ali tertegun. Ia baru sadar mengapa keranjang itu tampak berbeda di matanya tadi.
“Iya, Pak Kyai.”
“Nah, itulah filosofinya. Keranjang kotor yang kamu bawa itu ibarat hatimu. Walaupun kamu merasa malas atau bahkan tidak mengerti artinya, mengaji itu harus. Membaca Al-Qur’an itu ibarat kegiatanmu pagi ini. Sekalipun kita belum mengerti maknanya, jika mengaji dilakukan terus-menerus, maka hatimu akan bersih, sama seperti keranjang ini.”
“Iya, Pak Kyai,” jawab Ali lirih.
Ali terdiam dan merenung. Ia meresapi setiap kata-kata Pak Kyai. Baru kali ini hatinya benar-benar terketuk. Padahal, dengan hukuman fisik seberat apa pun ia tidak pernah berubah. tapi perlakuan sederhana Pak Kyai hari ini berhasil merubah segalanya.