Pagi yang cerah dengan suara burung berkicau menyambut hari baru dalam sebuah desa kecil. Tempat itu kini menjadi taman pendidikan bagi seluruh rakyat kerajaan yang membutuhkan pendidikan. Di tempat itu mereka diajari dengan tulus oleh Anna, Steven, dan beberapa guru dari kerajaan luar yang termasuk teman dekat Steven. Tak lupa pula didampingi oleh rombongan berburu Steven yang selalu menjaga mereka semua. Rombongannya pun bukan sembarangan pasukan berburu, mereka adalah keluarga-keluarga Steven yang mulai dari mereka kecil telah lama bersama, jadi maklum saja jika mereka selalu bersama ke mana pun mereka pergi.
Teng … Teng … Teng … (bel sekolah berbunyi menandakan bahwa para murid di sana beristirahat dan sebagiannya harus pulang karena perbedaan tingkatan yang dialami)
“HAI!!! Eldoria!!” (Steven memanggil salah satu temannya untuk menemaninya jalan-jalan di desa)
“Hai kawan, bagaimana, kau mau jalan-jalan?”
“Boleh, untuk sedikit menghilangkan lelah.”
Eldoria dan Steven segera mengambil kuda mereka dan berjalan menyusuri desa yang ada di pedalaman. Di saat mereka sedang asyik menikmati indah dan segarnya suasana desa, terlihat segerombolan pasukan berzirah dan berkuda yang menuju lokasi pedesaan tersebut. Dengan melihat agak mencurigai mereka, langsung mengintai dan melihat dari kejauhan aktivitas pasukan berzirah tersebut. Tak disangka, ternyata mereka mencari sebuah sekolah yang selama ini Anna dan mereka bangun lewat kerja keras mereka.
Seketika Steven dan Eldoria memacu kudanya untuk berjalan menuju sekolah tersebut untuk mengamankan para anak-anak yang ada di dalamnya dan mempersiapkan seluruh teman-temannya untuk menghalau pasukan kerajaan agar tidak bisa masuk ke wilayah mereka.
Sesampainya di sana, ia segera mencari Caelion, seorang temannya yang ia pasrahkan menjadi kaisar penjaga sekolah itu. Dengan sigap dan tanpa membuat keributan dari dalam, mereka bertiga segera mengarahkan para anak-anak dan guru-guru yang ada di sana untuk masuk ke dalam bunker pertahanan yang telah mereka buat jauh sebelum mereka membangun sekolah itu.
Di saat semua warga yang ada di sekolah itu masuk ke dalam bunker, mereka segera membersihkan gedung sekolah agar tak nampak seperti bekas kelas. Mereka mendesain bangunannya agar tampak seperti gubuk sederhana dan dapat ditinggali seperti basecamp berburu, dengan menambah sedikit peralatan berburu dan semua meja mereka simpan di bunker khusus. Akhirnya mereka berhasil membuat bangunan dan ruangannya seperti sebuah basecamp mereka.
Matahari pun mulai lama kelamaan mulai tergelincir ke arah barat menandakan waktu sudah mulai sore hari. Di saat itulah mereka mulai bersiap untuk melanjutkan perburuan mereka agar tak terlihat seperti menyembunyikan seseorang. Dalam perjalanannya, Steven, Eldoria, dan Caelion berserta rombongan berburu mereka melihat para pasukan berzirah yang makin lama masuk ke dalam daerah desa yang mereka tempati sebagai sekolah.
“Lion, apa menurutmu tempat itu aman untuk kita tinggal begitu saja?” tanyanya kepada teman sejawatnya itu.
“Hmm … menurutku aman, karena dari jauh-jauh hari aku telah menyiapkan beberapa orang dari muridmu untuk menjaga mereka. Dengan garis bawah, sebelumnya telah kulatih tiap hari.”
“Baiklah kalau begitu, aku sangat percaya dengan kecerdasanmu. Tapi saat mereka ada kondisi terdesak, adakah kode khusus yang kau ajari untuk mereka?”
“Oh … kalau itu ada, Steven. Mereka selalu kuajari jika ada kondisi tertentu mereka akan memberikan tembakan suar oranye, ataupun jika mereka dalam kondisi yang sangat bahaya mereka akan memberi suar merah.”
“Oke lah kalau begitu.”
Pasukan tiga serangkai itu mulai mencari buruan mereka di perbatasan kerajaan. Mereka dengan asyik memantau dan mempersiapkan semua alat buruan agar dengan segera mendapatkannya.
“SIAP SEMUANYA!!!” (seru Steven kepada para teman-temannya)
Di saat yang bersamaan di tempat sekolah yang mereka dirikan, lima orang yang sebelumnya disiapkan oleh Caelion untuk menjaga area tersebut bersiap untuk memberikan perlindungan paling kokoh yang pernah mereka ketahui dari seorang kaisar bernama Caelion. Dengan waktu yang tepat, mereka telah menyiapkan beberapa orang untuk selalu berjaga di pos-pos yang telah disepakati sebelumnya. Mereka berkomunikasi lewat seekor kucing hutan yang sebelumnya mereka latih agar tak terlihat oleh musuh ataupun tentara kerajaan yang melewati teritorial mereka.
Kembali kepada Steven dan teman-temannya yang sedang berburu di perbatasan. Mereka dengan lihai menarik anak panah saat buruan mulai terlihat. Mereka bagaikan puncak predator malam hari yang siap menerkam apa pun hewan yang lewat di depan mereka.
“Kau siap, El?”
“Hm …” jawabnya singkat dengan segera mengangkat busur panah untuk persiapan menembak.
1 … 2 … 3 … “LEPAS!!!”
Tzuttttt …
Dengan tangkas, anak panah lepas dari tangannya dan menembus tubuh hewan buruan mereka.
“HOREYYY!!!” seru mereka dengan tetap sedikit mempertahankan kesunyian malam hari. Tak puas dengan satu buruan, mereka mulai beralih ke tempat lain untuk melihat apakah ada buruan yang lebih besar dari yang mereka dapatkan saat ini.
Jauh dari tempat mereka, segerombolan pasukan kerajaan mulai memasuki teritorial yang mereka bangun untuk sekolah. Di sana para pasukan yang Caelion siapkan mulai meningkatkan level waspada agar tidak memberikan efek kejut kepada pasukan kerajaan. Para kucing-kucing Hermes mulai sibuk mondar-mandir mengirim informasi untuk memberitahukan kondisi yang ada di sekeliling.
Di saat posisi yang sangat genting di belahan wilayah lain, para pasukan berburu Steven mempersiapkan buruan kedua yang digunakan untuk makan malam para murid dan guru yang ada di sekolah tersebut.
“SEMUANYA AMBIL POSISI MASING-MASING!!!” teriak Steven kepada teman-temannya untuk segera mengambil tempat persembunyian agar tidak terlihat oleh hewan buruan.
Waktu yang dinanti pun tiba. Target mulai terlihat, dan mereka mempersiapkan segalanya untuk menerkam mangsa di depannya. Akan tetapi …
Wushhhhh … (sebuah tombak terlempar ke arah hewan buruan yang kemudian membuatnya lemah seketika)
“Hah …” seolah tidak percaya bahwa mangsanya telah tertombak dahulu oleh kawanan lain. Sontak saja ia langsung memerintah teman-temannya untuk tetap menjaga formasi agar tidak mengejutkan kawanan yang menombaknya.
Setelah mereka menunggunya, Steven dengan sigap segera mengambil teropong malamnya untuk melihat siapa kawanan yang telah mengambil buruannya. Saat ia melihatnya, ternyata itu adalah sebuah kawanan perempuan yang bertujuan sama seperti mereka. Melihat hal itu, ia segera keluar dari persembunyiannya dan meminta teman-temannya untuk melindunginya dari jauh.
“Hai, kawan!!!” panggilnya kepada kawanan di seberang sana.
Karena panggilannya, membuat mereka waspada dan menodongkan senjatanya ke arah Steven. Hal itu dibalas dengan sifat tenang Steven dan segera memberi tahu bahwa ia datang hanya untuk negosiasi dan menanyakan sedikit informasi dengan mereka.
Di saat ia sedang mengobrol dengan mereka, ia diperkenalkan oleh ketua mereka yang bernama Kaela. Ia sangat terkejut, ternyata perempuan itu adalah teman seperjuangannya dulu dan sekarang telah memiliki pasukan yang hampir setara dengan dirinya.
“Hai, Kaela. Kaukah itu?”
“Hah …” dengan sedikit canggung dan masih mengingat nama seorang yang ada di depannya.
“Masih ingatkah kau denganku?” tanyanya untuk memastikan.
“Kau orang yang pernah bersamaku saat melawan Glacium di Pegunungan Alpen?”
“Ya, kau benar sekali, Kaela. Ke mana saja kau selama ini?”
“Aku mulai mengembara dan menemukan mereka untuk kuajak berburu, dan akhirnya aku membuat kawanan tersendiri.”
…
Sementara di luar, para pasukan Steven sudah siap untuk menyerang kawanan yang ada di depan. Akan tetapi hal itu tidak sampai terjadi karena Steven dan Kaela keluar sambil mengobrol asyik yang menandakan bahwa ia (Kaela) adalah temannya juga. Pada akhirnya, kawanan Steven keluar dan membuat pasukan Kaela segera bersiap untuk melindunginya. Akan tetapi hal ini dicegah oleh Kaela dan mempersilakan pasukan Steven untuk bergabung kepada mereka.