web analytics

Haul KH Moenir Syamsul Hadi dan Hj Mu’arofah, Gus Anas Kenang Orang Tua dan Ingatkan Hakikat Kehidupan

1 0
Read Time:4 Minute, 0 Second

Kediri, Elmahrusy Media

Dalam rangka memperingati haul almarhum KH Moenir Syamsul Hadi dan Hj Mu’arofah, Asrama Darur Rasyidah (Darsyi) menggelar Majelis Dzikir Manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani dan pembacaan Maulid Dhiyaul Lami’. Kegiatan yang berlangsung di Aula Al-Fatah pada Ahad malam (21/06) tersebut dihadiri langsung oleh Agus Ahmad Nasyiruddin Moenir (Gus Anas), Ning Hj Ita Rosyidah Miskiyah (Ning Ochi), dan kakak perempuan Gus Anas.

Suasana majelis berlangsung khidmat dan penuh haru. Pada kesempatan tersebut, Gus Anas berbagi kisah dan kenangan tentang kedua orang tua beliau yang telah wafat. Beliau mengawali mauidhohnya dengan menceritakan jarak wafat ayah dan ibu beliau yang terpaut sebelas bulan.

Gus Anas berbagi kisah kenang almarhum abah dan ibu

“Orang tua saya wafat dengan selisih waktu yang sama seperti jarak usia putri saya, Mehra, dan putra saya, Hirzi, yaitu sebelas bulan. Ibu saya wafat pada Ahad Legi, 4 Safar, sedangkan ayah saya wafat pada Jumat Pon, 7 Muharram,” tutur beliau.

Selain itu, Gus Anas juga menjelaskan bahwa nasab beliau dan istri beliau, Ning Hj Ita Rosyidah Miskiyah (Ning Ochi), bertemu pada silsilah keturunan ke-9 melalui jalur ibu.

“Nasab ibu saya, Hj Mu’arofah, bersambung hingga bertemu dengan nasab Ning Ochi pada silsilah ke-9,” jelas putra bungsu KH Moenir Syamsul Hadi.

Dalam kesempatan yang sama, Gus Anas mengenang momen wafat sang ibu yang hingga kini masih membekas dalam ingatan beliau. Gus Anas mengisahkan bahwa saat sang ibu mengembuskan napas terakhir, beliau sedang berada di rumah sepupu untuk menjemputnnya.

“Pagi itu sebelum ibu saya wafat, saya diminta untuk menjemput sepupu saya. Ketika saya masih makan di rumah sepupu, saya mendapat kabar dari rumah bahwa ibu telah wafat,” kenang beliau.

Beliau juga mengingat pesan terakhir sang ibu yang disampaikan sekitar satu bulan sebelum wafat.

“Wes Nas, aku wes ora mikir awakmu, aku wes ayem,” dawuh Hj Mu’arofah yang hingga kini masih diingat oleh Gus Anas.

Meski tampak tegar saat kehilangan kedua orang tuanya, Gus Anas mengaku pernah mengalami masa yang sangat berat. Bahkan, beliau sempat pingsan pada hari ketujuh setelah wafatnya orang tua beliau.

“Saya tidak menangis. Saya masih bisa menghibur yang lain, tetapi sebenarnya hati saya juga rapuh,” tutur belaiu.

Tidak hanya mengenang sang ibu, Gus Anas juga menceritakan sang abah, KH Moenir Syamsul Hadi yang dikenal sederhana dan sangat menjaga pola makan. Menurut beliau, almarhum hampir tidak pernah membeli makanan warung-warung.

“Abah saya jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah membeli makanan di warung. Prinsip beliau, makanan yang dimasak di rumah lebih terjamin kehalalan dan kesehatannya,” tutur Gus Anas.

Menjelang akhir sesi nostalgia, Gus Anas menyampaikan harapan agar dirinya dan seluruh keluarga senantiasa mendapatkan penjagaan Allah SWT serta menjadi dzurriyah thoyibah yang sholih dan sholihah.

“Saya lebih mengkhawatirkan diri saya dan saudara-saudara saya daripada orang tua saya. Sebab saya yakin doa para murid Abah untuk beliau dan Ibu tidak akan pernah terputus,” tutur beliau.

Di sesi-sesi terakhir mauidhoh, Gus Anas kembali mengingatkan para santri tentang hakikat kehidupan manusia dan tempat kembalinya manusia setelah kehidupan yang fana di dunia. Dawuh ini sangat sering beliau sampaikan kepada para santri agar tidak lupa hakikat hidup kehidupan yang sebenarnya.

Beliau menukil firman Allah SWT dalam Surah At-Tin ayat 4-6 yang berbunyi:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”

ثُمَّ رَدَدْنٰهُ اَسْفَلَ سٰفِلِيْنَۙ

“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.”

Menjelaskan ayat tersebut, Gus Anas menegaskan bahwa setinggi apa pun kedudukan seseorang di dunia, pada akhirnya manusia akan kembali kepada kematian.

“Setinggi apa pun pangkat dan jabatan kita, pada akhirnya tetap akan kembali menjadi asfala safilin, yaitu kembali ke tempat serendah-rendahnya,” nasihat beliau.

Namun demikian, Allah SWT memberikan pengecualian bagi orang-orang yang beriman dan senantiasa beramal saleh sebagaimana disebutkan dalam ayat berikutnya:

اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَلَهُمْ اَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُوْنٍۗ

“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan. Maka mereka akan memperoleh pahala yang tidak terputus.”

Dari ayat tersebut, Gus Anas mengajak para santri untuk mempersiapkan bekal terbaik bagi kehidupan setelah kematian melalui keimanan dan amal sholeh.

“Kita harus mencari modal sebanyak-banyaknya untuk menyambut kehidupan setelah mati,” pesan beliau.

Terakhir, mauidhoh ditutup dengan doa dan harapan agar seluruh santri kelak menjadi pribadi sholih-sholihah dan generasi khoirul ummah serta mampu memberikan manfaat bagi agama, bangsa, dan masyarakat.

Usai mauidhoh, acara dilanjutkan dengan pembacaan Manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani dan Maulid Dhiyaul Lami’ oleh tim yang bertugas hingga selesai.

Wallahu a’lam.

 

About Post Author

Anisa Fitri Ulhusna

Mengabdi untuk Mengabadi
Happy
Happy
100 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Mengabdi untuk Mengabadi

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Ning Ochi Ajak dan Jelaskan Pentingnya Muhasabah Hati di Majelis Dzikir Burdah Awal Muharram

Ning Ochi Ajak dan Jelaskan Pentingnya Muhasabah Hati di Majelis Dzikir Burdah Awal Muharram

Menyambut Tahun Baru Hijriah Dengan Do’a

Menyambut Tahun Baru Hijriah Dengan Do’a

Santriwati Darsyi Gelar Doa Akhir dan Awal Tahun 1448 H, Ning Ochi Bagikan Ijazah Amalan

Santriwati Darsyi Gelar Doa Akhir dan Awal Tahun 1448 H, Ning Ochi Bagikan Ijazah Amalan

Di Tahun Baru Hijriyah, Gus Iing Mengajak Untuk Berbenah

Di Tahun Baru Hijriyah, Gus Iing Mengajak Untuk Berbenah

Pembacaan Do’a Akhir dan Awal Tahun Pondok Al Mahrusiyah Putra Lirboyo

Pembacaan Do’a Akhir dan Awal Tahun Pondok Al Mahrusiyah Putra Lirboyo

Gebyarkan Haflah Akhirussanah, HM Al Mahrusiyah Wisuda Ratusan Purnasiswa

Gebyarkan Haflah Akhirussanah, HM Al Mahrusiyah Wisuda Ratusan Purnasiswa