Islam selalu memiliki cendekiawan dari masa ke masa, mulai dari Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, Ibnu Khaldun dan masih banyak lainnya. Tak hanya cendekiawan pria yang terkenal, cendekia Wanita pun juga tak kalah terkenal seperti Fatima Al-Fihri, Syekhah Suhdah dan salah satu dari sekian banyak cendekia wanita adalah Lubna dari Kordoba.
Lubna merupakan seorang gadis yang berasal dari Andalusia (spanyol) yang lahir di Madinah Az-Zahra dan kemudian tumbuh besar di area istana Umayyah di Kordoba. Namanya juga banyak disebutkan dalam literatur lain sebagai Labana Al-Qurthuba atau Lubna de Cordoba, namun masa kecilnya tidak terekam karena pada awalnya ia tumbuh besar bukan dari kalangan bangsawan yang terbiasa kisah hidupnya diabadikan. Walaupun bukan dari kalangan darah biru, lubna tetap mengedepankan intelektual keilmuwan, hingga ia terkenal dalam istana sebagai gadis yang cerdas. Karena keahlian dalam berbagai bidang keilmuwan ia diangkat sebagai sekretaris istana Khalifah Al-Hakam bin Abdurrahman III.
Semua berawal dari tugas sebagai juru tulis perpustakaan, tugas menjadi juru tulis merupakan tugas yang cukup berat. Bukan hanya menulis ulang tapi ia juga ditugaskan untuk menerjemahkan dan menyalin dari bebrapa buku-bukukeilmuwan, termasuk milik Euclid dan Archimedes. Sejarahwan Joyce E. Salisbury dari Universitas Wisconsin, Green Bay menyatakan bahwa Lubna de Cordoba tidak hanya berkontribusi di dalam istana saja, tapi ia juga menjadi pengajar bagi wanita dan anak-anak di Cordoba. Digambarkan dalam keterlibatan Lubna mengajari ilmu matematika yang diajarkan pada anak-anak, mereka juga mengikuti Lubna dalam belajar hingga ikut melafalkan perkalian.
Lubna juga dipercaya sebagai pimpinan perpustakaan istana, keahlian dalam penguasaan bahasa hingga menerjemahkan banyak literatur membuat perpustakaan kordoba menjadi perpustakaan terbesar pada masa itu. Selama berabad-abad perpustakaan yang dipimpin oleh Lubna merupakan perpustakaan yang terbesar sebelum tertandingi oleh perpustakaan Baghdad. Tak hanya menerjemahkan beberapa manuskrip, Lubna juga aktif menelusuri beberapa daerah ke daerah lain untuk memperoleh koleksi buku hingga lebih dari 400 ribu buku ia dapatkan.
Karena dedikasinya pada perpustakaan istana inilah yang membuat Lubna juga dijuluki sebagai “pejuang literasi”. Sebagai seorang cendekia, kemungkinan besar Lubna memakai landasan “Buku jendela dunia” sehingga ia mampu mengumpulkan, mempelajari, meneliti hingga menerjemahkan sekian banyak naskah tulisan. Lubna juga mampu membuktikan bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang beriman yang berilmu (Q.S Al-Mujadalah : 11) dengan ketekunannya dalam belajar.
Lubna adalah salah satu dari beberapa puluh orang yang mendapatkan dokumen pernyataan merdeka, dan mengarikan ia masuk pada strata “orang merdeka” kelas atas pada umunya. Di masa abad ke-11 Andalusia, hal ini adalah hal yang wajar bagi mantan budak istana dapat mendapatkan posisi kekuasaan, karena bagi para atasan lebih mempercayai mantan budak ketimbang politisi local.
Nama Lubana Al-Qurthuba juga tertulis dalam kamus biografi ulama islam Andalusia karya Ibnu Bashkuwal, seorang ahli tradisi dan penulis biografi Andalusia yang berpengaruh. Ibnu Bashkuwal menuliskan bahwa Lubna adalah sosok Wanita penulis yang cerdas, ahli tata bahasa, penyair ahli arimatika, memiliki pengetahuan yang mendalam, mahir dalam ilmu pasti dan mempunyai kemapuan memecahkan masalah geometri dan aljabar paling kompleks di zamannya. Dengan rasa hormat dan takjub Ibnu Bashkuwal juga menambahkan “ tidak ada seorang pun di istana yang seanggung dirinya…”