Di suatu lembar lusuh dalam hatiku, tertulis beberapa potong kata dengan tinta yang masih basah:
Untuk menjadi pahlawan, kau harus berjuang.
Untuk berjuang, kau harus bertantang.
Musuh mana yang lebih berat dan erat, pikat dan ikat?
Musuhmu adalah setanmu!
Setanmu adalah dirimu!
Itu mengapa menolak lerah.
Itu mengapa menolak lelah.
Mungkin karena dalam kata ‘pahlawan’ ada kata ‘lawan’.
Aku mati di tanganku sendiri.
Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Find some desired keywords.