Kalau kata Jokpin,
“Sedih itu sederhana, makan sudah siap,
kopi sudah cantik, hujan sudah romantis,
rokok habis.”
Memang tidak salah.
Apa daya warna hitamku yang cantik
tidak pernah disajikan dengan cangkir apik.
Apakah kafeinku tetap bikin mengantuk?
Apa gunanya aku tersaji di atas mangkuk
apabila Sang Pemakan menakdirkanku sekadar meringkuk.
Kalau bisa mengucap pasti kamu kukutuk!
Meski selalu romantis
Aku terlalu bosan bila Bumi terus cinta.
Bumi selalu menerima keromantisanku.
Bikin malas!
Sebagai penyakit, wajar kalau aku telah habis.
Tentu, agar Sang Pesedih tak akan pakai fasilitasnya,
pun karena rupiah makin romantis sambil menangis.
Piring-piring beserta para cangkir cantik
berdansa di tengah rupiah yang terus menghujam tanah.
Ritmenya sangat romantis macam hujan kian manis.
Bagaimana seluruh kesedihan yang tertampung
mampu mengurung isi pikiran Sang Pesedih
yang ingin segera tancap gas menuju neraka?
Lahir di ujung timur Pulau Sumatra. Hidup sederhana sambil melukis menggunakan kata-kata.
Find some desired keywords.