Guru, digugu lan ditiru. Adalah seorang tenaga pendidik profesional yang bertugas mendidik, mengajar, membimbing, melatih, serta mengevaluasi peserta didik. Terlihat mudah, terlihat gampang. Namun, apakah benar semudah itu? Mari kita lihat hasilnya saat ini.
Dalam era perkembangan informasi digital yang semakin mencuat jauh, masih menjadi pertanyaan besar apakah memang guru saat ini adalah profesi paling berpengaruh? Jawabannya bisa “ya” dan “tidak”. Mengapa? “Ya” jika sang guru berhasil membuat generasi penerus lebih cerdas dan dapat fight dalam globalisasi. “Tidak” jika generasi muda tidak bisa fight dalam arus globalisasi.
Kenapa ada dua sisi seperti itu? Mari kita lihat, ada berapa banyak generasi muda saat ini yang seperti domba-domba tersesat. Berapa banyak generasi saat ini yang hanya bisa “OMDO” (omong doang) dalam kesehariannya. Terus, jika saat ini, siapakah yang salah? Apakah murid, guru, orang tua, atau semut yang berjalan di dinding?
Hmm, sangat menarik. Karena murid dan guru adalah satu kesatuan. Lho, kok iso? Ya, bisa lah. Oke, logikanya seperti ini: obat yang menyehatkan adalah obat yang sesuai dengan bahan pembuatannya atau kopi yang nikmat adalah kopi yang tepat bahan dan takarannya.
Maksudnya apa, Bang? Maksudnya, jika guru dan murid bisa saling bersatu padu dalam kegiatan belajar, ada kemungkinan besar menghasilkan generasi yang mumpuni dalam bertarung di era globalisasi. Belibet kalimatnya, Bang. Oke, disederhanakan, tapi jangan sakit hati ya.
Guru sekarang banyak yang mulai ngawur dalam mendidik anak murid, entah dari pelajaran, tindak laku keseharian, bahkan dalam hal berbicara perlu ditelaah lagi. Apa ini orang guru atau preman yang kebetulan dapat S1 pendidikan? Nah, dari sini pula banyak generasi yang alhamdulillah melenceng sangat jauh dari jangkauan radar. Tidak bisa diharapkan, pemikiran terlalu kolot, desentralisasi pemikiran; kurang walah lah pokoknya.
Kemudian, memang salah kita semua ya, Bang? Nggak juga sih, lebih tepatnya salah Trump sama elit global yang ngasih AI enggak pas waktunya.
Apa sih, enggak jelas. Oke lanjut, dalam dunia pendidikan saat ini, guru seharusnya tidak hanya sebagai pengisi materi dalam ruangan saja, tetapi sekaligus sebagai patokan resmi tindakan dan tata krama seorang murid. Jika seorang guru bisa memberi contoh yang baik kepada muridnya, maka output-nya adalah generasi yang berakhlak bahkan dapat dipercaya. Tetapi, jika seorang guru hanya bermodal omong tok, ya output-nya sama saja kayak anak kecil yang baru bisa bicara.
Jadi, kesimpulannya adalah guru bukanlah sebuah profesi yang sangat manis, terlebih di Indonesia. Mengingat gaji guru honorer yang tidak dapat diharapkan dalam kehidupan. Tetapi setidaknya, mulailah belajar jujur terhadap diri sendiri, apa yang kamu cari sebenarnya dalam profesi guru ini. Jika hanya uang, maka alangkah baiknya kerja saja jadi kuli panggul atau tukang doorsmeer lebih meyakinkan daripada menjadi seorang guru. Karena jika menginginkan Indonesia seperti Cina dan Jepang, maka mulailah belajar menjadi guru yang selayaknya guru. Bukan hanya modal buku panduan dan sedikit pengalaman, ditambah topping cerita dari orang lain, kemudian mengambil keputusan menjadi seorang guru.
Toh, saat ini masalah pendidikan sedang dipertanyakan ke mana arahnya. Tak hanya dalam ranah institusi formal, bahkan keagamaan pun sedang dipertanyakan. Apakah benar jiwa-jiwa LDII sedang dibangkitkan kembali? Apakah agama “Nusantara” ingin dihilangkan dan diganti dengan Arabian?
Jika tidak, mari kita berbenah bersama dengan melihat arti sebenarnya dari “Guru” itu:
Dari keempat hal di atas, bagian dari manakah kita? Jika hanya satu saja, lebih baik jadi tukang doorsmeer atau jualan saja lebih meyakinkan. Karena guru bukan pekerjaan sepele dan ringan.
Dan satu lagi, saya masih ingat dengan nasihat guru saya: kalau jadi tenaga pendidik, lebih baik cari kerjaan sampingan yang lebih besar profitnya; jangan aset jangka panjang negara dirusak karena hal sepele.
Wallahu a’lam.