web analytics

Jejak Literasi dan Dedikasi Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani

4 0
Read Time:3 Minute, 30 Second

Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani merupakan salah seorang ulama besar Nusantara pada abad ke-18 yang berasal dari Palembang, Sumatera Selatan. Berdasarkan sumber data dari naskah Palembang, nama lengkap beliau ialah Syaikh Abdus Samad bin Abdurrahman Al-Jawi Al-Palimbani. Adapun dalam kitab sanad Syaikh Yasin (1402/138), disebutkan Abdus Samad bin Abdurrahman bin Abdul Jalil Al-Palimbani.

Beliau memegang peran sentral sebagai ahli tasawuf, pendidik, penulis risalah jihad, dan tokoh kunci dalam jejaring intelektual Islam di Nusantara hingga Haramain (Mekkah dan Madinah). Mengenai riwayat penanggalan hidup beliau, terdapat beberapa versi historiografi. Salah satu sumber menyebutkan bahwa beliau lahir pada tahun 1116 H (1704 M) dan wafat pada 1203 H (1789 M) di usia 85 tahun. Namun, naskah Faidh al-Ihsani (Manaqib Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani) dan beberapa kajian lain cenderung menguatkan bahwa beliau lahir di Palembang pada 1150 H (1737 M).

Sejak muda, Syaikh Abdus Samad menuntut ilmu di berbagai pusat keilmuan Islam, termasuk Mekkah dan Madinah. Guru-guru beliau ialah ulama terkemuka, diantaranya: Grand Syaikh Ahmad bin Abdul Mun’im Ad-Damanhuri (w.1778), Syaikh Ibrahim bin Muhammad Zamzami Ar-Rais (w.1780), Syaikh Sa’id bin Muhammad Sunbul Al-Makki (w.1762), Syaikh Abdul Ghani bin Muhammad Al-Hilal (w.1797), Syaikh Atha’illah bin Ahmad Al-Masri (w.1748), Syaikh Muhammad bin Ahmad Al-Jauhari Al-Misri (w.1772), Syaikh Muhammad bin Sulaiman Al-Kurdi (w.1780), Syaikh Sulaiman Ujaili Jamaluddin (w.1789), Syaikh Ahmad Abu As-Sa’adah, Syaikh Abdurrahman bin Mustafa Al-Idrus, Syaikh Thayib bin Jakfar Al-Palembani, Syaikh Ibrahim Al-Kurani Al-Madani, dan Syaikh Muhammad Samman Al-Madani (w.1775).

Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani ialah sosok yang aktif mengajar, berdakwah, dan menulis kitab-kitab keislaman yang menjadi rujukan masyarakat Melayu selama berabad-abad. Salah satu keistimewaan Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani adalah penggunaan aksara Jawi (Arab-Melayu) dalam karya-karyanya sehingga menjadikan ajaran Islam lebih mudah dipahami oleh masyarakat Melayu.

Diantara karya beliau adalah Sair as-Salikin ila Ibadat Rabb al-Alamin, Hidayah as-Salikin fi Suluk al-Muttaqin, Nashihat al-Muslimin wa Tazkirat al-Mukminin, Irsyadan Afdhal al-Jihad, ‘Urwat al-Qutsqa, Sawathi’ al-Anwar, dan Zahrat al-Murid.

Selain itu, ditemukan juga beberapa judul karya beliau yang lain sebagai berikut: Tuhfat Al-Raghibin,Risalah fi Bayan Hukm al-Syar’i, Ratib as-Syaikh Abdus Samad al-Palimbani, Wahdat al-Wujud, Ilmu Tasawuf, Al-Mulakhkhash al-Tuhbat al-Mafdhat min al-Rahmat al-Muhdat ‘alaihi al-Shalat wa al-Salam min Allah, Fadhail al-Ihya li al-Ghazali, dan lain-lain.

Karya Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani yang paling berpengaruh adalah Sair as-Salikin ila Ibadat Rabb al-Alamin dan Hidayah as-Salikin fi Suluk al-Muttaqin yang hingga kini masih dipelajari di pondok pesantren Nusantara dan berbagai negara. Salah satu karya tulisan tangan beliau juga menjadi koleksi berharga di Museum of Ancient Qur’an Manuscripts di Narathiwat, Thailand Selatan.

Kitab Tulisan Asli Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani yang terdapat di Museum of Ancient Qur’an Manuscripts di Pattani, Thailand Selatan.
Kitab Tulisan Asli Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani yang terdapat di Museum of Ancient Qur’an Manuscripts di Pattani, Thailand Selatan.

Selain dikenal sebagai ulama dan penulis, beliau juga mempunyai semangat perjuangan yang tinggi. Melalui tulisan-tulisannya, Syaikh Abdus Samad mendorong umat Islam untuk mempertahankan agama dan tanah air dari penjajahan. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa beliau turut mendukung perjuangan masyarakat Melayu Pattani dan Kedah dalam menghadapi serangan Kerajaan Siam.

Menurut sejumlah penelitian sejarah di Thailand Selatan, Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani wafat sebagai syahid dan dimakamkan di Ban Trap, Provinsi Songkhla, Thailand Selatan. Makam beliau hingga kini menjadi salah satu tujuan ziarah masyarakat Muslim dari Thailand, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam dan Indonesia sebagai bentuk penghormatan kepada ulama besar yang telah berjasa dalam menyebarkan ilmu dan dakwah Islam di kawasan Melayu.

KH. Reza Ahmad Zahid dan Ning Hj. Niswatul Arifah saat berziarah ke Maqbaroh Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani di Songkhla, Thailand pada Kamis, 16 Juli 2026.
KH. Reza Ahmad Zahid dan Ning Hj. Niswatul Arifah saat berziarah ke Maqbaroh Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani di Songkhla, Thailand pada Kamis, 16 Juli 2026.

Warisan keilmuan Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani tetap hidup hingga sekarang. Melalui kitab-kitab beraksara Jawi yang beliau tinggalkan, beliau berhasil menjembatani tradisi keilmuan Islam Timur Tengah dengan dunia Melayu, sehingga namanya dikenang sebagai salah satu ulama terbesar dalam sejarah intelektual Islam Nusantara.

Wallahu a’lam.

Thailand, 19 Juli 2026

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Struggle

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki: Ulama Teduh yang Moderat-Tawasuth

Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki: Ulama Teduh yang Moderat-Tawasuth

Mengenal Sulthonul Ulama; Syekh Izzuddin bin Abdissalam

Mengenal Sulthonul Ulama; Syekh Izzuddin bin Abdissalam

Pejuang Literasi: Lubna De Cordoba

Pejuang Literasi: Lubna De Cordoba

Abbas Ibn Firnas: Ilmuwan Penantang Langit

Abbas Ibn Firnas: Ilmuwan Penantang Langit

Pahlawan Kemerdekaan di Balik Lembar Ceban

Pahlawan Kemerdekaan di Balik Lembar Ceban

Muslimah di Balik Astrolab

Muslimah di Balik Astrolab