web analytics

Masjid Krue Se Thailand: Warisan Luhur yang Dibangun dengan Resep Dapur 

3 0
Read Time:3 Minute, 0 Second

Pattani, Elmahrusy Media (05/09/2026).

Masjid Kerisik menjadi salah satu peninggalan bersejarah yang masih berdiri hingga kini. Masjid yang dalam bahasa Thai dikenal sebagai Krue Se Mosque atau Pitu Krue-ban Mosque ini berada di wilayah Pattani dan memiliki nama resmi Masjid Sultan Muzaffar Shah.

Nama “Kerisik” berasal dari bahasa Melayu yang berarti pasir putih di kawasan pantai, yang dianalogikan seperti mutiara. Pada zaman dahulu, orang-orang Arab belayar sampai ke pantai ini, kemudian mereka menamainya lu’ lu’ (mutiara). Perkataan ini kemudian berkembang menjadi nama kampung “Tanjung Luluk”.

Masjid Kerisik diyakini berkaitan erat dengan perkembangan awal Islam dan Kesultanan Melayu Pattani. Salah satu catatan menyebut masjid ini dibangun pada 2057 B.E. atau 1514 AD (Anan Watananikorn 2531:64), pada masa pemerintahan Sultan Muzaffar Shah, atas saran Syekh Shafiyuddin al-Abbas, ulama fikih yang bergelar Dato’ Faqih Diraja. Setelah pembangunannya selesai, masjid ini dikenal sebagai masjid resmi Kerajaan Melayu Pattani Darussalam sekaligus pusat kegiatan keagamaan dan pengajaran ilmu-ilmu Islam.

Hikayat Pattani menyebut Masjid Krue Se dibangun pada masa pemerintahan Sultan Muzaffar Shah (1530–1564) di bawah bimbingan Syekh Shafiyuddin. Sementara Ahmad Somboon Bualuang dan Prof. Dr. Krongchai Hattha menyebut pembangunannya telah dimulai pada masa Sultan Ismail Shah (Phaya Inthira) dan diselesaikan pada masa Sultan Muzaffar Shah. Adapun Hail Wan Hasan, Syarah Pattani menyatakan pembangunan masjid ini pada masa Sultan Alang Yunus (1726–1729). Perbedaan penanggalan tersebut menunjukkan adanya lebih dari satu versi mengenai sejarah awal Masjid Kerisik.

Keberadaan masjid ini juga muncul dalam catatan perjalanan John Nieuhoff, pengembara yang melakukan perjalanan ke Timur jauh pada 1653 dalam jaringan Verenigde Oostindische Compagnie (VOC). Ia mencatat keberadaan sebuah masjid di Pattani yang terletak di dekat halaman kerajaan dan istana. Sejumlah sarjana kemudian menduga bangunan yang dimaksud kemungkinan merupakan Masjid Krueche.

Salah satu Masjid tertua di Asia Tenggara ini semakin menarik karena teknik pembangunannya. Masjid Kerisik dibangun menggunakan bata merah buatan Kampung Tarab Bata, yang kini berada di Mukim Gamia, Muang, Pattani. Penyusunan bata dilakukan menggunakan campuran kulit kerang dan beras pulut (ketan) hitam yang ditumbuk halus, kemudian dicampurkan dengan adonan putih telur dan manisan cair. Arsitekturnya memperlihatkan pengaruh seni bina Timur Tengah yang berpadu dengan kearifan lokal masyarakat Melayu Pattani.

Teknik tradisional tersebut menjadi salah satu bentuk kearifan masyarakat Melayu Pattani pada masa itu. Dari luar, masjid memang tampak sederhana—hanya berupa susunan bata tanpa lapisan cat atau semen modern. Namun, justru kesederhanaan itulah yang menyimpan keunikan tersendiri.

Rasa penasaran mengenai material bangunan tersebut mendorong penulis bertanya langsung kepada Pho Said Abdul Manaf, juru kunci yang telah menjaga Masjid Kerisik lebih dari 50 tahun.

Pho Said menjelaskan bahwa bagian bangunan yang kini terlihat sebagai halaman bukan termasuk struktur asli masjid. “Ini karena zaman dahulu belum ada semen. Dulu bangunannya hanya sampai anak tangga itu saja. Kemudian sekarang dibuat halaman di sekitarnya menggunakan bata. Nah, yang ini bangunan baru,” tuturnya seraya menunjuk batu bata tempat penulis berpijak, lalu memutarkan jari telunjuknya pada halaman sekeliling.

Kesaksian tersebut memberikan gambaran bahwa kompleks Masjid Kerisik telah mengalami penambahan dan perubahan dari waktu ke waktu. Hal ini sejalan dengan temuan penggalian arkeologis pada 2004, yang mengidentifikasi sedikitnya dua periode konstruksi.

Pada periode pertama, masjid berukuran panjang 16,82 meter dan lebar 15 meter, dibangun menggunakan batu bata dan mortar. Bangunan tersebut memiliki tangga di sisi utara, selatan, dan timur.

Sementara pada periode kedua ditemukan bangunan batu bata dan mortar berukuran panjang 13,40 meter dan lebar sekitar 15 meter yang tersambung dengan sisi timur bangunan masjid awal.

Masjid Kerisik ini merupakan saksi sejarah awal Islam di kawasan Melayu-Nusantara, sekaligus bukti kreativitas masyarakat terdahulu dalam membangun tempat ibadah yang memanfaatkan bahan-bahan lokal. Wallahu a’lam. 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
100 %

Struggle

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Perjalanan Panjang HAM: Dari Teori Hak Kodrati hingga Reformasi Indonesia

Perjalanan Panjang HAM: Dari Teori Hak Kodrati hingga Reformasi Indonesia

UNESCO Resmikan Kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda Bukan Hanya dari Indonesia

UNESCO Resmikan Kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda Bukan Hanya dari Indonesia

Konsolidasi Kuat Untuk Menjaga Stabilitas Keamanan Laut China Selatan

Konsolidasi Kuat Untuk Menjaga Stabilitas Keamanan Laut China Selatan

Ujian Pelajar Islam Dunia Melawan Islamophobia

Ujian Pelajar Islam Dunia Melawan Islamophobia

Semangka, Palestina, dan Kemanusiaan

Semangka, Palestina, dan Kemanusiaan

Palestina Dilanda Perang, Apakah Kita Hanya Bisa Memandang?

Palestina Dilanda Perang, Apakah Kita Hanya Bisa Memandang?