Pondok Pesantren Lirboyo hari ini, dengan segala kemegahan gedung dan gemuruh ribuan santrinya, tidak lahir dari sulap. Ia tumbuh dari perjuangan panjang seorang pemuda bernama Manab yang menempuh rihlah ilmiah dari satu pesantren ke pesantren lain. Tanah yang dahulu sunyi dan dikenal angker itu kini menjelma menjadi ladang tumbuhnya generasi penerus para nabi.
Di balik perubahan besar itu berdiri sosok ulama yang tidak hanya alim, tetapi juga masyhur karena kezuhudan dan kesederhanaannya. Beliau adalah KH. Abdul Karim, yang akrab disapa Mbah Manab—muassis Pondok Pesantren Lirboyo.
Nasab dan Masa Kecil
Abdul Karim memiliki nama kecil Manab. Beliau lahir pada tahun 1856 M di Desa Diyangan, Kawedanan Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah. Ia merupakan putra ketiga dari empat bersaudara, pasangan Abdur Rahim dan Salamah. Sang ayah berprofesi sebagai petani sekaligus pedagang. Kehidupan keluarga yang sederhana itulah yang turut membentuk karakter beliau menjadi pribadi yang zuhud dan tangguh.
Sepeninggal ayahnya, Manab memutuskan menempuh jalan ilmu, mengikuti jejak dua kakaknya, Aliman dan Mu’min. Semangat belajarnya juga terinspirasi oleh para ulama, di antaranya Kiai Rofi’i dari Bagelan. Bagi beliau, kemuliaan bukan terletak pada nasab, melainkan pada ilmu dan amal. “Keturunan sejati,” demikian prinsipnya, “adalah generasi yang lebih baik dari sebelumnya.”
Rihlah Ilmiah
Pada usia 14 tahun, ia memulai pengembaraan ilmu ke Jawa Timur bersama sang kakak. Mereka tiba di sebuah surau di Dusun Babadan, Gurah, Kediri. Di sana ia mulai mendalami ilmu-ilmu dasar agama, sambil membantu bekerja memanen padi untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Setelah itu, ia melanjutkan belajar ke Pesantren Cepoko di Nganjuk selama enam tahun, kemudian ke Pesantren Trayang di Bangsri, Kertosono, untuk memperdalam Al-Qur’an. Semangatnya tak pernah surut. Ia kemudian menuju Pesantren Sono, Sidoarjo, yang masyhur dengan pengajaran ilmu sharaf, dan menetap di sana sekitar tujuh tahun. Kali ini ia bisa lebih fokus belajar karena kebutuhan hidupnya dibantu sang kakak.
Perjalanan ilmunya berlanjut ke Kedungdoro, Surabaya, hingga akhirnya ke Madura untuk berguru kepada Syaikhona Kholil Bangkalan.
Di Madura, beliau menjalani ujian hidup yang berat. Pakaiannya hanya sepasang. Untuk makan, ia bekerja membantu panen dan menerima upah berupa padi. Namun suatu ketika, hasil jerih payahnya justru diminta sang guru untuk diberikan kepada ayam peliharaan. Peristiwa itu menjadi isyarat bahwa ia tidak diperkenankan bekerja.
Sejak saat itu, beliau memilih jalan tirakat. Ia menjalani ngrowot—tidak makan nasi dan menggantinya dengan umbi-umbian atau dedaunan. Bahkan sering kali hanya memakan daun mengkudu, sisa kerak nasi, atau ampas kelapa. Bertahun-tahun ia menahan lapar tanpa keluh kesah. Dari situlah ia dikenal sebagai santri yang tahan lapar dan kuat tirakat.
Keterbatasan juga tidak menghalangi kesungguhannya. Pernah suatu ketika ia ingin mengaji Fath al-Mu’in, tetapi tidak memiliki kitab tersebut. Ia pun menjual Fath al-Qarib miliknya demi membeli kitab yang dibutuhkan. Itu bukti betapa besar komitmennya terhadap ilmu.
Beliau nyantri kepada Syaikhona Kholil selama kurang lebih 23 tahun. Saat usianya menginjak 40 tahun, gurunya pernah berkata, “Wes, Kang Manab, ngelmuku wes tak ke’ne kabeh, wes ra enek sing iso tak ke’ne.” Sebuah pengakuan atas kematangan ilmunya.
Pernikahan dan Pengabdian
Setelah dianggap selesai belajar, beliau berniat pulang ke Magelang. Namun setibanya di Jombang, ia mendengar sahabatnya, KH. Hasyim Asy’ari, telah mendirikan pesantren di Tebuireng. Ia pun singgah dan mengajar di sana selama lima tahun.
Menjelang usia 50 tahun, beliau belum juga menikah. Atas ikhtiar para kiai, akhirnya ia menikahi Siti Khodijah (Nyai Dlomroh), putri KH. Sholeh Banjar Melati, Kediri, yang saat itu masih berusia 15 tahun. Enam bulan kemudian, beliau menetap di Banjar Melati. Setahun setelah pernikahan, mereka dikaruniai seorang putri bernama Hannah.
Babat Lirboyo
Melihat kondisi menantunya yang belum memiliki tempat tinggal tetap, sang mertua membelikan sebidang tanah di Lirboyo. Saat itu daerah tersebut dikenal angker dan rawan. Namun justru di situlah Mbah Manab memulai perjuangannya.
Beliau mendirikan mushala sederhana bernama Langgar Angkring. Tiga tahun kemudian, pada 1913, berdirilah Masjid Lawang Songo yang menjadi pusat dakwah dan pendidikan. Dari pengajian kecil itulah lahir santri pertama bernama Umar dari Madiun. Dari satu santri inilah cikal bakal Lirboyo bermula.
Dengan ketekunan dan kesabaran, jumlah santri terus bertambah. Bahkan beliau rela menyediakan sebagian tanahnya untuk tempat tinggal mereka. Jiwa kepemimpinan dan keluasan hatinya tampak nyata dalam setiap langkah perjuangan.
Sumber Keteladanan
Sejak masa nyantri hingga menjadi pengasuh pesantren, beliau tak pernah meninggalkan riyadhah dan tirakat. Malam-malamnya dihidupkan dengan shalat, zikir, munajat, membaca Al-Qur’an, dan muthala’ah kitab. Tidurnya hanya sekadarnya.
Beliau juga dikenal sangat lembut. Dalam berbicara, ia menggunakan bahasa krama inggil sebagai bentuk penghormatan. Ketika menegur santri, ia lebih memilih memberi teladan atau menasihati melalui tulisan yang ditempel di dinding pesantren.
Istiqamahnya luar biasa. Bahkan ketika sakit dan harus berjalan tertatih-tatih, beliau tetap berusaha mengajar dan menjadi imam salat berjamaah.
Akhir Hayat
Memasuki tahun 1950-an, usia beliau mendekati satu abad. Seusai menunaikan haji kedua, kesehatannya menurun hingga mengalami kelumpuhan pada salah satu kaki. Sakit itu dijalani hampir satu setengah tahun dengan penuh kesabaran.
Pada Senin, 21 Ramadan 1373 H bertepatan dengan 24 Mei 1954 M, KH. Abdul Karim berpulang ke rahmatullah. Beliau dimakamkan di belakang Masjid Lawang Songo, di kompleks maqbarah kasepuhan Lirboyo.
Dari beliau, kita belajar bahwa ketekunan, keikhlasan, kesabaran, dan istiqamah adalah kunci meraih kemuliaan. Lirboyo hari ini adalah buah dari tirakat panjang dan perjuangan sunyi seorang hamba yang ikhlas.
Kemuliaan tidak lahir dari nasab atau harta, melainkan dari ilmu dan amal.
Al-Fatihah.
Semoga kita diakui sebagai bagian dari santri beliau. Aamiin.
Wallahu a‘lam.