web analytics

The Lady with The Lamp, Nightingale

0 0
Read Time:2 Minute, 43 Second

Florence Nightingale, seorang putri yang lahir dari keluarga kelas atas di kota Bunga Florence, Italia, pada tahun 1820. Sebelum ia lahir, orangtuanya pergi berjalan-jalan ke Italia, kemudian memutuskan untuk menetap di sana selama 3 tahun karena jatuh hati dengan kota itu, sebelum akhirnya kembali ke Inggris. Nama ‘Florence’ juga diambil dari nama kota tempat kelahirannya.

“The Lady with The Lamp” merupakan julukan yang diberikan untuk Nightingale yang berarti “Malaikat Pembawa Harapan”.  Ia tumbuh di lingkungan serba berkecukupan, sehingga ia memperoleh pendidikan yang sangat baik pada masanya. Di usianya yang ke-20 tahun, ia tertarik pada bidang medis. Dengan suatu alasan, ia mengikuti pelatihan perawat di usianya yang cukup terlambat, yakni 31 tahun selama 7 tahun 3 bulan. Sehingga, ia berhasil meraih berbagai prestasi besar dan membuat kemajuan bagi umat manusia.

Di sisi lain keberhasilannya, begitu banyak rintangan yang menghadangnya dalam meraih cita-citanya. Salah satunya yaitu ketidaksetujuan orangtuanya dengan keputusannya yang memilih untuk menjadi seorang perawat. Hal itu dinilai tidak sesuai dengan kasta mereka. Sebab pada masa itu, anak-anak remaja kelas atas lumrahnya tidak bekerja. Bekerja di rumah sakit dipandang sebagai pekerjaan yang kumuh, bau, riskan, dan penuh kesengsaraan. Nightingale tak memedulikannya. “Aku ingin melakukan apapun untuk membantu dunia ini. Pekerjaan apa saja sanggup kulakukan.”

Nightingale tetap gigih. Ia adalah sosok perempuan yang tumbuh dengan kepribadian yang kuat, keras kepala, sekali mengatakan sesuatu mustahil menariknya kembali. Tutur dan nalarnya begitu kokoh pada prinsip, lugas, dan rasional. Ia persisten dalam meluluhkan hati orangtuanya. Hingga akhirnya berhasil menenangkannya.

Pada tahun 1854, melihat penderitaan korban perang pada Perang Krimea, ia menaruh empati dengan bergabung pada 38 orang perawat untuk terjun langsung ke dalam medan perang. Ia mencurahkan  seluruh tenaganya menolong  korban perang, di rumah sakit perang. Dengan fasilitas, aksesibilitas, dan tenaga yang minim, tentulah bukan pekerjaan yang ringan. Tanpa Lelah, ia mengelola semuanya, hingga ia mengajukan proposal pada Ratu Victoria untuk perbaikan sistem rumah sakit. Sesakit atau sesulit apapun keadaannya, ia tak pernah sekalipun meredupkan senyumannya. Itulah teladan dari seorang Nightingale. Perjuangannya membuat rakyat tersentuh.

Di sela kesibukan aktivitasnya di rumah sakit, ia mengirim surat untuk ibunya untuk mengatakan “Aku begitu menikmati segala hal tentang kehidupanku di tempat ini dan jiwa ragaku sehat. Inilah wujud nyata dari apa yang kucari. Aku telah menyadari arti kehidupan secara utuh dan kematian sia-sia adalah hal yang buruk”.

Bersama Nightingale’s Fund, Ia mendirikan “Nightingale Training School for Nurses” di St Thomas Hospital, London, pada tahun 1860. Itu merupakan lembaga pendidikan keperawatan modern pertama di dunia dan menjadi tonggak sejarah yang membuat perawat menjadi profesi yang dihormati dan diakui secara profeional yang menekankan pentingnya pengetahuan ilmiah, keterampilan klinis, dan etika profesi. Dedikasinya dalam menggapai cita-citanya, kepeduliannya terhadap yang membutuhkan, keteguhan hatinya dalam mencapai suatu kebaikan, dan inovasinya yang berhasil memajukan peradaban umat hingga mengantarkannya menjadi orang pertama yang meraih penghargaan “Order of Merit” pada tahun 1907.

Sebagai bentuk penghargaan terhadap perjuangan dan pengabdiannya, Palang Merah Internasional menjadikan namanya untuk sebuah penghargaan bagi perawat berprestasi, yakni “Nightingale Awards”. Penghargaan tertinggi bagi seorang perawat. Ia menjadi panutan perawat seluruh dunia.

Ia meninggal pada 13 Agustus 1910, di London, Inggris, pada usianya yang sudah mencapai 90 tahun. Hingga saat ini, ia dikenang sebagai pelopor keperawatan modern. Berkat jasanyalah kita bisa memperoleh perawatan yang baik dan damai.

Oleh : Firda Sofi Annisa

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Ibnu Malik: Mushanif Alfiyah Ibnu Malik

Ibnu Malik: Mushanif Alfiyah Ibnu Malik

Mohammad Hatta: Nasionalis dan Kutu Buku

Mohammad Hatta: Nasionalis dan Kutu Buku

Kitab Sirojuj Tholibin, karangan Agung Syekh Ihsan Jampes yang Mendunia

Kitab Sirojuj Tholibin, karangan Agung Syekh Ihsan Jampes yang Mendunia

Jejak Literasi dan Dedikasi Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani

Jejak Literasi dan Dedikasi Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani

Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki: Ulama Teduh yang Moderat-Tawasuth

Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki: Ulama Teduh yang Moderat-Tawasuth

Mengenal Sulthonul Ulama; Syekh Izzuddin bin Abdissalam

Mengenal Sulthonul Ulama; Syekh Izzuddin bin Abdissalam