web analytics

Biografi KH. Maimoen Zubair

0 0
Read Time:3 Minute, 10 Second

KH Maimoen Zubair, atau yang kerap dikenal dengan Mbah Moen adalah ulama kharismatik dan juga tokoh Bangsa, beliau dikenal sebagai sosok yang bisa diterima oleh semua golongan, selalu ramah terhadap siapapun, terutama terhadap tamu, tidak memandang latar belakang, dan semua beliau perlakukan dengan sangat penuh hormat. Beliau lahir di Rembang, Jawa Tengah pada hari kamis legi bulan sya’ban tahun 1347 H atau bertepatan pada tanggal 28 Oktober 1928 M, beliau adalah anak pertama dari sepuluh bersaudara. Ayahnya bernama KH Zubair Dahlan dan Ibunya adalah Nyai Hj Mahmudah, dari jalur silsilah nasab kakek beliau, tersambung sampai kepada Sayyid Muhammad’ Ainul Yaqin (Sunan Giri).

Kematangan dan kedalaman ilmu KH Maimoen Zubair tidak ada satupun yang meragukan. Sebab sejak kecil beliau sudah dibesarkan dengan ilmu-ilmu agama. Sebelum menginjak remaja, beliau dididik oleh ayahnya untuk menghafal dan memahami Ilmu Sharaf, Nahwu, Fiqih, Manthiq, Balaghah, dan bermacam Ilmu Syara’ lainnya.

Menginjak usia remaja, beliau sudah mampu hafal diluar kepala nazam-nazam Al-Jurumiyyah, Imrithi, Alfiyah Ibn Malik, Matan jauharotut Tauhid, Sullamul Munauroq, serta Rohabiyyah fil Faroidl. Sering pula dengan kepiawaiannya beliau mendebat kitab-kitab Fiqih Madzhab Asy-Syafi’i, seperti Fath Al-Qorib, Fath Al-Mu’in, Fath Al-Wahab, dan kitab-kitab sejenisnya.

Pada masa awal kemerdekaan, Mbah Moen memulai pengembaraannya guna berguru ke  KH Abdul Karim di Pondok Pesantren Lirboyo. Selain kepada mbah Manab, Mbah Moen juga menimba ilmu agama dari KH Mahrus Ali dan KH Marzuqi. Mbah Maimoen sendiri mondok di Lirboyo selama kurang lebih tiga tahun, tiga tahun nyantri hanya dianggapnya sebagai gerbang pembuka, untuk setelahnya beliau melakukan pengembaraan mencari ilmu yang lebih jauh yakni ke tanah haram Mekkah Al-Mukarromah yang pada saat itu beliau menginjak usia 21 tahun.

Perjalanan beliau ini dibersamai oleh kakeknya sendiri yakni KH Ahmad bin Syu’aib. Di tanah haram, beliau menimba ilmu kepada banyak ulama, seperti halnya Sayyid Alawi bin Abbas Al Maliki, Syekh Al-Imam Hasan Al-Masysyath, Sayyid Amin Al-Quthbi, Syekh Yasin bin Isa Al-Fadani, dan Syekh Abdul Qodir Al-Mandily.

Setelah dua tahun menetap, beliau kemudian pulang kembali ke tanah air pada tahun 1952. Walaupun beliau telah belajar di Arab, tak membuat beliau merasa cukup dengan ilmu-ilmu yang dimilikinya, semangatnya untuk mengabdi kepada ilmu tak pernah padam, beliau masih tetap melakukan perjalanan untuk berguru ke beberapa Kiai yang ada di Jawa pada waktu itu. Diantara guru beliau yakni, KH Baidhowi, KH Bisri Mushtofa, KH Ma’shum, KH Wahab Chasbullah, KH Abbas, Syekh Abul Fadol Senori dan masih banyak lagi.

Selepas pulang dari mekkah beliau juga menyebarkan ilmunya dengan mengajar para santri, khususnya di Madrasah Al-Ghazaliyah Asy-Syafi’iyah, kemudian pada tahun 1965 Mbah Moen mendirikan pondok pesantren dengan membangun dua kamar, satu kamar untuk santri dan satu untuk musholla, awal-awal Mbah Moen mendirikan pesantren, beliau memiliki empat murid yakni KH Imam yahya, KH Hamid Baidlowi, Kiai Hasib dan KH Ashari. Namun seiring berjalannya waktu banyak santri yang ingin berguru kepada beliau, alhasil setelah melihat besarnya animo para santri yang berkeinginan untuk nyantri dan khidmat kepada Mbah Moen, bangunan Musholla tersebut dijadikan sebagai pondok. Oleh mereka, pondok ini dinamai dengan nama POHAMA (Pondok Haji Maimoen), kemudian setelah beberapa tahun nama POHAMA sendiri diganti dengan nama Al-Anwar, untuk mengenang Abah beliau.

Mbah Moen adalah sosok ulama yang santun, beliau dikenal sebagai Kiai yang moderat, toleran dan cinta damai. Banyak sekali sumbangsih yang beliau berikan bagi perkembangan Islam dan bangsa Indonesia. Beliau adalah sosok panutan bagi semua kalangan terutama para santri dan ulama. Beliau juga menjadi saksi sejarah dan pewaris tradisi dari para ulama terdahulu.

Mbah Moen meninggal dunia pada tanggal 6 agustus 2019 di Mekkah, setelah melaksanakan sholat subuh, atas persetujuan keluarga beliau disemayamkan di pemakaman Ma’la, berdekatan dengan makam guru beliau yakni Sayyid Alawi bin Abbas Al Maliki dan makam istri Rasullulah, Siti Khadijah.

 

 

 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Mengenal Cak Ulin Sang Aktivis dan Infulecer Muda Asal Madiun

Mengenal Cak Ulin Sang Aktivis dan Infulecer Muda Asal Madiun

Sang Murobbi, KH. Imam Yahya Mahrus

Sang Murobbi, KH. Imam Yahya Mahrus

Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan Perkembangan Pendidikan Islam

Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan Perkembangan Pendidikan Islam

Ubay bin Ka’ab, Sang Sayyidul Qurra Pemimpin Para Ahli Bacaan Al Qur’an

Ubay bin Ka’ab, Sang Sayyidul Qurra Pemimpin Para Ahli Bacaan Al Qur’an

Si Kakek yang Ambisius

Si Kakek yang Ambisius

Al-Idrisi: Sang Perintis Peta Dunia yang Mengubah Cara Manusia Melihat Bumi

Al-Idrisi: Sang Perintis Peta Dunia yang Mengubah Cara Manusia Melihat Bumi