Pembaca mungkin tak asing lagi dengan akun @cahpondok yang menyajikan berbagai konten menarik dan seputar informasi mengenai kehidupan santri serta nilai-nilai kepesantrenan. Maka dari itu penulis akan mengajak pembaca berkenalan dengan Cak Ulin salah satu konten kreator @cahpondok yang sukses menjadi infulecer muda dengan latar belakang santri.
Tampil sebagai santri yang humble, cerdas, dan humoris, pemuda asal Madiun dengan nama lengkap Ulinnuhaa Lazulfaawakhusna Ma’aab yang akrab di sapa Cak Ulin merupakan konten creator dari kalangan santri yang sukses memanfaatkan kecanggihan teknologi sebagai wasilah dakwah masa kini.
Cak Ulin memulai karir sebagai konten creator sejak tahun 2015. Dilansir dari laman web NU Online Jatim Cak Ulin mengatakan, “Saya menjadi konten kreator sejak 2015, bersama akun @cahpondok saya sering bereksperimen tentang bagaimana memaksimalkan akun-akun sosial media. Terutama dikalangan santri dan pesantren,” tutur alumnus Pondok Pesantren Tachfidzul Qur’an Roudlotul Hasan, Polorejo, Ponorogo dan PP. Al-Ishlahiyyah Mayan Kediri.
Santri kelahiran 1992 ini memiliki akun instagram pribadi @cakulin dengan pengikut 8,5 ribu follower dan berkontribuksi aktif di akun official @cahpondok yang memiliki pengikut sebanyak 216 ribu follower. Tak hanya itu, selain aktif dalam dunia perkontenan, Cak Ulin juga aktif berperan di bidang organisasi dan komunitas yang berlatar belakang santri, salah satu diantaranya yakni AISNU (Arus Informasi Santri Nusantara).
Cak Ulin mengatakan, “Sampai saat ini Saya juga masih aktif di komunitas Aisnusantara. Saya dulu juga termasuk salah satu sosok awal yang berperan dalam berdirinya Aisnusantara.”
Berangkat dari antusiasme dan optimisme yang melekat dalam jati diri cak ulin, beliau juga memiliki banyak relasi dengan berbagai organisasi, seperti aktif berkolaborasi dengan Pimpinan Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Kementerian Agama (Kemenag), Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo), Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), dan Lembaga Amil Zakat Nahdlatul Ulama (LAZISNU).
Sebagai pribadi yang aktif dalam dunia organisasi beliau mengatakan bahwa terdapat beberapa tantangan tersendiri ketika mengkonversikan keilmuan pesantren ke media sosial. Karena tidak mudah untuk membuat kajian ilmu pesantren yang luas diterima kalangan masyarakat hanya dengan menggunakan platform-patform singkat. Namun, meskipun demikian, usaha tersebut harus tetap dilakukan agar tradisi pengajian pesantren dapat dinikmati khalayak dengan mudah.
Cak Ulin menjelaskan, “Kita terbiasa belajar secara runtut dan sistematis sehingga memang agak sulit ketika dikonversi ke konten publik yang ringkas dan mudah diterima. Namun kita berusaha menjembatani itu dengan konten-konten satu menitan, istilahnya mendigitalisasi pesantren,” jelas Koordinator Bidang Kepesantrenan.
Melalui ranah media sosial yang memiliki jangkauan mendunia dan tak memandang gender juga usia, Cak Ulin berharap agar dunia pesantren tidak skepstis dengan kemajuan teknologi, namun justru harus membaur dan memanfaatkannya sebagai ruang dakwah dan diskusi.
Beliau juga mengatakan, “Tetap ada batasan, jadi tetap ada sekat-sekat antara teknologi dan sekat keilmuan pesantren. Dan kawan-kawan di pesantren juga jangan skeptis terhadap kemajuan teknologi yang ada,” jelas Koordinator Aisnusantara Masa Khidmat 2024-2027.
Oleh sebab itu, guna memanfaatkan kemajuan zaman yang diiringi dengan pesatnya kemajuan teknologi. Cak Ulin mengajak para alumi pesantren agar bersama-sama menjembatani media dakwah melalui media sosial.
Karena sejatinya kajian ilmu pesantren begitu luas dan beragam, mulai dari ilmu nahwu hingga tafsir Al-Qur’an. Dengan memberikan penjelasan yang memahamkan singkat, padat, dan jelas, Cak Ulin berharap para alumnus dapat berinovasi untuk mengoptimalkan media sosial sebagai media dakwah yang mudah dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat baik tua maupun muda.
Wallahu a’lam.