web analytics

Ibnu Malik: Mushanif Alfiyah Ibnu Malik

0 0
Read Time:4 Minute, 8 Second

Siapa yang belum mengenal kitab atau nandom Alfiyah Ibnu Malik? Pasti sudah banyak yang mengetahui kitab ini, terutama dikalangan pesanteren, Alfiyah Ibn Malik ini sudah menjadi anggapan umum bahwa santi belum dikatakan benar-benar menguasai ilmu nahwu dan sharaf jika belum belajar Alfiyah Ibn Malik. Bagaimana tidak, rata-rata pondok pesantren kitab ini dipelajari santri tingkatan menengah keatas. Misalnya, dipesantren Al-Mahrusiyah Putri Lirboyo calon santri yang ingin masuk madrasah diniyah tingkatan aliyah salah satu persyaratan harus berbekal hafalan minimal 150 dari nadhom Alfiyah Ibn Malik untuk bisa losos tes masuk tingkat aliyah. Lantas sosok siapa mushonif dari kitab yang sanagt terkenal ini?

Beliau adalah Ibnu Malik yang meruapakan salah seorang putra terbaik di Spayol (kala itu namanya masih Andulusia). Nama lengkap beliau adalah Abu ‘Abd Allah Jamal Al-Din Muhammad Bin Muhammad Bin ‘Abd Allah Bin Malik At-Tha’i Al-Jaayyani. Beliau lahir di Andalusia(Jayyan) pada tahun 598 H (pendapat lain mengatakan tahun 600 H) dan wafat di kota Damaskus (Suriah) pada tahun 672 H. Nama belakang beliau yakni At-Tha’i menunjukkan bahwa beliau keturunan kabilah Thai. Sedangkan al-Jayyani menunjukkan bahwa beliau berasal dari daerah Jayyan.

Apa alasan beliau populer dengan nama Ibnu Malik?

Ada dua pendapat mengenai alasan mengapa beliau populer dengan nama ibnu malik:

  1. Karena Ibnu Malik pada saat itu sangat kuat dalam mengikuti pendapatnya Imam Malik dalam bidang fikih.

Ibnu Malik memang sempat ber madzhab Maliki. Yakni pada saat beliau masih berada di Andulusia. Karena, madzhab Maliki merupakan mayoritas umat islam diwilayah tersebut. Namun, setelah menetap di Damaskus, beliau bermadzhab Syfi’i.

  1. Karena kakek beliau bernama Malik yang lebih terkenal daripada Ibnu Malik. Sehingga nama kakeknyalah yang lebih melekat dlam dirinya.

Siapa saja sih yang menjadi guru beliau?

Guru-guru Ibnu Malik sanagat banyak, karena beliau sudah memulai studinya sejak masih tinggal di Andulusia. Diantara nama-nama guru beliau yakni Tsabit Bin Khayyat(w.628 H) dan Abu ‘Ali Al-Syalubin( w. 645 H). Guru-guru beliau saat beliau di Syam  adalah Al-Shakwi(w. 643 H) Ibn Shabah (w.632 H) , Ibn Abi Al-Shaqr (w. 635 H), Ibn Ya’isy (w. 643 H) dan Ibnu Amrun   ( w. 649 H).

Diantara beberapa guru beliau diatas Al-Sakwi lah yang terus mendorong Ibnu Malik   untuk menulis nadzom, qiro’at  dan rahasia-rahasia ilmu nahwu. Sedangkan yang mengajrakan Ibnu Malik untuk kajian Al-Quran, hadits, dan bahasa  adalah Ibn Amrun. Beliau dapat meneyelesaikan karya qoshidah  yang bernama Daliyyah dan Lamiyyah, seperti judul qosidah tersebut isi dari qosidah ini berakhiran huruf lam dan dal semua.

Apa saja karya-karya Ibnu Malik?

            Karya beliau yang sangat familiar adalah Alfiyah Ibnu Malik yang membahs ilmu nahwu dan shorof. Ternyata masih sangat banyak karya-karya beliau dibidang lainnya yakni bahasa dan qiroat.

  1. Karya Ibnu Malik dibidang ilmu nahwu diantaranya Al-Khafiyah Al-Syafiyah, Al-Wafiyah fi Syarah Al-Kafiyah al-Syafiyah, Al- Khulashah atau Alfiyah Ilbn Malik, Thasil al-Fawaid wa Takmil al-Maqashid, Syarh al-Thasil, Al-muashshal fi Nazhm al-Mufashshal, Sabak al-Manzum wa Fakk al-Makhtum, ‘Umdah al-Hafizh wa Iddah al-Lafizh, Syarh ‘umdah al-Hafizh wa ‘iddah dan masih banyak lagi.
  2. Karya ibnu malik dibidang sharaf adalah I’jaz al-Ta’rif ‘ilm al-Tashrif, dan Syarh Tashrif Ibnu Malik.
  3. Karya beliau dibidang ilmu bahasa diantaranya Nazm Al-Faraid, Ikmal Al-I’lam Bi Mutsallats Al-Kalam, Ikmal Al-I’lam Bi Tatslits al-Kalam, Tsulatsiyyat al-A’ral, Lamiyyah al-Af’al, Syarh Lamiyyah al-af’al, Tufah al-Maudad fi al-Maqshur wa al-Mamdud , Syarh Tufah al-Maudud, Al-I’tidlad fi al-Farq baina al-Zha’ wa al-Dlad, Urjuzah Ukhra fi al-Tha’ wa al-Shad, Al-Nadhm al-Aujaz fi Ma Yahmuz wa Ma Yahmuz dan syarahnya, Al-Wifaq fi al-Ibdal, Kitab al-Afazh al-Mukhtalifah, Dzkir Ma’ani Abniyah al-Asma’ al-Mujadah fi al-Mufashshal, Mnzhumah fi Ma Warad min al-Af’al bi al-Waw wa al-Ya’ dan katib al-shaghir.
  4. Karya Ibnu Malik dibidang ilmu Qiro’at adalah Al-Malikiyyah fi al-Qur’an dan Al-Lamiyyah fi al-Qira’at.

Dari Alfiyah Ibn Malik sendiri, disebutkan ada sekitar 40 ulama yang menyarahi kitab ini. Kemudian beberapa syarh Alfiyah Ibn Malik ini juga banyak mendapatkan hasyiah dari para ulama.

Dari banyaknya karya-karya dan kemasyhuran tentang kepintaran ilmu nahwu dan sharafnya beliau, ada cerita menarik dari beliau. Ternyata Ibnu Malik tidak memeiliki begitu banyak murid, karena diduga karena kondisi keamanan pada saat itu tidak menentu akibat  perang menjadikan oraang-orang khawatir akan kemanannya. Adapun beberapa murid-murid beliau diantaranya Imam al-Nawawi yang bernama lengkap Abu Zakariya Muhyi al-Din al-Nawawi , Ibn Nuhas, Ibn ‘Athar, Ibn Abi Fath, dan Badr al-Din  Kahlan yang merupakan putra Ibnu Malik sendiri.

Tokoh besar ilmu nahwu dan sharaf ini menghadap sang pencipta di Damaskus pada 12 Sya’ban 672 H. Jenazah beliau dibawa ke Masjid Umawiyyah untuk di shalatakan, yang kemudian dimakamakan di Safah Qasiyyun, Damaskus.

Oleh: Nasywa

 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Tagged with:
biografi

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
The Lady with The Lamp, Nightingale

The Lady with The Lamp, Nightingale

Mohammad Hatta: Nasionalis dan Kutu Buku

Mohammad Hatta: Nasionalis dan Kutu Buku

Kitab Sirojuj Tholibin, karangan Agung Syekh Ihsan Jampes yang Mendunia

Kitab Sirojuj Tholibin, karangan Agung Syekh Ihsan Jampes yang Mendunia

Jejak Literasi dan Dedikasi Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani

Jejak Literasi dan Dedikasi Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani

Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki: Ulama Teduh yang Moderat-Tawasuth

Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki: Ulama Teduh yang Moderat-Tawasuth

Mengenal Sulthonul Ulama; Syekh Izzuddin bin Abdissalam

Mengenal Sulthonul Ulama; Syekh Izzuddin bin Abdissalam