Siapa yang belum mengenal kitab atau nandom Alfiyah Ibnu Malik? Pasti sudah banyak yang mengetahui kitab ini, terutama dikalangan pesanteren, Alfiyah Ibn Malik ini sudah menjadi anggapan umum bahwa santi belum dikatakan benar-benar menguasai ilmu nahwu dan sharaf jika belum belajar Alfiyah Ibn Malik. Bagaimana tidak, rata-rata pondok pesantren kitab ini dipelajari santri tingkatan menengah keatas. Misalnya, dipesantren Al-Mahrusiyah Putri Lirboyo calon santri yang ingin masuk madrasah diniyah tingkatan aliyah salah satu persyaratan harus berbekal hafalan minimal 150 dari nadhom Alfiyah Ibn Malik untuk bisa losos tes masuk tingkat aliyah. Lantas sosok siapa mushonif dari kitab yang sanagt terkenal ini?
Beliau adalah Ibnu Malik yang meruapakan salah seorang putra terbaik di Spayol (kala itu namanya masih Andulusia). Nama lengkap beliau adalah Abu ‘Abd Allah Jamal Al-Din Muhammad Bin Muhammad Bin ‘Abd Allah Bin Malik At-Tha’i Al-Jaayyani. Beliau lahir di Andalusia(Jayyan) pada tahun 598 H (pendapat lain mengatakan tahun 600 H) dan wafat di kota Damaskus (Suriah) pada tahun 672 H. Nama belakang beliau yakni At-Tha’i menunjukkan bahwa beliau keturunan kabilah Thai. Sedangkan al-Jayyani menunjukkan bahwa beliau berasal dari daerah Jayyan.
Apa alasan beliau populer dengan nama Ibnu Malik?
Ada dua pendapat mengenai alasan mengapa beliau populer dengan nama ibnu malik:
Ibnu Malik memang sempat ber madzhab Maliki. Yakni pada saat beliau masih berada di Andulusia. Karena, madzhab Maliki merupakan mayoritas umat islam diwilayah tersebut. Namun, setelah menetap di Damaskus, beliau bermadzhab Syfi’i.
Siapa saja sih yang menjadi guru beliau?
Guru-guru Ibnu Malik sanagat banyak, karena beliau sudah memulai studinya sejak masih tinggal di Andulusia. Diantara nama-nama guru beliau yakni Tsabit Bin Khayyat(w.628 H) dan Abu ‘Ali Al-Syalubin( w. 645 H). Guru-guru beliau saat beliau di Syam adalah Al-Shakwi(w. 643 H) Ibn Shabah (w.632 H) , Ibn Abi Al-Shaqr (w. 635 H), Ibn Ya’isy (w. 643 H) dan Ibnu Amrun ( w. 649 H).
Diantara beberapa guru beliau diatas Al-Sakwi lah yang terus mendorong Ibnu Malik untuk menulis nadzom, qiro’at dan rahasia-rahasia ilmu nahwu. Sedangkan yang mengajrakan Ibnu Malik untuk kajian Al-Quran, hadits, dan bahasa adalah Ibn Amrun. Beliau dapat meneyelesaikan karya qoshidah yang bernama Daliyyah dan Lamiyyah, seperti judul qosidah tersebut isi dari qosidah ini berakhiran huruf lam dan dal semua.
Apa saja karya-karya Ibnu Malik?
Karya beliau yang sangat familiar adalah Alfiyah Ibnu Malik yang membahs ilmu nahwu dan shorof. Ternyata masih sangat banyak karya-karya beliau dibidang lainnya yakni bahasa dan qiroat.
Dari Alfiyah Ibn Malik sendiri, disebutkan ada sekitar 40 ulama yang menyarahi kitab ini. Kemudian beberapa syarh Alfiyah Ibn Malik ini juga banyak mendapatkan hasyiah dari para ulama.
Dari banyaknya karya-karya dan kemasyhuran tentang kepintaran ilmu nahwu dan sharafnya beliau, ada cerita menarik dari beliau. Ternyata Ibnu Malik tidak memeiliki begitu banyak murid, karena diduga karena kondisi keamanan pada saat itu tidak menentu akibat perang menjadikan oraang-orang khawatir akan kemanannya. Adapun beberapa murid-murid beliau diantaranya Imam al-Nawawi yang bernama lengkap Abu Zakariya Muhyi al-Din al-Nawawi , Ibn Nuhas, Ibn ‘Athar, Ibn Abi Fath, dan Badr al-Din Kahlan yang merupakan putra Ibnu Malik sendiri.
Tokoh besar ilmu nahwu dan sharaf ini menghadap sang pencipta di Damaskus pada 12 Sya’ban 672 H. Jenazah beliau dibawa ke Masjid Umawiyyah untuk di shalatakan, yang kemudian dimakamakan di Safah Qasiyyun, Damaskus.
Oleh: Nasywa