Kediri, Elmahrusy Media.
Senja di Kediri hari ini (17/07), terasa lebih indah dan hangat. Betapa tidak, seorang Kalis Mardiasih selaku penulis dan aktivis feminis itu datang dan singgah di sini!
Tentu ini kabar yang menggembirakan.
Kedatangan Mbak Kalis tentu bukan hanya sekedar untuk menikmati indah Sungai Brantas atau mencicip Pecel Dhoho. Kedatangan beliau ke Kediri dengan membawa kabar dari tujuan forum bedah bukunya yang terbaru, “Parenting di Negara Gagal”.
Dari rencana awal di Bluerry Kediri, acara bedah buku itu dialihkan ke Taman Baca Mahanani. Jam 18.30 WIB dari waktu yang dijadwalkan, acara itu dimulai.
Buku ini dirasa menjadi bahan bacaan yang sangat penting. Mbak Kalis dalam penjelasannya mengatakan bahwa “Buku ini terlahir dari sebuah keresahan sebagai orang tua, penulis, dan penjual buku.”
“Saya banyak membaca tentang berbagai macam jenis dan konsep parenting. Seperti di Firland. Tapi jika kita lihat realitas di negara kita, itu akan menjadi sulit diterapkan.”
“Itu kenapa, buku ini menjadi beda. Bukan hanya soal parenting yang berbasis psikologis dan pendidikan. Tapi parenting dengan basis politik.”
Acara itu dibuka dengan sesi pemaparan isi dari Mbak Kalis yang diarahkan dengan berbagai pertanyaan-pertanyaan moderator perihal isi buku secara keseluruhan, kemudian sesi selanjutnya diserahkan pada peserta yang ingin bertanya.
Lengkap sudah, antrian banyak tangan yang terangkat ingin bertanya.
Para peserta pada acara itu cukup beragam, mulai dari mahasiswa, karyawan, seniman, hingga para ibu-ibu muda yang merasa butuh dengan materi parenting ini.
Mbak Kalis dalam bukunya, ia menyoroti bahwa negara ini benar-benar gagal dalam mengelola rakyatnya. Dari berbagai lapisan, ketimpangan-ketimpangan itu kian nyata. Ruang aman menjadi hal yang penting untuk dimiliki oleh masyarakat kini. Dengan berbagai persoalannya, kita punya tanggung jawab atas pendidikan moral bangsa ini yang harus dimulai dari keluarga.
“Kalimat ‘Negara Gagal’ dalam buku ini tuh bukanlah metafora. Negaramu nih memang gagal!” Kelakar Mbak Kalis yang disambut gelak tawa peserta.
Selain soal ketimpangan dan ruang aman, Mbak Kalis menyoroti perihal konsep kepemimpinan negara ini yang terkesan terlalu kepemimpinan maskulin. Dalam artian, negara ini berfokus dengan berlandakan pembangunan, bukan perawatan. Dan itu menjadi masalah.
Kemudian, istri dari Agus Mulyadi itu juga turut memberi pandangan solusi yang bisa kita perbuat kini adalah dengan mempolitisasi waktu luang berupa mencipakan guyub rukun kolektif di ruang publik. Memberikan apa yang bisa kita beri untuk sesama, bahwa kita bisa saling jaga dan peduli satu sama lain: warga jaga warga, warga dukung warga.
Sampai salah seorang mahasiswa yang bertanya dan mengeluhkan, kenapa rasanya negara kita ini begitu mengesampingkan pendidikan. Mbak Kalis menjawab, “Jika dijawab dengan jawaban baper, karena negara memang tidak sayang rakyatnya. Pemerintah tidak sesayang itu pada kita.”
Mbak Kalis meneruskan, “Kenapa kita harus marah? Kenapa kita harus berani? Karena kita punya nilai! Karena kita harus punya nilai!”
Di luar itu, Mbak Kalis banyak memberikan cerita-cerita dari apa yang ia alami. Berita yang buruk, keadilan yang menyeleweng, hingga kemiskinan dan guyonan yang membuat peserta merasa dekat dengan apa yang sedang dijelaskan.
Pun tidak kurang rasanya, meski buku “Parenting di Negara Gagal” ini terkesan politis, Mbak Kalis tak kurang menjelaskan perihal parenting yang psikologis. Seperti saat menjawab keresahan dari salah satu guru TK perihal anak dan muridnya:
“Mulailah berani membicarakan hal berat pada anak, mau tak mau. Pekerjaan seperti apa yang dimiliki orang tuanya, status dan realita apa yang menimpa dirinya yang belum tentu sama dengan temannya. Lingkup kemauan, kemampuan, dan kebutuhan. Itu harus berani disampaikan. Anak akan tau dan mengerti kok.”
Semakin malam, acara bedah buku itu kian ramai. Saling bersilang tanya dan jawab, lempar fokus dan humor. Malam itu menjadi ruang berbagi yang menyenangkan.
Hingga pada sesi akhir, Mbak Kali memberikan closing steatment:
“Bahwa kita warga negara, kita tidak hidup sendiri. Dari keluarga, sekolah, hingga masyarakat. Kekuatan kita besar. Tetap jaga kewargaan. Parenting menjadi tanggung jawab kita bersama.”
Wallahu a’lam.