web analytics

LBM HM Al-Mahrusiyah Lirboyo Gelar Penataran Aktivis Bahtsul Masail

0 0
Read Time:1 Minute, 45 Second

Kediri, Elmahrusy Media — Lajnah Bahtsul Masail (LBM) Pondok Pesantren HM Al-

Mahrusiyah Lirboyo, Kediri, menggelar acara seminar bertema “Penataran Aktivis Bahtsul

Masail HM Al-Mahrusiyah” pada Kamis (24/7).

LBM merupakan sebuah lembaga yang menaungi forum musyawarah fikih, mulai dari

tingkat angkatan dan pondok pesantren, hingga menjadi delegasi dalam Forum

Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP) se-Jawa-Madura.

Acara dimulai pada pukul 08.10 WIB. Sebelumnya, para santri yang bertindak sebagai

ketua kelas (rois) diinstruksikan untuk menghadiri acara tersebut memakai kemeja putih,

peci putih, serta membawa alat tulis.

Rangkaian acara diawali dengan pembukaan dan dilanjutkan sambutan oleh Ketua 1 LBM,

perwakilan dewan rois, perwakilan tamu undangan, serta perwakilan kantor pondok

pesantren yang disampaikan oleh Bapak Ulin Nuha. Selain itu, sambutan juga disampaikan

oleh beberapa perwakilan peserta rois yang sekaligus menjadi aktivis bahtsul masail di

kalangan santri.

Acara ini menghadirkan K.H. Muhammad Hamim Hadlori sebagai pemateri. Beliau juga

menjabat sebagai perumus di Pengurus Wilayah Lajnah Bahtsul Masail (PW LBM) Jawa

Timur. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa bahtsul masail adalah sebuah

seni unik ketika seorang santri dituntut untuk memahami hukum furu’iyah dari

permasalahan fikih dalam kehidupan sehari-hari.

Beliau menambahkan bahwa untuk menjadi ahli bahtsu yang andal, seseorang harus

 

melewati tiga tahapan, yaitu menjadi ahli furu’, kemudian ahli ushuliyyin (pakar kaidah-

kaidah fikih), dan terakhir menjadi ahli bahtsu. Menurut beliau, ahli bahtsu adalah

 

seseorang yang mampu mencetuskan hukum dengan menggunakan pendekatan hukum

fikih yang telah ada atau bertaklid kepada para imam terdahulu.

Pada akhir acara, doa dipimpin oleh Agus Ahmad Nasyruddin Moenir selaku dzurriyah

Pondok Pesantren HM Al-Mahrusiyah. Sebelum berdoa, beliau berpesan bahwa orang yang

menjadi ahli bahtsu adalah orang-orang pilihan yang diutus langsung oleh Allah untuk

menjadi paku di tengah masyarakat. “Akan tetapi, jika tidak bisa menjadi paku beton,

minimal seorang santri menjadi paku kecil yang menyambungkan satu kayu dengan kayu

lainnya,” tutur beliau.

Hal tersebut selaras dengan dawuh K.H. Abdul Karim: “Santri kalau pulang harus jadi

paku. Artinya, paku digunakan untuk membangun rumah sebagai tempat berteduh.

Demikian pula santri, ketika pulang dari pondok, ia ibarat orang yang membangun rumah

yang mampu mengayomi masyarakat.”

Wallahu a’lam.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Gus Baha: “Yai Imam Itu Santri Pertama Pondok Sarang!”

Gus Baha: “Yai Imam Itu Santri Pertama Pondok Sarang!”

Peringatan Haul K.H Imam Yahya Mahrus Ke-15

Peringatan Haul K.H Imam Yahya Mahrus Ke-15

Peringatan Haul Ke-15 Nostalgia Peran dan Keteladanan Kiai Imam Yahya Mahrus

Peringatan Haul Ke-15 Nostalgia Peran dan Keteladanan Kiai Imam Yahya Mahrus

Suasana Haru Haul KH. Imam Yahya Mahrus di Pondok Pesantren Ar- Roudloh HM Al- Mahrusiyah Putri Lirboyo

Suasana Haru Haul KH. Imam Yahya Mahrus di Pondok Pesantren Ar- Roudloh HM Al- Mahrusiyah Putri Lirboyo

Pondok Pesantren Ar- Roudloh HM Al-Mahrusiyah Putri Lirboyo Gelar Marhaba 2026 Menyambut Santri Baru

Pondok Pesantren Ar- Roudloh HM Al-Mahrusiyah Putri Lirboyo Gelar Marhaba 2026 Menyambut Santri Baru

Ahmad Tohari: Pesan untuk Santri

Ahmad Tohari: Pesan untuk Santri