Kediri, Elmahrusy Media,
(26/12), sore di bawah semburat langit jingga bumi Lirboyo, bertepatan dengan tanggal 5 Rojab 1447 hijriyah, sholawat burdah menggema di seluruh penjuru Aula Al-Fatah Asrama Darur Rosyidah. Rutinitas yang dilaksanakan seminggu sekali secara bergantian di Asrama Darsyi dan Darzen ini merupakan acara yang paling dinanti oleh para ibu-ibu jamaah dan santri untuk mendengar sekapur sirih dari Ning Ochi.
Pada kesempatan kali ini, Ning Ochi bersama sang putri kecil Mehra, menyampaikan seulas keistimewaan Rojab dan rahasia bacaan tahiyat. Ning Ochi ngendikan, “Bulan Rojab ini merupakan bulan yang dimuliakan Allah. Bulan Rojab, Sya’ban, dan Romadhon merupakan bulan adzimah yang memiliki segudang anugrah,” tutur beliau kepada jamaah burdah.
Ning Ochi melanjutkan bahwasannya bulan Rojab merupakan bulan pemanasan karena Allah mengguyurkan banyak maghfirohnya. Maka dari itu, kita sebagai umat muslim dianjurkan memperbanyak do’a;
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah (umur) kami hingga bulan Ramadhan”
Ning Ochi melanjutkan bahwasannya bulan Rojab merupakan bulan pemanasan karena Allah mengguyurkan banyak maghfirohnya. Maka dari itu, kita sebagai umat muslim dianjurkan memperbanyak do’a;
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah (umur) kami hingga bulan Ramadhan”
Beliau menjelaskan, “Mengapa kita meminta wa ballighna Ramadhana, karena usia tidak ada yang tahu jadi semoga kita dipanjangkan umurnya hingga berjumpa dengan Bulan Romadhon yang mulia,” jelas pengasuh PP HM Al- Mahrusiyah Asrama Darur Rosyidah.
Selain itu, di Bulan Rojab ini juga banyak momentum istimewa bagi umat muslim, salah satunya yakni peristiwa Isro’ Mi’roj. Peristiwa yang terjadi pada malam 27 Rojab di tahun ke-10 atau 11 kenabian, merupakan sebuah perjalanan kilat nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram Mekkah ke Masjidil Aqsha hingga langit ke tujuh dan sidratul muntaha. Dalam perjalanan tersebut terdapat sirah istimewa yang tersemat abadi dalam bacaan tahiyat.
Ning Ochi dawuh, “Tahiyat itu percakapan yang indah antara nabi Muhammad SAW dengan Allah SWT. Saat membaca tahiyat kita seperti membaca sejarah,” tutur putri bungsu Ibu Nyai Hj Zakiyah Miskiyah Al-Ishaqi.
Ning Ochi menceritakan bahwa kala nabi Muhammad SAW memasuki Arsy Allah azza wa jalla, beliau mengucap salam assalmualaikum namun Allah tidak menjawab salam beliau. Kemudian nabi bertanya kepada malaikat Jibril, “Ya Jibril kenapa Allah tidak menjawab salamku?” Malaikat Jibril pun menjawab, “Allah adalah salam itu sendiri, yakni As-Salam salah satu dari 99 asma’ul husna.”
Mendengar jawaban malaikat Jibril, nabi Muhammad berinisiatif mengucap salam dengan kalimat lain yakni;
التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ ِللهِ
Semua penghormatan, pengagungan dan pujian hanyalah milik Allah
Kemudian Allah pun menjawab salam nabi Muhammad;
السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Segala pemeliharaan dan pertolongan Allah untukmu wahai Nabi, begitu pula rahmat Allah dan segala karunianya
Setelah mendapat berkah dari Allah SWT, kanjeng nabi tidak serta merta melupakan umatnya dan beliau pun kembali mengucap salam;
السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ
Semoga perlindungan dan pemeliharaan diberikan kepada kami dan semua hamba Allah yang shalih.
Dari cuplikan kisah istimewa yang tersemat indah dalam bacaan tahiyat dan senantiasa kita baca setiap sholat merupakan bukti bahwa Nabi Muhammad SAW sangat menyayangi para umatnya, sampai-sampai beliau tidak lupa kepada umatnya kala Allah memberikan kenikmatan istimewa. Hingga akhir hayatpun, kalimat terakhir yang beliau sebut adalah “Ummati, ummati, ummati,”
Masyaallah begitu indah akhalq nabi Muhammad SAW dan semoga kita mendapat syafaat beliau di yaumil qiyamah kelak. Aamiin.
Melanjutkan dawuh Ning Ochi, sebelum beliau mengakhiri sekapur sirih, Ning Ochi berpesan, “Monggo (silahkan) di bulan Rojab kita meningkatkan himmah (tekad) kita semua untuk lebih dekat kepada Allah. Sekarang kita nyelengi (menabung) perhatian Allah di bulan Rojab, perhatian nabi Muhammad di bulan Sya’ban, dan kita panen di bulan Romadhon, mari kita tingkatkan kualitas ibadah,” tutur beliau menutup sambutan.
Di bulan Rojab perbanyak istighfar
Di bulan Sya’ban perbanyak sholawat
Dan di bulan Romadhon kita panen dengan meningkatkan kualitas ibadah
Wallahu a’lam.