Suatu hari, seorang pedagang mie ayam terlihat diam-diam sedang memasak indomie.
“Kenapa?” Pergok pembeli.
“Kenapa?!” Sewot, bingung, dan kaget penjual yang terpergok.
“Pertama, kamu penyedia mie. Kedua, indomie yang kamu masak diam-diam itu rasa ayam bawang. Bukankah keduanya sama-sama mie dan berayam?”
Hmm, pembeli yang bijak dan bajik. Peka dan kritis. Pasti bukan pembeli mie biasa. Atau malah ia bukan pemakan mie?
Batin si penjual itu.
“Pertama, rumput tetangga tampak lebih hijau. Kedua, mie ayam itu usahaku sedangkan indomie itu hasilku.”
Air wajah penjaja mie itu tampak meyakinkan. Prinsip teguh dan jiwa patriotik. Harga diri sekeras baja. Harapan lebih panjang dari bulir keringat di atas bibir yang belum tumbuh kumis bahkan sruput.
Pembeli itu berkelakar.
“Tapi maaf tuan, sebelumnya saya setuju soal kalimat ‘rumput tetangga tampak lebih hijau’ dan ‘mie ayam itu usahaku’. Tapi untuk ‘indomie itu hasilku’? Bukankah indomie itu seleraku?!”
Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Find some desired keywords.