web analytics

Mie Ayam

0 0
Read Time:43 Second

Suatu hari, seorang pedagang mie ayam terlihat diam-diam sedang memasak indomie.

“Kenapa?” Pergok pembeli.

“Kenapa?!” Sewot, bingung, dan kaget penjual yang terpergok.

“Pertama, kamu penyedia mie. Kedua, indomie yang kamu masak diam-diam itu rasa ayam bawang. Bukankah keduanya sama-sama mie dan berayam?”

Also Read: Kutu

Hmm, pembeli yang bijak dan bajik. Peka dan kritis. Pasti bukan pembeli mie biasa. Atau malah ia bukan pemakan mie?

Batin si penjual itu.

“Pertama, rumput tetangga tampak lebih hijau. Kedua, mie ayam itu usahaku sedangkan indomie itu hasilku.”

Air wajah penjaja mie itu tampak meyakinkan. Prinsip teguh dan jiwa patriotik. Harga diri sekeras baja. Harapan lebih panjang dari bulir keringat di atas bibir yang belum tumbuh kumis bahkan sruput.

Pembeli itu berkelakar.

“Tapi maaf tuan, sebelumnya saya setuju soal kalimat ‘rumput tetangga tampak lebih hijau’ dan ‘mie ayam itu usahaku’. Tapi untuk ‘indomie itu hasilku’? Bukankah indomie itu seleraku?!”

Also Read: Surat

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Kutu

Kutu

Gonjang-Ganjing Seekor Kambing

Gonjang-Ganjing Seekor Kambing

Surat

Surat

Kudapan

Kudapan

Jemuran Oh Jemuran

Jemuran Oh Jemuran

Di Antara Rak-Rak yang Sunyi

Di Antara Rak-Rak yang Sunyi