web analytics

Kudapan

0 0
Read Time:51 Second

Suatu hari, bertemu Pak Tohari.

“Maaf, Pak. Kami hanya membawa sepotong sastra pesantren dan polemik literasi yang ala kadar. Semoga berkenan.” Keresek lusuh itu dihaturkan.

“Tidak perlu bermuram dan mengecil seperti itu. Saya sudah berumur, sudah kenyang soal makanan. Silahkan duduk.”

Saya, kami, dan Pak Tohari, duduk bersama di pangkuan sore dengan sembari sesekali menyantap kudapan.

Also Read: Kutu

Menikmati apa yang bisa dinikmati, pun yang tidak.

“Apa cita-cita kalian?”

Pak Tohari mengawali.

Salah satu dari kami menjawab:

“Saya ingin melahirkan, Pak!”

“Kan kamu bukan perempuan?”

Also Read: Surat

“Itu kenapa saya menulis, Pak!”

“Sungguh mulia cita-citamu.”

Senyum itu dibalas senyum.

Also Read: Mie Ayam

“Bersenggamalah dengan bajik dan bijak, berbahagialah dalam mengandung, segeralah lahir, semoga anak-anakmu menjadi sastrawi dan pemberani.” Lanjutnya.

Setelah itu, tidak banyak pilihan, Pak Tohari mengajak-tulari tata cara memasak dan memakan. Kudapan ala kadar itu disulap menjadi menu yang lezat dan mengenyangkan.

Karena terlalu kenyang, kami menjadi mabuk, muntah-muntah di sana.

Sore tak lagi sudi memangku kami, ia ngambek: ia memasrahkan pada malam.

Sungguh Pak Tohari, Si Penyihir!

 

 

 

 

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Kutu

Kutu

Gonjang-Ganjing Seekor Kambing

Gonjang-Ganjing Seekor Kambing

Surat

Surat

Mie Ayam

Mie Ayam

Jemuran Oh Jemuran

Jemuran Oh Jemuran

Di Antara Rak-Rak yang Sunyi

Di Antara Rak-Rak yang Sunyi