Suatu hari, bertemu Pak Tohari.
“Maaf, Pak. Kami hanya membawa sepotong sastra pesantren dan polemik literasi yang ala kadar. Semoga berkenan.” Keresek lusuh itu dihaturkan.
“Tidak perlu bermuram dan mengecil seperti itu. Saya sudah berumur, sudah kenyang soal makanan. Silahkan duduk.”
Saya, kami, dan Pak Tohari, duduk bersama di pangkuan sore dengan sembari sesekali menyantap kudapan.
Menikmati apa yang bisa dinikmati, pun yang tidak.
“Apa cita-cita kalian?”
Pak Tohari mengawali.
Salah satu dari kami menjawab:
“Saya ingin melahirkan, Pak!”
“Kan kamu bukan perempuan?”
“Itu kenapa saya menulis, Pak!”
“Sungguh mulia cita-citamu.”
Senyum itu dibalas senyum.
“Bersenggamalah dengan bajik dan bijak, berbahagialah dalam mengandung, segeralah lahir, semoga anak-anakmu menjadi sastrawi dan pemberani.” Lanjutnya.
Setelah itu, tidak banyak pilihan, Pak Tohari mengajak-tulari tata cara memasak dan memakan. Kudapan ala kadar itu disulap menjadi menu yang lezat dan mengenyangkan.
Karena terlalu kenyang, kami menjadi mabuk, muntah-muntah di sana.
Sore tak lagi sudi memangku kami, ia ngambek: ia memasrahkan pada malam.
Sungguh Pak Tohari, Si Penyihir!
Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Find some desired keywords.