web analytics

Biru Sunyi

0 0
Read Time:7 Minute, 13 Second

Pagi itu, Auliya duduk di bangku dekat jendela kelas. Pandangannya menyusuri gedung-gedung dan halaman sekolah yang ramai oleh lalu-lalang siswa. Sementara itu, jemarinya sibuk memainkan pulpen di atas meja. Ada sesuatu yang mengusik pikirannya, tetapi ia sendiri tidak tahu apa.

Terkadang, ia merasa begitu sepi, seolah tak seorang pun benar-benar memahami isi kepalanya. Namun, di lain waktu, pikirannya justru riuh. Banyak hal berputar bersamaan: tugas yang belum selesai, perkataan seseorang yang terus terngiang, hingga kekhawatiran tentang masa depan yang bahkan belum tentu terjadi.

Auliya sering bertanya-tanya, mengapa hatinya bisa seperti itu?

Saat bersama teman-temannya, ia bisa tertawa lepas. Namun, beberapa menit kemudian, keinginannya untuk berbicara mendadak lenyap. Ia ingin sendiri, tetapi ketika kesendirian itu datang, ia justru merasa kesepian. Ia ingin bercerita, tetapi saat seseorang bertanya bagaimana keadaannya, ia hanya mampu menjawab, “Aku baik-baik saja.”

Padahal, ia sendiri tak tahu apakah itu benar.

“Auliya, kamu ngelamun lagi?”

Suara Nia membuyarkan lamunannya. Gadis itu menarik kursi di sebelah Auliya, lalu meletakkan beberapa buku di atas meja.

Also Read: Kesepian

“Enggak,” jawab Auliya singkat.

Nia mengangkat alis. “Kalau enggak ngelamun, terus dari tadi kamu lihat apa? Pohon di luar itu sampai hafal sama wajahmu, tahu.”

Auliya terkekeh. “Lebay banget, sih.”

“Nah, gitu dong. Senyum dikit. Dari tadi mukamu murung banget. Udah kayak kehilangan uang seratus ribu.”

Candaan Nia berhasil membuat Auliya tersenyum, meski hanya sebentar. Setelah itu, ia kembali memandang ke luar jendela. Ada banyak hal yang ingin ia ceritakan kepada sahabatnya itu, tetapi ia takut tak mampu menjelaskan perasaannya sendiri.

* * *

Siang harinya, setelah bel pulang berbunyi, Auliya tidak langsung beranjak dari tempat duduk. Ia merapikan buku-buku yang berserakan di atas meja, sementara teman-teman sekelasnya mulai meninggalkan ruangan.

Saat membuka tempat pensil, ia menemukan sebuah pensil biru yang sudah lama tak digunakan.

Pensil itu sederhana. Tak ada merek terkenal atau bentuk yang istimewa. Catnya bahkan mulai mengelupas di beberapa bagian. Namun, entah mengapa, Auliya memandangi benda itu cukup lama.

Also Read: Kutu

Biru.

Warna kesukaannya sejak kecil. Bagi Auliya, biru bukan sekadar warna yang sedap dipandang. Ada sesuatu pada warna itu yang selalu berhasil membuat hatinya sedikit lebih tenang. Biru mengingatkannya pada laut yang terbentang luas, debur ombak yang berulang kali menyentuh bibir pantai, serta angin yang berembus lembut di antara kicau burung dan gemuruh air.

Auliya menyukai pantai bukan karena tempat itu selalu sunyi. Justru, ada banyak suara di sana: ombak yang pecah, angin yang berdesir, dan air yang berlarian menuju tepian. Namun, entah bagaimana, keramaian itu tak pernah terasa mengganggu. Semuanya seolah memiliki irama sendiri, membuat pikirannya yang kusut perlahan menemukan jeda.

Barangkali, itulah yang selama ini ia cari.

Di dalam dirinya, kesunyian dan kebisingan kerap datang silih berganti. Ada saat ketika ia merasa begitu sepi, seolah tak seorang pun mampu memahami perasaannya. Namun, pada saat lain, pikirannya dipenuhi begitu banyak suara hingga ia kesulitan membedakan mana yang perlu dipikirkan dan mana yang sebaiknya dibiarkan berlalu.

Ia ingin memiliki ketenangan seperti pantai. Bukan pantai tanpa ombak, melainkan pantai yang tetap indah meski ombak datang berkali-kali.

Saat jemarinya menggenggam pensil biru itu, Auliya menyadari sesuatu. Barangkali, ia tak perlu menunggu semua kegaduhan di dalam dirinya menghilang untuk bisa merasa tenang. Ia hanya perlu belajar menerima bahwa perasaan, seperti ombak, tak selalu datang dalam keadaan yang sama.

Ada kalanya laut tenang, ada kalanya ombak meninggi. Namun, keduanya tetap bagian dari laut yang sama.

Seperti laut itu, Auliya tetaplah dirinya sendiri, bahkan ketika ia belum sepenuhnya memahami isi hatinya.

Auliya mengambil selembar kertas dari buku catatannya. Dengan pensil biru itu, ia mulai menggambar garis-garis kecil. Mula-mula, ia menggambar awan. Kemudian, ia menambahkan laut, ombak, dan sebuah perahu kecil yang berlayar sendirian.

Saat hendak menyudahi gambarnya, sebuah pikiran melintas di kepala.

Bukankah laut juga bisa berisik, tetapi tetap disebut indah?

Auliya berhenti menggerakkan tangannya.

Ia memperhatikan gambar ombak yang baru saja dibuatnya. Selama ini, ia menganggap ketenangan sebagai keadaan ketika tak ada apa pun yang mengusik pikirannya. Ia ingin hidup tanpa rasa khawatir, tanpa kesedihan yang datang tiba-tiba, dan tanpa pertanyaan-pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawaban.

Namun, bukankah laut tak pernah benar-benar diam?

Ada ombak yang berkejaran, angin yang berembus, dan arus yang bergerak tanpa terlihat. Meski demikian, laut tetaplah laut. Ia tak kehilangan namanya hanya karena sedang bergelombang.

Barangkali, manusia juga demikian.

Auliya menunduk, lalu kembali menggerakkan pensilnya. Kali ini, ia menuliskan sebuah kalimat kecil di sudut kertas.

Tidak semua yang berisik berarti rusak. Tidak semua yang sepi berarti baik-baik saja.

Ia membaca kalimat itu berulang kali.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Auliya merasa menemukan sesuatu yang selama ini dicarinya. Bukan jawaban atas seluruh pertanyaannya, melainkan sedikit ruang untuk memahami dirinya sendiri.

* * *

“Kamu belum pulang?”

Nia muncul di ambang pintu kelas. Ia baru saja kembali dari perpustakaan dan mendapati Auliya masih duduk sendirian.

Auliya mengangkat kertasnya. “Nia, menurutmu, kenapa seseorang kadang merasa kesepian, tetapi di lain waktu pikirannya berisik sekali?”

Nia tak langsung menjawab. Ia berjalan mendekat, lalu duduk di kursi di hadapan Auliya.

“Entahlah. Mungkin ada banyak hal yang sedang kamu pikirkan.”

“Tapi aku juga enggak tahu apa yang sebenarnya aku pikirkan.”

“Ya, enggak apa-apa kalau belum tahu.”

Auliya menatap sahabatnya.

Nia melanjutkan, “Kamu enggak harus selalu bisa menjelaskan semuanya, Aul. Kadang-kadang, kita cuma perlu waktu untuk memahami apa yang kita rasakan.”

“Tapi rasanya melelahkan.”

“Aku tahu. Makanya, jangan memaksa dirimu untuk selalu baik-baik saja. Kalau capek, istirahat. Kalau ingin cerita, cerita saja. Kalau belum siap, enggak perlu buru-buru.”

Auliya terdiam.

Kalimat Nia terdengar sederhana, tetapi justru kesederhanaannya membuat kata-kata itu terasa dekat. Selama ini, Auliya terlalu sibuk mencari alasan di balik perasaannya yang berubah-ubah. Ia menganggap dirinya aneh hanya karena tak selalu merasakan hal yang sama setiap hari.

Ia lupa bahwa dirinya manusia, bukan mesin yang harus selalu bekerja dengan keadaan hati yang stabil.

Auliya menunjukkan gambar yang dibuatnya.

“Lihat, aku tadi terinspirasi gara-gara pensil biru ini.”

Nia memperhatikan kertas itu dengan saksama. “Bagus, sih. Tapi kenapa cuma pakai warna biru?”

“Karena aku suka biru.”

“Terus?”

Auliya tersenyum kecil. “Karena ternyata, aku enggak harus punya banyak warna untuk membuat sesuatu yang indah.”

Nia terdiam sesaat, lalu tertawa. “Wah, anak ini. Gara-gara pensil satu biji, mendadak jadi filsuf.”

Mereka tertawa bersama.

Kali ini, Auliya tak merasa perlu menyembunyikan senyumnya.

* * *

Sejak hari itu, pensil biru tersebut selalu berada di dalam tempat pensil Auliya. Ia membawanya ke kelas dan perpustakaan. Sesekali, ia mengeluarkannya ketika mulai lelah menghadapi pikirannya sendiri.

Bukan karena pensil itu memiliki kekuatan ajaib. Bukan pula karena semua masalah Auliya langsung menghilang setiap kali ia melihatnya.

Pensil itu hanya menjadi pengingat kecil: ia boleh merasa sedih tanpa harus membenci dirinya sendiri. Ia boleh merasa sepi tanpa menganggap dirinya tak memiliki siapa-siapa. Pikirannya boleh gaduh, dan ia tetap berhak mendapatkan ketenangan.

Auliya mulai menjalani hari-harinya tanpa terlalu sibuk menebak-nebak bagaimana perasaannya esok hari. Ketika suasana hatinya sedang baik, ia menikmatinya. Ketika kesedihan datang tanpa alasan yang jelas, ia berusaha memberi dirinya waktu. Jika pikirannya terasa terlalu penuh, ia menuliskannya di atas kertas, membiarkan kata-kata mengalir tanpa harus selalu berujung pada kesimpulan.

Ia juga mulai berani bercerita kepada Nia, sedikit demi sedikit.

Ternyata, memahami diri sendiri tak selalu berarti menemukan penjelasan yang sempurna. Terkadang, proses itu justru dimulai ketika seseorang berhenti memaksa dirinya untuk segera mengerti segalanya.

Suatu sore, Auliya kembali duduk di dekat jendela. Langit tampak biru pucat, sementara beberapa awan bergerak perlahan mengikuti arah angin.

Ia mengeluarkan pensil kesayangannya, membuka buku catatan, lalu menulis sebuah kalimat baru.

Aku mungkin tidak selalu tahu apa yang sedang kurasakan, tetapi aku bisa belajar untuk tidak meninggalkan diriku sendiri.

Ia menatap tulisan itu cukup lama.

Ada banyak hal yang belum berubah. Pikirannya masih sesekali gaduh. Kesepian pun terkadang datang tanpa mengetuk pintu. Namun, kini Auliya mulai memahami bahwa hidup tak harus selalu terasa tenang agar tetap layak dijalani.

Seperti laut yang tak pernah berhenti bergerak, ia pun boleh berubah. Ada hari ketika ia merasa kuat, ada hari ketika ia ingin menangis, dan ada hari ketika ia hanya ingin duduk diam tanpa menjelaskan apa pun kepada siapa pun.

Tidak mengapa.

Langit tak kehilangan warna birunya hanya karena mendung datang sebentar.

Begitu pula Auliya. Ia tak kehilangan dirinya hanya karena belum sepenuhnya memahami isi hatinya.

Pensil biru itu kembali bergerak di tangannya, membentuk garis-garis sederhana di atas kertas putih. Garis-garis itu tak selalu lurus, tetapi tetap bisa menjadi bagian dari sebuah gambar.

Auliya tersenyum.

Barangkali, begitulah hidup seharusnya dijalani: bukan dengan menuntut setiap garis menjadi sempurna, melainkan dengan keberanian untuk terus menggambar, sekalipun belum tahu akan menjadi apa hasil akhirnya.

Sebab, selama ia masih bersedia melangkah, selalu ada kesempatan untuk menemukan warna yang membuatnya ingin terus bertahan.

Dan bagi Auliya, warna itu adalah biru.

 

Oleh: Soraya Ihsaniyah

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Pemakaman Diselimuti Kekonyolan

Pemakaman Diselimuti Kekonyolan

Kesepian

Kesepian

Bima dan Sebungkus Kebaikan

Bima dan Sebungkus Kebaikan

Satu Hari untuk Beribu Kewajiban

Satu Hari untuk Beribu Kewajiban

Kutu

Kutu

Gonjang-Ganjing Seekor Kambing

Gonjang-Ganjing Seekor Kambing