web analytics

Perwira Bisu di Lubang Buaya

0 0
Read Time:2 Minute, 56 Second

Pembantaian enam jendral, satu perwira
enam jam dalam satu malam
matiii, di lubang tak berguna!
Tak ada dalam perang mahabarata
Bahkan di sejarah dunia
Hanya di sejarah Indonesiaaa.

Potongan bait puisi berjudul “Mata Luka Sengkon Karta” karya Peri Sandi Huizche yang didedikasikan untuk para petani. Puisi tersebut begitu menggambarkan kekejaman PKI yang melakukan pembantaian dan pemerintah otoriter yang juga melakukan pembantaian.

Jenderal (Anumerta) Ahmad Yani menjadi salah satu korban dalam pemberontakan G30S/PKI (Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia) yang didasari oleh faktor ideologi dan politik dengan tujuan mengganti ideologi negara Indonesia menjadi komunis.

Jenderal Ahmad Yani lahir di Purworejo, Jawa Tengah pada tanggal 19 Juni 1922. Beliau merupakan putra tertua dari pasangan Sarjo bin Suharyo dan isterinya Murtini.

Masuk ke jenjang pendidikan karena barhasil menarik perhatian Hulstyn—seorang Belanda majikan ayahnya—ketika berhasil memberi komando kepada orang-orang untuk menangkap kerbau liar. Pada tahun 1928, atas usaha Hulstyn, Ahmad Yani menempuh pendidikan HIS (Hollandsch-Inlandsche School) sekolah Belanda yang setingkat dengan Sekolah Dasar pada zaman itu.

Setelah lulus pada tahun 1935, Ahmad Yani menempuh pendidikan yang lebih tinggi, yakni MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) sebuah sekolah yang setara dengan Sekolah Menengah Pertama.

Belum sampai di situ, beliau terus melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang setara dengan Sekolah Menengah Atas, yakni AMS (Algemeene Middelbare School). Sayangnya, Ahmad Yani tidak meneruskan jenjang pendidikannya dikarenakan meletusnya Perang Dunia II.

Mei 1940, Belanda berada di bawah kekuasaan Jerman. Pemerintah Hindia Belanda mengumumkan sebuah milisi, bahwasanya ada kemungkinan peperangan akan menjalar ke Indonesia. Oleh karena itu, Yani memilih untuk keluar dari AMS dan memutuskan untuk mendaftarkan diri pada Dinas Topografi Militer.

Yani menempuh pendidikan militernya selama enam bulan di Malang. Kemudian, pada akhir tahun 1941, beliau dikirim ke Bogor untuk menjalani pendidikan militer secara intensif. Pemerintah Hindia Belanda yang mengumumkan perang terhadap Jepang justru berhasil digilas pada pertempuran di Ciater, Lembang. Bandung berhasil digenggam oleh Jepang yang juga membuat Yani ditawan.

Setelah beberapa bulan mendekam di balik jeruji dalam kamp tawanan di Cimahi dan menjalani beberapa pemeriksaan, beliau dibebaskan dan kembali ke kampung halamannya. Menganggur sepanjang tahun 1942 kemudiaan mengikuti pendidikan Heiho di Magelang dan setelahnya masuk tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor.

Beliau menoreh berbagai prestasi setelah terbentuknya Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang tidak lama kemudian berganti menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI), pada akhirnya menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Ahmad Yani berhasil menyita senjata Jepang di Magelang setelah kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II. Beliau dipercaya sebagai komandan TKR Purworejo saat Agresi Militer I dan berhasil menahan pasukan Belanda di daerah Pingit. Menumpas pemberontakan DI/TII yang dipimpin oleh Kartosuwiryo yang membuat kekacauan di Jawa Tengah. Dan masih banyak lagi jasa-jasanya, baik sebelum maupun sesudah Indonesia merdeka.

Hingga beliau diangkat menjadi Menteri/Panglima Angkatan Darat pada tahun 1962. Perbedaan paham antara Ahmad Yani dengan PKI membuat beliau menjadi salah satu target penculikan dan pembunuhan. Pemberontakan yang dipimpin oleh Letkol Untung dari Pasukan Cakrabirawa yang merupakan pasukan pengawal presiden.

Menjelang subuh, Pasukan Cakrabirawa mendatangi kediaman dari Menteri/Panglima Angkatan Darat. Tepat pada tanggal 1 Oktober 1965 (dini hari), Jenderal Ahmad Yani ditembak oleh Gijadi—sersan dua dari Cakrabirawa—persis di depan kamar tidurnya.

Miris! Melihat bangsa yang tega menjadikan bangsanya sendiri hanya sebagai mayat yang teronggok bisu di Lubang Buaya. Dengan mengenang dan mengetahui kejadian-kejadian yang menyebabkan bulan September menjadi hitam, kita dapat lebih merekatkan persatuan dan kesatuan, toleransi, serta berperi kemanusiaan. Mungkin … benar apa yang dikatakan Bung Karno,

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri.”

Wallahu a’lam.

 

 

 

About Post Author

Rahmat Adhy Wicaksana

Lahir di ujung timur Pulau Sumatra. Hidup sederhana sambil melukis menggunakan kata-kata.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Lahir di ujung timur Pulau Sumatra. Hidup sederhana sambil melukis menggunakan kata-kata.

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Dari Madura ke Medan Perang Dunia: Perjalanan Halim Perdanakusuma

Dari Madura ke Medan Perang Dunia: Perjalanan Halim Perdanakusuma

KH Mas Alwi bin Abdul Aziz: Sang Pemberi Nama Nahdlatul Ulama

KH Mas Alwi bin Abdul Aziz: Sang Pemberi Nama Nahdlatul Ulama

Biografi, Kontribusi dan Genealogi Intelektual KH Hasyim As’ari Pada NU

Biografi, Kontribusi dan Genealogi Intelektual KH Hasyim As’ari Pada NU

Mengenal Syaikh Abdulloh Mursyad, Salah Satu Penyebar Islam di Kediri

Mengenal Syaikh Abdulloh Mursyad, Salah Satu Penyebar Islam di Kediri

Sayyidah Maryam Lahir dari Nazar Kesucian

Sayyidah Maryam Lahir dari Nazar Kesucian

Api Perjuangan Kiai Abbas Buntet

Api Perjuangan Kiai Abbas Buntet