web analytics

Semarak Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul Nyai Hj. Qomariyah di Asrama Al-Misky

0 0
Read Time:5 Minute, 23 Second

Kediri, Elmahrusy Media.

Dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus mengenang jasa dan keteladanan Nyai Hj. Qomariyah, segenap santri PP. Al-Misky berkumpul di Aula Lantai Satu guna mengikuti acara pembacaan Manaqib Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani dan Maulid ad-diba’i (01/09).

Aula tempat berlangsungnya kegiatan dihiasi dengan warna-warni aneka jajanan dan buah-buahan yang digantung serta dibentuk menyerupai gundukan gunung dan pepohonan. Hiasan tersebut turut menambah semarak suasana guna menyambut rangkaian kegiatan yang berlangsung penuh khusyuk dan khidmat.

Kegiatan dimulai ba’da sholat Maghrib dengan lantunan sholawat oleh Tim Habsyi dan Tim Marawis PP. Al-Misky. Tak lama setelahnya, KH. Reza Ahmad Zahid (Gus Reza) beserta istri tercinta beliau, Ning Hj. Niswatul ‘Arifah (Ning Rifa), turut hadir menemani para santri dalam malam yang penuh berkah ini.

Gus Reza membuka kegiatan dengan mau’idhoh hasanah. Salah satu hal yang menarik dalam penyampaiannya adalah ajakan untuk berbahagia atas lahirnya Kanjeng Nabi Muhammad SAW, sembari mengutip QS. Yunus ayat 58:

قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”

Ulama’ mentafsirkan hal tersebut sebagai Al-‘ilmu minallah (ilmu dari Allah). Karena itulah, para santri diajak untuk berbahagia sebab dapat menuntut ilmu di lingkungan pondok pesantren.

“Maka dari itu berbahagialah. Bisa ngaji, bisa ngaos, bahagia. Bisa sekolah dan belajar, bahagia,” tutur beliau.

Malam tersebut sekaligus menjadi peringatan Haul Nyai Hj. Siti Qomariyah. Dalam kesempatan ini, Gus Reza turut mengungkap keistimewaan dan kehebatan beliau, salah satunya melalui sifat wira’i.

“Salah satu sifat wira’i yang beliau miliki adalah beliau yang sangat sami’na wa atho’na kepada sang suami (KH. Utsman Al-Ishaqy). Dan sampai akhir hayatnya pun beliau tidak mau diambil gambarnya.”

Gus Reza mengajak para santri untuk mencontoh sosok Nyai Hj. Qomariyah, khususnya dalam menjaga diri sendiri, harga diri, dan martabat sebagai seorang santriwati.

“Harus mencontoh beliau sebagai seorang perempuan yang mampu menjaga diri, harga diri, dan martabatnya sebagai seorang santriwati. Harus memiliki semangat dan tekad untuk menjaga kehormatan diri sebagai seorang perempuan. Inilah jati diri santriwati yang haqiqi,” tambah beliau.

Mau’idhoh hasanah tersebut dilanjutkan dengan pembacaan tahlil dan Manaqib Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani oleh Tim Manaqib PP. Al-Misky yang berlangsung dengan penuh khusyuk. Selanjutnya, para santri kembali melantunkan sholawat, kemudian dilanjutkan dengan sesi ‘tutur tinular’ oleh Ning Rifa dan doa.

Pesan Ning Rifa: Menjadi Santri Para Ulama

Melalui sesi ini, beliau berpesan layaknya seorang ibu kepada anak-anaknya, Ning Rifa menyampaikan harapan agar peringatan Haul Nyai Hj. Qomariyah menjadi wasilah sehingga seluruh santri PP. Al-Misky turut dianggap sebagai santri beliau.

“Semoga anak-anak Al-Misky sedanten dianggap sebagai santrinya.”

Harapan tersebut dilanjutkan dengan penjelasan mengenai pentingnya keterikatan seorang santri dengan ulama. Menurut Ning Rifa, seseorang berharap dapat dianggap sebagai santri ulama karena tidak ada yang dapat memastikan seluruh ibadah yang dilakukan diterima oleh Allah SWT. Atas dasar itu, manusia membutuhkan syafa’at.

“Mengapa setiap menyebutkan ‘ulama’ kita mengharap agar dianggap menjadi santrinya? Karena tidak semua ibadah kita, sujud kita, itu diterima oleh Allah. Maka dari itu kita butuh yang namanya syafa’at,” jelas beliau.

Pesan berikutnya berkaitan dengan jasa guru, terlebih Nabi Muhammad SAW. Para santri diingatkan agar senantiasa menjaga hati dan tidak memiliki hati yang kotor kepada guru. Bahkan, orang yang mengajarkan satu huruf pun telah memiliki kedudukan sebagai guru dan mempunyai hak atas muridnya.

“Jangan lupakan jasa guru, apalagi Nabi. Jangan sampai punya hati kotor kepada guru. Walau hanya mengajar satu huruf, itu sudah gurumu. Punya hak atasmu.” tambah beliau.

Ning Rifa tidak menganggap penyampaian tersebut sebagai mau’idhoh hasanah, melainkan tutur tinular seorang ibu kepada para santri. Dalam wejangan tersebut, terdapat dua hal yang ditekankan sebagai pegangan dalam menjalani kehidupan, yakni tafaqquh fiddin dan tolong-menolong dalam kebaikan.

Tafaqquh Fiddin

Salah satu cara dalam ber-tafaqquh fiddin adalah bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Di samping itu, pentingnya menutup aurat turut menjadi perhatian.

Larangan mendekati zina juga kembali ditegaskan dengan menyertakan firman Allah SWT dalam QS. Al-Isra’ ayat 32:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰى إِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةًۗ وَسَاۤءَ سَبِيْلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”

Ning Rifa turut menjelaskan ciri-ciri seorang mar’atus sholihah, yaitu:

  1. Teges
  2. Judes

Ilmu yang telah diperoleh selama berada di pondok pesantren juga diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi menjadi prinsip dalam kehidupan sehari-hari.

“Jadikan pelajaran yang sudah kalian cari di pondok pesantren sebagai prinsip dalam kehidupan kalian sehar-hari,” ucap beliau.

Tolong-menolong dalam Hal Kebaikan

Poin kedua yang menjadi pegangan adalah tolong-menolong dalam hal kebaikan. Hal tersebut disampaikan sembari menyertakan firman Allah SWT dalam QS. Al-Ma’idah ayat 2:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.”

Pesan selanjutnya ditujukan kepada para santri, khususnya mereka yang akan melanjutkan jenjang pendidikan di luar pondok pesantren. Ning Rifa mengingatkan bahwa khusnul khotimah tidak hanya dinisbatkan kepada orang yang telah meninggal, tetapi juga perlu dipersiapkan oleh santri yang sedang mencari ilmu.

“Khusnul khotimah tidak hanya dinisbatkan pada orang mati. Tapi juga untuk santri yang sedang mencari ilmu. Menjadi manusia juga harus punya ancang-ancang untuk khusnul khotimah.”

Para santri juga diingatkan untuk terus mengencangkan aqidah. Pesan tersebut menjadi akhir dari wejangan yang disampaikan Ning Rifa.

Kegiatan kembali diisi dengan lantunan sholawat dan ditutup dengan lempar buah sebagai bentuk kedekatan dan kekerabatan, sekaligus menambah keseruan dalam acara ini. Dan acara ditutup dengan tradisi ‘nampanan’. Yakni senampan nasi yang dinikmati bersama-sama sebagai bentuk kebersamaan diantara santri selepas acara.

Rangkaian Maulid Nabi Muhammad SAW dan peringatan Haul Nyai Hj. Qomariyah tersebut menjadi momentum bagi para santri untuk mengenang jasa, meneladani akhlak, serta mengambil pelajaran dari sosok-sosok yang telah memberikan keteladanan. Tidak hanya berlangsung dengan khidmat, kegiatan ini juga menjadi ruang untuk mempererat rasa kebersamaan dan kekerabatan di antara keluarga besar PP. Al-Misky.

Wallahu A’lam

 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Tasmi’ Al-Qur’an Asrama Al Asyiqie

Tasmi’ Al-Qur’an Asrama Al Asyiqie

Semangat Tak Surut Diguyur Terik, Santri Al-Mahrusiyah Khidmat Peringati Hari Santri Nasional 2026

Semangat Tak Surut Diguyur Terik, Santri Al-Mahrusiyah Khidmat Peringati Hari Santri Nasional 2026

Malam Puncak Harlah ke-6 Pondok Pesantren  Daru Zainab HM Al-Mahrusiyah Putri Lirboyo

Malam Puncak Harlah ke-6 Pondok Pesantren Daru Zainab HM Al-Mahrusiyah Putri Lirboyo

Hari Santri, PP HM Al Mahrusiyah III Ngampel Melaksanakan Upacara

Hari Santri, PP HM Al Mahrusiyah III Ngampel Melaksanakan Upacara

Peringatan Hari Santri Dalam Yayasan HM Al Mahrusiyah Lirboyo, Kediri.

Peringatan Hari Santri Dalam Yayasan HM Al Mahrusiyah Lirboyo, Kediri.

Gus Izzul: Hari Santri Bukan Euforia Semata

Gus Izzul: Hari Santri Bukan Euforia Semata