web analytics

Syair Burdah Penghubung Untaian Rindu Imam Al Busyiri kepada Baginda Nabi Muhammad SAW

0 0
Read Time:1 Minute, 23 Second

Kediri-Pers Mahrusy (03/04), ketika senja mulai menyapa setelah adzan asar dikumandangkan, rutinitas burdah kembali menggelegar di Aula Al-Fatah Asrama Daru Rasyidah usai cuti satu bulan lamanya.

Seperti biasanya, usai syair-syair burdah yang merdu dipadu dengan tabuhan rebana dan marawis yang bersaut-saut. Ning Ochi tak lupa menyampaikan sekapur sirih teruntuk mba-mba santri dan jama’ah burdah baik offline maupun online.

Tema burdah kali ini bertema tentang rindu, Ning Ochi ngendikan, “Rindu itu tidak bisa dipatok,” tutur beliau kepada jama’ah. Kemudian beliau melanjutkan bahwa kita semua kembali lagi dirutinitas setelah liburan tuntas.

Beliau juga menjelaskan bahwa bacaan burdah merupakan untaian-untaian rindu dari Imam Al-Busyiri kepada sosok yang sempurna. Maksudnya yaitu sosok yang meskipun dijelaskan sedetail mungkin tidak akan tergambarkan. Karena Nabi Muhammad SAW adalah nisbat dari cahaya.

Ning Ochi berharap, “Semoga syair burdah yang kita baca bisa menjadikan bukti bahwa kita ini cinta kepada Nabi Muhammad SAW, rindu kepada Rasulullah SAW,” karena apa? Tidak ada apa-apanya antara rindu dan cinta kita dengan perjuangan Nabi Muhammad SAW yang setiap malamnya beliau menangis memohonkan ampun teruntuk umatnya bahkan di akhirat pun beliau rela berdiri, berjaga, dan bersiap siaga untuk memberikan syafaatnya. Masya Allah.

Selain itu Ning Ochi juga dawuh, “Tidak hanya melalui wasilah burdah tapi ditambah juga dengan tashdiq praktik sunah-sunah Rasulullah SAW. Dan inilah yang di sebut dengan hayyu fi qulubina,” tutur cucu KH Mahrus Aly.

Terakhir beliau menyampaikan bahwa meskipun jasad Rasulullah SAW telah wafat ruh beliau tetaplah hidup. Dan ketika kita mengucap salam serta bersholawat kepada beliau pastilah tersampaikan. Semoga ini yang akan menjadi dalil cinta kita kepada sang baginda Nabi Muhammad SAW. Amiin. Waallahu a’lam.

 

About Post Author

Anisa Fitri Ulhusna

Mengabdi untuk Mengabadi
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Tagged with:
burdahLirboyo

Mengabdi untuk Mengabadi

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Mari Menelantarkan Buku!

Mari Menelantarkan Buku!

Mohammed Aziz: Toko Buku, Membaca, dan Menaklukkan Dunia

Mohammed Aziz: Toko Buku, Membaca, dan Menaklukkan Dunia

Apakah Niat Kita Telah Ideal dan Ikhlas di Tengah Kompleksitas

Apakah Niat Kita Telah Ideal dan Ikhlas di Tengah Kompleksitas

Ilmu Apa yang Wajib Dicari?

Ilmu Apa yang Wajib Dicari?

Feodalisme dalam Pondok Pesantren: Pilar Adab, Stabilitas, dan Pendidikan Karakter

Feodalisme dalam Pondok Pesantren: Pilar Adab, Stabilitas, dan Pendidikan Karakter

Ning Sheila Hasina: “Mengaji Dulu, Influencer Pesantren Kemudian!”

Ning Sheila Hasina: “Mengaji Dulu, Influencer Pesantren Kemudian!”