Jompo
Bagaimana caraku memanivestasi rasa pada kaku kata? Ingin sesekali kuberpuisi dengan ‘oh… oh…’ penuh
Bagaimana caraku memanivestasi rasa pada kaku kata? Ingin sesekali kuberpuisi dengan ‘oh… oh…’ penuh
Ditanah Haramain Ingat akan kisah hentakan kaki seorang bayi untuk zam-zam Perjuangan sang utusan dan putra untuk berdirinya rumah suci Hingga Rasul akhir zaman untuk agama rahmatul lil ‘alamin Ditanah Haramain Sang utusan dilahirkan membuat tangis pilu air mata Memadamkan api yang beribu-ribu tahun berkobar Kelahirannya membuat tenang hati sang pemilik iman dan menggetarkan hati […]
Saat nanti kau sudah berdaster Ingin kubunuh segala resah Kucaci segala gelisah Kubungkam omong kosong Semesta! Dengan cara apa kau menggodaku? Dengan tipu muslihat apa kau merayuku? Pelangi mati kutu Rintik hujan membatu Kita berhangat-hangat dalam selimut dastermu
Aku mencintaimu sepenuh kecup. Kecup hangat, lembut, dan menggairahkan itu, cukup lama: lama, lama, lama, selama-lamanya. Ternyata tidak cukup!
Terbayang indahnya memiliki kekasih seorang penyair. Kata-kata yang mengalun, melandai, menyapa hangat gelora jiwa. Membuat bunga-bunga hati bermekaran dengan cantik, berseri. Penuh rela. Tapi, adakah yang lebih mencekam dan mencengkram dari luka hati? Berdarah-darah, berair-air mata, juga keringat itu nyatanya tak ada daya siram bunga yang melayu. Lebah hinggap, mengharap dan menggarap kelopak pada tangkai. […]
Cukup mudah untuk membuat manisan: Bibirmu. Bibirku. Taburan puisi Sutardji Calzoum Bachri sebagai bumbu rahasia. Manisan telah siap. Santaplah dengan manusiawi yang penuh!
Bajingan!!! Lagi-lagi tengadah tangan diketidakkuasaan Hilang langkah terhunus masalah Qobul juakah? Tuhan… Penuh dosa neraka di depan mata Ampunmu abai ku gubris Tergoda nafsu terliur deras Kepastian diri terlahap api Semoga? Pantaskah ku berdoa Kehambaan yang sekian hampir hilang Menyebutmu pun rasaku sesulit itu Sudikah kau sedekar mendengar Saat berdoa yakin bahwa […]
Aku capek Aku ingin memelukmu hingga akhir hayat :mungkinkah hangat?
Menitik, di ujung detik. Masih dalam belalak mencari udara menuju kesadaran utuh. Sungguh, ini yang kita butuh: tiba. Ia melambai, tak lama memeluk. Ramadhan, tamu agung itu terkasih, menjadikannya kekasih. Tak ubahnya semilir di kelopak putik, rintik di tandus kerontang, atau kabar di hilang dan temu. Kuperkenalkan diri, di lembar gelar kertas kuning, di antara […]
Kala menahan jadi harus Kala adzan maghrib bak rayu Kala Qur’an menggema melayang Kala raka’at-raka’at ba’da isya dibanyakkan Kala tidur pun diganjar Kala pahala berlipat ganda Sudah kalanya menyiapkan Berkompromi dengan nafsu Bukan meneruskan yang terbelenggu Menyambut penuh syahdu Menebus rindu pada Rabb Jika bisa, ramadhan saja selamanya
Find some desired keywords.