Kecup
Aku mencintaimu sepenuh kecup. Kecup hangat, lembut, dan menggairahkan itu, cukup lama: lama, lama, lama, selama-lamanya. Ternyata tidak cukup!
Aku mencintaimu sepenuh kecup. Kecup hangat, lembut, dan menggairahkan itu, cukup lama: lama, lama, lama, selama-lamanya. Ternyata tidak cukup!
Terbayang indahnya memiliki kekasih seorang penyair. Kata-kata yang mengalun, melandai, menyapa hangat gelora jiwa. Membuat bunga-bunga hati bermekaran dengan cantik, berseri. Penuh rela. Tapi, adakah yang lebih mencekam dan mencengkram dari luka hati? Berdarah-darah, berair-air mata, juga keringat itu nyatanya tak ada daya siram bunga yang melayu. Lebah hinggap, mengharap dan menggarap kelopak pada tangkai. […]
Cukup mudah untuk membuat manisan: Bibirmu. Bibirku. Taburan puisi Sutardji Calzoum Bachri sebagai bumbu rahasia. Manisan telah siap. Santaplah dengan manusiawi yang penuh!
Aku capek Aku ingin memelukmu hingga akhir hayat :mungkinkah hangat?
Menitik, di ujung detik. Masih dalam belalak mencari udara menuju kesadaran utuh. Sungguh, ini yang kita butuh: tiba. Ia melambai, tak lama memeluk. Ramadhan, tamu agung itu terkasih, menjadikannya kekasih. Tak ubahnya semilir di kelopak putik, rintik di tandus kerontang, atau kabar di hilang dan temu. Kuperkenalkan diri, di lembar gelar kertas kuning, di antara […]
Dari subtansi dan esensi, pesantren tidak terlepas dari 2 unsur sentral: budaya dan pendidikan. Begitu pun Ramadhan, pasti meliputi 2 aspek: ibadah dan ganjaran. Oleh karena itu, bagi santri, ini adalah momennya: menjalani Ramadhan di pesantren. Santri: Hidup dalam kebudayaan penuh kesadaran dan kesederhanaan, membaur dalam kebersamaan, tentunya penuh ta’zhim pada ilmu dan ilmuan. Menyenyam […]
Wahai kau yang bermoyang bidadari Wahai wahai yang berteman peri Wahai wahai wahai yang membuat pelangi iri Wahai wahai wahai wahai yang mengusir resah lari Wahai wahai wahai wahai wahai yang membuat hatiku tercuri Hei! Dari panas keterpaksaan, bisakah aku berteduh di sendu matamu? Dari dingin kegelisahan, bolehkah aku berselimut hangat kata ucapmu? Dari dahaga […]
Di dunia lirih, negara perih, kota rintih, kampung letih, gang risih, hiduplah gejolak didih. Di sana gelap. Agak kedap. Penuh harap-harap. Lama waktu ia menetap menginap. Mencoba resap. Ia malah terhisap, “Tuhan, aku lenyap!”, “Lenyap, aku lenyap!”, “Lenyap aku siap!” Teriaknya meratap. Tak pernah apa mengenyam pendidikan, tapi tak sebodoh mereka bersuara menerawang ingatan akan […]
Find some desired keywords.