KH. Imam Yahya Mahrus adalah salah satu tokoh kharismatik dalam dunia pesantren di Indonesia. Beliau merupakan pengasuh Pondok Pesantren HM Al Mahrusiyah, Lirboyo, Kediri. Pesantren besar yang telah mencetak ribuan santri dan berperan penting dalam perkembangan pendidikan Islam di Indonesia.
KH. Imam Yahya Mahrus lahir pada tanggal 17 Desember 1945 di lingkungan Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Beliau adalah putra dari pasangan ulama besar, yaitu KH. Mahrus Aly dan Nyai Hj. Zainab, tokoh sentral dalam sejarah pesantren Lirboyo. Sebagai putra dari ulama besar, sejak kecil beliau telah ditempa dalam suasana religius yang kuat, penuh dengan nilai-nilai keilmuan, kedisiplinan, dan pengabdian.
Sejak kecil, KH. Imam Yahya Mahrus menunjukkan kecerdasan, ketekunan, dan ketawadhuan yang kelak membentuk jati dirinya sebagai ulama besar dan pengasuh pondok pesantren yang disegani. Kemudian pada tahun 1978 menikah dengan putri dari KH Utsman Al Ishaqi yaitu Nyai Hj. Zakiyah Miskiyyah.
Nyai Hj. Zakiyah Miskiyyah adalah figur penting yang turut membentuk dan mendampingi perjuangan KH. Imam Yahya Mahrus dalam mengembangkan dan memajukan Pondok Pesantren HM Al Mahrusiyah, Lirboyo, Kediri. Beliau adalah istri yang tidak hanya setia mendampingi dalam kehidupan keluarga, tetapi juga aktif dalam dunia pendidikan dan pembinaan santri, khususnya di kalangan santri putri.
Sebagai pendamping hidup KH. Imam Yahya Mahrus, beliau dikenal memiliki pribadi yang santun, bijaksana, dan tegas. Karakter ini sangat membantu dalam membimbing para santri putri dan membangun atmosfer pendidikan yang seimbang antara ilmu, adab, dan spiritualitas. Keharmonisan rumah tangga KH. Imam Yahya Mahrus dan Nyai Hj. Zakiyah Miskiyyah menjadi teladan dalam kehidupan keluarga pesantren: seimbang antara cinta, dakwah, pendidikan, dan pengabdian.
Empat belas tahun telah berlalu sejak KH. Imam Yahya Mahrus berpulang ke rahmatullah, namun jejak perjuangan dan ilmunya masih begitu nyata dalam kehidupan umat, khususnya di lingkungan Pondok Pesantren HM Al-Mahrusiyah. Makan judul, “Jejak Ulama, Cahaya Umat”, bukan sekadar rangkaian kata indah tapi merupakan gambaran bahwasanya beliau adalah pengingat bahwa beliau bukan hanya milik masa lalu, tetapi terus hidup dalam semangat dan nilai yang diwariskan.
KH. Imam Yahya Mahrus adalah contoh ulama yang mampu memadukan antara keteguhan menjaga tradisi Islam dengan metode kepesantrenan dan kemampuan menjawab tantangan zaman. Dalam diamnya, beliau berbicara melalui akhlak. Dalam langkahnya, beliau meninggalkan jejak yang menjadi penuntun bagi masyarakat.
Sebagai ulama, beliau tidak hanya mengajarkan ilmu syariat, tetapi juga mempraktikkannya dalam kehidupan sosial. Kiprah beliau membina ribuan santri, memimpin lembaga pendidikan, dan berdakwah kepada masyarakat dan itu adalah bukti beliau yang menggambarkan bahwasanya beliau adalah cahaya bagi umat yang menjadi sumber inspirasi penuntun ilmu, keteladanan, dan keikhlasan.
Jejak beliau tidak berhenti di batu nisan. Beliau hidup dalam lisan para santri, dalam akhlak para alumni, dan dalam nilai-nilai yang masih terus dijaga di PP HM Al Mahrusiyah. Haul ini bukan hanya bentuk penghormatan, melainkan ajakan untuk melanjutkan perjuangan beliau. Sebab, ulama sejati seperti beliau KH. Imam Yahya Mahrus tidak hanya dikenang, tetapi kiprah beliau harus diteruskan dan dilestarikan.
Semoga kita semua, khususnya generasi muda, mampu menjaga bara semangat perjuangan beliau. Karena dalam setiap jejak ulama, selalu ada cahaya yang menuntun umat menuju kebenaran, keadilan, dan keberkahan.
Wallahu a’lam.
Oleh: Selviana Anggraini