Hidup itu harus baik. Menjalani hidup dengan menjadi orang baik yang melakukan hal baik. Itu sebuah keniscayaan. Itu sebuah keharusan. Bahkan itu kenapa, kita dianjurkan untuk fastabiqul khoirot, berlomba-lomba dalam kebaikan.
وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
“Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.” (QS. Al-Maidah ayat 2).
Tapi, dari sekian pembahasan tentang baik ini, mari saya ajak untuk memahami kebaikan dengan cara yang tidak lazim dan out of the box: ya, kita akan memahami kebaikan dengan cara yang absurd.
Jika Martin Heidegger menyebutnya faktisitas, Albert Camus menganggapnya sebagai absurditas. Hingga, ia mencetuskan gagasan aliran filsafat yang terkenal perihal absurdisme.
Menurutnya, absurd adalah konfrontasi antara dunia yang irasional dengan kerinduan yang hebat kepada kejelasan yang panggilanya menggema di kedalaman hati manusia.
Seorang filsuf kenamaan abad ke-20 yang pernah meraih nobel sastra ini dengan jelas memahami bahwasanya hidup ini terkesan absurd. Banyak dari segala macam sisi di kehidupan ini memiliki keabsurdan. Seperti contoh nyatanya, kenapa manusia jika ingin meraih kedamaian harus dengan jalur perang dan permusuhan?
Percaya atau tidak, sejatinya hidup ini absurd. Banyak yang seolah samar, banyak pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Hidup ini seakan penuh dengan ketidakpastiaan, hingga berujung kekhawatiran.
Bahkan seperti halnya, melakukan hal baik.
Dalam bersikap dan melakukan hal baik, rasanya juga ada hal dan sisi-sisi yang mengisyaratkann tentang paham absurd ini.
Bila boleh saya memahami, bahwa tentu sudah merupakan hal yang nyata bahwa kita diharuskan untuk menjadi orang baik yang melakukan hal-hal baik. Dengan niat dan usaha menjadi baik, tentu itu merupakan sebuah langkah dan bentuk nyata penilaian kebaikan.
Dan jika sekalipun kita memiliki kemauan dan kemampuan yang lebih, untuk niat dan usaha kebaikan yang lebih, tentu itu juga merupakan kebaikan yang lebih.
Tapi jika berlebih? Sekalipun itu kebaikan?
Rasanya, akan menjadi tidak baik. Bahkan tidak dianjurkan.
Bukankah berlebihan itu tidak baik? Bukankah obat jika dikonsumsi secara berlebih malah akan menjadi racun?
إِنَّهُْ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf ayat 31).
Tepat saja, dalam salah satu pengajian, Gus Reza menyampaikan perihal kebaikan yang jika dilakukan secara berlebih, akan menjadi tidak baik. Bahkan harus diwaspadai dan dihindari.
“Wis tho, nek selamet songko perkoro 3 iku bakal selamet uripe. (Sudahlah, jika selamat dari perkara 3 itu, maka akan selamat hidupnya).” Dawuh beliau menambahi.
Apa saja 3 perkara itu?
Pertama, فضول الكلام atau banyak bicara.
Bicara tentu sebuah keharusan dan kebutuhan. Hal itu menjadi sangat penting bagi kita selaku makhluk sosial. Bahkan dalam penelitian, dari 24 jam dalam sehari semalam, 70% -nya digunakan manusia untuk bicara dan berkomunikasi.
Jika berlebih, itu menjadi tidak baik.
سلامة الإنسان في حفظ اللسان
“Keselamatan manusia tergantung pada keterjagaan lisannya.” (Maqalah)
Kedua, فضول الطعام atau banyak makan.
Rasanya tidak ada manusia yang tidak suka makan. Itu juga sebuah kebutuhan dan keharusan. Jika tidak makan, kita pasti akan mati. Tapi tidak sedikit orang yang menganut aliran “tidak berhenti makan, kalau belum kenyang.”
Padahal kenyang, belum tentu baik.
فاءن الشبع يقسي القاثب ويفسد الذهن ويبطل الحفظ ويثقل الأعضاء عن العبادة والعلم ويقوي الشهوات وينصر جنود الشيطان
“Sebab, perut yang kenyang bisa membekukan hati, merusak akal, menghilangkan hafalan, memberatkan anggota badan untuk beribadah dan menuntut ilmu, memperkuat syahwat, serta membantu tentara setan.” (Ta’limul Muta’alim)
Ketiga, فضول المنام atau banyak tidur.
Dari sekian hal nikmat di atas, rasanya tidur juga merupakan hal yang tidak kalah saing. Dari segala kegiatan, tubuh kita tentu butuh istirahat; butuh tidur. Ini juga merupakan sebuah kebutuhan dan keharusan. Dan dalam konsepnya, istirahat itu hanya jeda. Lantas, mana ada jeda yang disapa bantal sedikit aja merem; setiap saat?
التاسع: أن يقلل نومه مالم يلحقه ضررفي بدنه وذهنه، ولايزيد في نومه في اليوم والليلة على ثمان ساعات، وهي ثلث الزمان، فإن احتمل حاله أقل من ذلك فعل
“(Adab) Kesembilan: harus berusaha untuk mengurangi tidur selama tidak menimbulkan bahaya pada tubuh dan alam pikirannya. Jam tidur tidak boleh melebihi dari 8 jam dalam sehari semalam. Dan itu sepertiga dari waktu satu hari. Jika keadaannya memungkinkan untuk istirahat kurang dari sepertiganya, maka lakukanlah!” (Adabul Alim wal Muta’alim).