Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam di dunia. Di dalamnya terdapat kisah-kisah umat terdahulu, syariat, serta hukum-hukum agama. Dalam memegangnya pun kita harus memerhatikannya dengan saksama. Hal ini disebabkan oleh adanya penghormatan terhadapnya karena kesucian dan kemuliaan kalam yang ada di dalamnya.
Adapun dalam berinteraksi dengannya, para ulama terdahulu telah memberikan tata cara dan beberapa anjuran dalam berbagai kitab mereka. Seperti yang dilakukan oleh Imam Nawawi dalam kitab Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’an.
Dalam kitab tersebut beliau menjelaskan beberapa adab serta sunnah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.
Isinya tertera dalam beberapa bab yang akan kami sebutkan.
Akan tetapi dalam garis besarnya, kitab ini menjelaskan tentang:
١– فتكره القراءة في حالة الركوع والسجود والتشهد وغيرها من أحوال الصلاة سوى القيام
٢ – وتكره القراءة بما زاد على الفاتحة للمأموم في الصلاة الجهرية اذا سمع قراءة الامام
٣ – وتكره حالة القعود على الخلاء
٤ – وفي حالة النعاس
٥ – وكذا إذا استعجم عليه القرآن
٦ – وكذا في حالة الخطبة لمن يسمعها
Artinya: “Makruh membaca Al-Qur’an dalam keadaan rukuk, sujud, tasyahud, dan keadaan shalat lainnya selain berdiri. Makruh membaca lebih dari Al-Fatihah bagi makmum dalam shalat jahr ketika ia mendengar bacaan imam. Makruh membacanya saat duduk di tempat buang hajat, dalam keadaan mengantuk, ketika mengalami kesulitan dalam membaca, serta saat mendengarkan khutbah.”
Selain dari segi adab, kitab ini juga menjelaskan hukum membaca Al-Qur’an bagi orang yang hadas serta bagi orang yang mengingkarinya. Seperti pada salah satu tulisannya:
قال الامام الحافظ أبو الفضل القاضي عياض ﵀ أعلم أن من استخف بالقرآن أو المصحف أو بشئ منه أو سبهما أو جحد حرفا منه أو كذب بشئ مما صرح به فيه من حكم أو خبر أو أثبت ما نفاه أو نفي ما أثبته وهو عالم بذلك أو يشك في شئ من ذلك فهو كافر بإجماع المسلمين
Artinya: “Imam Al-Hafizh Abul Fadhl Al-Qadhi Iyadh rahimahullah berkata, ‘Ketahuilah bahwa siapa yang meremehkan Al-Qur’an atau mushaf atau sebagian darinya, atau mencelanya, atau mengingkari satu huruf darinya, atau mendustakan hukum atau kabar yang ditegaskan di dalamnya, atau membenarkan sesuatu yang dinafikannya, atau menafikan sesuatu yang ditetapkannya, sedang ia mengetahui hal itu atau meragukan sesuatu darinya, maka ia telah kafir berdasarkan ijma’ kaum muslimin.’”
Kelebihan dari kitab ini sendiri adalah:
Walaupun demikian, dalam kehidupan sehari-hari alangkah baiknya setelah mempelajarinya kita langsung mempraktikkannya. Mengapa? Karena jika kita memiliki ilmu yang hanya berdasar teori tanpa penerapan nyata di lapangan, maka ibarat tong kosong nyaring bunyinya. Hanya pandai berkata tetapi tidak berisi.
Ingatlah kutipan dari salah satu pemimpin kita:
“We Walk The Talk, Not Only Talk The Talk.”
Wallahu ‘Alam.