Di era digital yang serba cepat ini, dakwah tak lagi terbatas pada mimbar dan majelis taklim konvensional. Media sosial menjadi ruang baru bagi para dai dan santri untuk menyebarkan nilai-nilai Islam dengan pendekatan yang lebih segar dan relevan bagi generasi muda. Fenomena ini melahirkan sosok-sosok inspiratif yang mampu memadukan kearifan pesantren dengan dinamika dunia digital. Salah satu di antaranya adalah Ning Sheila Hasina — figur muda yang dikenal luas sebagai pendakwah sekaligus influencer pesantren dengan gaya penyampaian yang lembut, cerdas, dan penuh makna.
Dalam wawancara khusus kali ini, redaksi Pers Mahrusy berkesempatan wawancara dengan Ning Sheila tentang perjalanan dakwahnya di dunia digital, tantangan yang dihadapi dalam menjaga autentisitas pesan agama di tengah tren media sosial, serta pandangannya terhadap peran santri dan pesantren di era teknologi. Melalui perbincangan hangat ini, Ning Sheila mengajak kita melihat bahwa dakwah bukan hanya soal menyampaikan, tapi juga soal menghadirkan keteladanan dan kasih dalam setiap unggahan.
Ning, bisa ceritakan bagaimana njenengan mulai aktif sebagai influencer pesantren di dunia digital?
Sebenarnya, saya pribadi pertama kali masuk ke media sosial itu niat awalnya bukan untuk dakwah. Tujuannya hanya untuk bersenang-senang saja, melepas penat dari rutinitas kegiatan di pondok pesantren yang cukup padat. Jadi awalnya saya membuat akun media sosial hanya sebagai hiburan.
Namun seiring berjalannya waktu, terutama ketika bulan Ramadan, saya sering membuka sesi tanya jawab seputar fikih. Ternyata banyak sekali yang bertanya. Masyarakat pada umumnya memang lebih banyak menanyakan hal-hal fikih saat bulan Ramadan, karena intensitas pertanyaannya meningkat di bulan itu. Lalu saya mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan itu lewat video. Dari situlah kemudian mulai banyak yang mengenal saya, dan ternyata banyak yang tertarik dengan pembahasan fikih.
Akhirnya, saya pun sering membagikan penjelasan mengenai berbagai hukum fikih. Tapi yang paling terasa pengaruhnya itu justru setelah masa pandemi Covid-19. Saat itu kita semua lebih banyak di rumah, tidak bisa bepergian, dan aktivitas di media sosial meningkat pesat. Dari situ saya mulai benar-benar menggunakan media sosial sebagai ladang dakwah.
Saya berpikir, ternyata masih banyak orang di luar sana yang belum paham soal fikih, termasuk dari kalangan pesantren sendiri. Kadang ada juga kesalahpahaman, terutama dalam hal fikih perempuan. Dari situ saya merasa, “Kok sedikit ya dari kalangan pesantren yang terjun membahas fikih perempuan?” Maka saya pun mulai menekuni dakwah digital melalui tema fikih perempuan itu.
Apa motivasi utama njenengan dalam menggunakan platform digital untuk berdakwah?
Tentu, yang pertama motivasi saya adalah tetap mengamalkan apa yang sudah didawuhkan oleh para yai sepuh. Bagaimanapun, kita harus tetap ngadep dampar, artinya menyampaikan ilmu yang kita miliki. Nah, di konteks media sosial, bentuk ngadep dampar-nya itu adalah dengan menyebarkan apa yang kita ketahui kepada masyarakat luas.
Ketika saya mulai terjun ke media sosial dan membahas tentang fikih, saya justru semakin menyadari bahwa banyak orang yang masih keliru dalam memahami fikih perempuan. Kadang mereka menyampaikan sesuatu yang tidak berdasar, hanya katanya saja. Dari situ saya merasa terpanggil — ini penting untuk diluruskan agar tidak semakin meluas pemahaman yang kurang tepat tersebut.
Perempuan itu kan madrasatul ula, sekolah pertama bagi anak-anaknya. Mereka adalah pembimbing utama dalam keluarga. Tapi ternyata, dalam hal-hal fikih yang menjadi bagian dari keseharian mereka sendiri, banyak yang belum punya landasan yang kuat.
Nah, itulah yang menjadi motivasi utama saya. Karena itu, prioritas saya dalam berdakwah di media sosial adalah membahas fikih, khususnya fikih perempuan — supaya semakin banyak yang paham dan tidak salah kaprah dalam mengamalkannya.
Menurut njenengan, apa tantangan terbesar yang dihadapi oleh influencer pesantren saat melakukan dakwah digital?
Menurut saya, ada dua tantangan besar: satu yang berkaitan dengan diri saya sendiri, dan satu lagi yang berkaitan dengan orang lain — atau lebih tepatnya, bagaimana orang menerima apa yang saya sampaikan.
Yang pertama, tantangan pribadi tentu soal istiqamah. Menyeimbangkan antara kegiatan di pesantren dan aktivitas dakwah di dunia digital itu tidak mudah. Apalagi akhir-akhir ini, jadwal saya di luar pesantren lebih padat dibanding sebelumnya. Dulu, sebelum sering mengisi seminar atau kegiatan di luar, saya masih bisa rutin membuat konten untuk media sosial. Tapi sekarang, waktu harus dibagi-bagi antara kegiatan di pondok dan di luar, sehingga saya merasa mulai jarang bisa fokus membuat konten sendiri.
Kalau pun ada video saya yang beredar di TikTok atau platform lain, biasanya itu potongan dari acara yang diunggah oleh orang lain, bukan dari saya pribadi. Jadi, menurut saya tantangan terbesar pertama adalah menjaga istiqamah dalam membuat konten dakwah secara pribadi di media sosial.
Tantangan kedua adalah bagaimana cara menyampaikan ilmu agar bisa diterima masyarakat luas. Teman-teman dari pesantren itu biasanya punya gaya bahasa yang khas, sangat “pondokan”. Kadang istilah atau cara penyampaiannya terlalu teknis, sehingga sulit dipahami oleh masyarakat umum — terutama mereka yang tidak pernah mondok atau belum familiar dengan istilah keislaman tertentu. Nah, tantangan saya adalah bagaimana mengemas pesan dakwah dengan bahasa yang tetap ilmiah tapi juga mudah dicerna oleh semua kalangan.
Tentu tidak semua yang saya sampaikan bisa diterima oleh masyarakat, dan itu wajar. Tapi yang penting, niat awal kita tetap lurus: untuk ta‘lim, untuk menyampaikan ilmu, dan menjadikan media sosial sebagai sarana dakwah. Tujuan utamanya tetap dakwah, bukan yang lain.
Apa strategi khusus yang njenengan gunakan untuk menjangkau generasi muda lewat dakwah digital?
Kalau dibilang strategi khusus, sebenarnya saya belum punya strategi yang benar-benar terencana. Tapi sejauh ini, saya lebih sering menggunakan bahasa-bahasa yang sedang tren, bahasa yang biasa dipakai anak muda di media sosial.
Itu mungkin bisa disebut sebagai strategi utama saya. Saya juga berusaha menyesuaikan contoh-contoh yang saya gunakan dengan hal-hal yang sedang ramai dibicarakan. Karena ketika kita memakai bahasa atau topik yang sedang tren, mereka — terutama generasi muda — akan lebih tertarik untuk menyimak apa yang disampaikan. Dengan begitu, pesan dakwahnya bisa masuk lebih mudah.
Bisakah njenengan ceritakan pengalaman atas momen paling berkesan selama berdakwah melalui media sosial?
Momen yang paling berkesan bagi saya dalam berdakwah di media sosial adalah ketika ada beberapa orang yang datang dan memberikan testimoni secara langsung. Mereka bilang, “Saya sebelumnya tidak paham apa-apa tentang fikih perempuan, bahkan tidak tertarik. Tapi setelah melihat video panjenengan, saya jadi tertarik untuk belajar fikih.”
Bagi saya, itu adalah momen yang sangat membahagiakan sekaligus berkesan. Karena membuat orang tertarik kepada Islam melalui jalur ini — melalui dakwah digital — itu bukan hal yang mudah, dan tidak banyak orang yang fokus di bidang ini. Jadi, ketika apa yang saya sampaikan tentang fikih bisa membuat seseorang semakin mencintai ilmu agama, rasanya luar biasa bahagia.
Saya sering berpikir, mungkin inilah salah satu bentuk amal yang bisa membuat para masyayikh, para guru saya ridha kepada saya. Dan tentu saja, semoga hal ini juga bisa membahagiakan Rasulullah ﷺ. Karena beliau pernah bersabda:
فَوَاللَّهِ لَأَنْ يُهْدَى بِكَ رَجُلٌ وَاحِدٌ خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ
“Demi Allah, sungguh jika satu orang saja diberi petunjuk (oleh Allah) melalui perantaraanmu, maka itu lebih baik bagimu daripada unta merah.”
Pada masa Rasulullah, unta merah adalah hewan paling berharga, harganya sangat mahal — mungkin kalau diibaratkan sekarang, setara dengan harta bernilai miliaran. Tapi Rasulullah menegaskan bahwa mengajak satu orang saja untuk mencintai Islam jauh lebih berharga daripada itu semua.
Jadi, ketika ada orang yang akhirnya tertarik dengan fikih atau ilmu agama melalui apa yang saya sampaikan, saya merasa sangat bersyukur. Saya sadar, saya hanyalah perantara. Tapi menjadi perantara dari sesuatu yang kita cintai yaitu dakwah Islam, rasanya sungguh membahagiakan.
Dalam pandangan njenengan, bagaimana peran pesantren dalam mendukung santri untuk menjadi influencer pesantren yang positif di era digital?
Kalau kita berada di lingkungan Pesantren Lirboyo, saya rasa para santri tidak asing dengan wejangan dan mau‘izhah dari para masyayikh Lirboyo. Beliau-beliau sering berpesan bahwa jika seorang santri ingin senantiasa tersambung (ta‘alluq) dengan para guru dan masyayikh, maka ia harus selalu berjalan di jalan yang telah ditempuh oleh para guru tersebut. Karena ketika seorang santri tetap menjaga sambungan itu, maka barakah dan sirr dari para guru akan terus mengalir kepadanya.
Dan para masyayikh Lirboyo sering mengingatkan bahwa tariqah atau jalan dakwah para guru kita adalah ta‘lim wa ta‘allum — belajar dan mengajar. Maka, sebagai santri Lirboyo, di mana pun kita berada, prinsip ta‘lim wa ta‘allum ini harus kita pegang teguh. Kalau mengaku santri tapi tidak mengaji, ya lebih baik jangan mengaku santri dulu, karena ciri khas santri itu memang mengaji.
Tapi perlu dipahami, makna mengaji itu luas. Jangan dipersempit seolah hanya berarti membawa kitab dan duduk di kelas. Mengaji juga bisa berarti memberikan manfaat, menebarkan energi positif kepada lingkungan sekitar dengan ruh Islam dan ruh pesantren yang tertanam dalam diri kita. Itu juga bagian dari mengaji, bagian dari ngadep dampar dan dari ta‘lim wa ta‘allum.
Selain itu, para guru kita juga sering menekankan bahwa pesantren tidak mengunggulkan mau‘izhah (ceramah) terlebih dahulu, tetapi lebih mengutamakan uswah — keteladanan. Ini penting bagi teman-teman santri yang ingin berdakwah, termasuk di dunia digital.
Buya Kafa dawuh, “Kalau kamu ingin menyadarkan orang-orang di sekitarmu tentang siapa dirimu sebagai santri, maka sebarkanlah dengan akhlakul karimah.” Dengan akhlak yang baik, di manapun kamu berada, kamu akan diterima. Karena apa yang kamu bawa — ucapanmu, perilakumu, sikapmu — semuanya mengandung kebaikan.
Jadi menurut saya, inilah jalur utama bagi seorang santri, terutama yang ingin menjadi influencer pesantren di era digital: tetap berpegang pada ta‘lim wa ta‘allum, menjaga ruh mengaji dan ruh kitab, serta menampakkannya melalui akhlakul karimah. Karena itulah identitas sejati santri, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.
Menurut njenengan, bagaimana dakwah digital bisa membantu mengubah stigma atau persepsi masyarakat terhadap pesantren dan Islam?
Betul, akhir-akhir ini memang suasananya agak “panas”, ya. Banyak narasi negatif yang beredar tentang santri dan pesantren. Memang kita tidak bisa memungkiri bahwa ada beberapa oknum yang berperilaku tidak baik. Tapi perlu dipahami oleh media dan masyarakat luas bahwa pesantren dan orang-orang di dalamnya juga manusia. Jadi jangan dituntut sempurna, pasti ada kekurangan, ada kesalahan.
Namun kalau kita bandingkan antara oknum yang berbuat tidak baik dengan pesantren yang membawa kebaikan, perbandingannya jauh sekali. Mungkin bisa dibilang seratus banding satu. Artinya, pesantren jauh lebih banyak memberikan manfaat dan kebaikan daripada keburukan.
Nah, untuk mengimbangi narasi-narasi negatif di media sosial, saya rasa para santri perlu lebih bijak dalam menggunakan media digital. Kalau ingin mengunggah sesuatu tentang kehidupan pesantren, sebaiknya dipilah dan dipilih dulu: apakah konten itu pantas untuk dikonsumsi publik, dan apakah bisa diterima oleh khalayak umum? Kalau bisa, silakan dibagikan. Tapi kalau tidak pantas atau berpotensi disalahpahami, lebih baik disimpan untuk konsumsi internal saja.
Santri harus memahami bahwa orang yang berilmu harus lebih bisa memaklumi orang yang belum tahu. Orang yang paham harus lebih sabar terhadap orang yang belum paham. Jadi jangan asal unggah dengan alasan, “Yang penting saya senang,” atau “Yang penting saya ingin upload.” Tidak bisa begitu.
Termasuk dalam menjaga muru’ah seorang santri adalah tidak mengunggah, berkata, atau berbuat sesuatu yang bisa menimbulkan kesalahpahaman di mata masyarakat awam. Sebagaimana dijelaskan sebagian ulama, menjaga muru’ah berarti menjaga kehormatan diri agar tidak menodai nama baik pesantren dan santri pada umumnya.
Karena itu, yang seharusnya kita lakukan adalah mengunggah hal-hal yang baik, yang bisa menjadi penyeimbang narasi negatif tentang pesantren. Misalnya, menampilkan kehidupan ngaji, suka-duka di pesantren, kegiatan sosial, atau kisah inspiratif para santri. Hal-hal seperti ini bisa menyentuh hati masyarakat, termasuk para orang tua di rumah, dan membuat mereka melihat bahwa pesantren adalah tempat yang penuh nilai positif.
Untuk teman-teman santri yang bukan bagian dari tim media, cukup unggah hal-hal yang bermanfaat saja. Kalau ada konten baik yang bisa di-repost, silahkan. Tapi kalau tidak ada, ya tidak perlu ikut memperkeruh suasana.
Saya juga melihat, kadang ada santri yang tidak terima dengan hujatan terhadap pesantren, lalu membalas dengan kata-kata yang kasar atau tidak pantas. Padahal niatnya membela pesantren, tapi caranya tidak sesuai dengan adab santri. Itu tidak etis, dan bukan yang diajarkan oleh para kiai.
Kita ini diajarkan untuk menyebarkan hal-hal positif tentang pesantren — bukan dengan marah atau membalas, tapi dengan akhlakul karimah. Itulah cara terbaik untuk memperbaiki persepsi masyarakat tentang pesantren dan Islam di era digital.
Bagaimana njenengan dalam menghadapi kritik atau komentar negatif di media sosial terkait dakwah digital yang njenengan lakukan?
Untuk menyikapi kritik atau komentar negatif di media sosial, tentu saya tidak lepas dari hal itu. Sejak awal saya sudah menyadari, bahwa ketika kita terjun ke dunia dakwah — apalagi di ruang publik seperti media sosial — pasti akan ada saja orang yang tidak suka dengan kita. Siapapun kita, di manapun, dan kapanpun, pasti akan menemui hal semacam itu. Karena, sebagaimana maqolah mengatakan:
رِضَى النَّاسِ غَايَةٌ لَا تُدْرَكُ
“Keridaan manusia adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa diraih seluruhnya.”
Maka, jangan berharap semua orang akan suka kepada kita, terutama ketika kita sedang berjuang di bidang dakwah ini.
Kalau saya pribadi, ketika mendapatkan kritik, saya melihat dulu: apakah kritik itu membangun atau tidak. Kalau kritiknya semata-mata karena orang tidak suka, bukan karena kesalahan saya, maka saya tidak terlalu menanggapi. Saya lebih memilih untuk mengabaikannya. Prinsip yang saya pegang adalah firman Allah:
وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
“Berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.”
Jadi, tidak semua kritik harus direspons. Tapi kalau kritik itu membangun, misalnya ada yang memberi masukan terkait penyampaian, konten, atau cara saya berbicara, maka saya sangat berterima kasih. Karena dari kritik yang seperti itu justru saya bisa belajar dan memperbaiki diri. Bahkan sering kali, masukan datang dari teman-teman santri atau guru-guru saya sendiri, dan itu sangat saya syukuri.
Namun, memang tidak sedikit kritik yang datang tanpa dasar. Misalnya, dulu saya pernah menyampaikan maqolah dari Mbah Yai Maimoen Zubair, bahwa “karir terbaik seorang perempuan adalah di dalam rumah, dan kesuksesan tertinggi seorang perempuan adalah ketika ia mampu menjaga generasi yang salih dan salihah.”
Nah, potongan video itu kemudian diunggah tanpa konteks lengkap, sehingga seolah-olah itu pendapat pribadi saya, bukan kutipan dari maqolah Mbah Yai Maimoen. Akhirnya banyak hujatan datang, seperti “Kamu enak ngomong, hidupmu nyaman!” atau “Pandanganmu nggak relevan dengan zaman sekarang.” Padahal yang saya sampaikan adalah pesan dari ulama besar, bukan opini pribadi.
Dari situ saya belajar, bahwa ilmu itu memang tidak selalu bisa diterima oleh semua orang dengan lapang hati (legowo). Tugas kita hanya menyampaikan, bukan memastikan orang menerima. Karena hidayah itu sepenuhnya hak prerogatif Allah. Sebagaimana firman-Nya:
اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُۚ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.”
Maka tugas kita sebagai influencer pesantren, sebagai penyambung lisan para masyayikh, hanyalah menyampaikan apa yang telah diajarkan kepada kita. Jangan sampai niatnya berubah menjadi mencari perhatian atau popularitas.
Saya sering mengingatkan juga kepada teman-teman influencer lainnya, jangan sampai karena ingin disukai masyarakat, kita malah menyampaikan hal-hal yang “disesuaikan” dengan selera publik, padahal hukumnya tidak sesuai dengan syariat. Ini berbahaya. Dakwah itu tujuannya bukan untuk menyenangkan manusia, tapi untuk mengajak mereka mendekat kepada Allah, Rasulullah, dan para ulama.
Jadi, dalam berdakwah kita tetap harus menempuh jalan yang diridai oleh Nabi dan para ulama. Jangan menormalisasi hal-hal yang tidak sesuai dengan syariat hanya demi alasan “agar dakwahnya diterima.” Karena kalau niat dan jalannya benar, insyaAllah hasilnya juga akan benar.
Menurut njenengan, apa etika penting yang harus dipegang oleh influencer pesantren dalam bermedia sosial?
Etika paling penting yang harus dipegang oleh influencer pesantren adalah ngaji dulu sebelum mengajar ngaji. Artinya, kita harus membekali diri dengan ilmu, muthola’ah, dan belajar sebelum ikut serta dalam membahas permasalahan di luar.
Menurut saya, banyak influencer, baik seusia saya maupun yang lebih senior, sebenarnya masih perlu terus mengaji. Karena dengan mengaji, kita memperkuat kapasitas diri untuk menyampaikan dakwah dengan benar. Mengaji tidak ada batasnya; kapan pun, di manapun, kita bisa terus belajar dan menambah ilmu.
Hal ini penting karena apa yang kita sampaikan di media sosial akan menjadi konsumsi publik dan dipertanggungjawabkan. Jadi, sebelum berbicara atau membagikan konten, kita harus memastikan diri kita sudah cukup siap dari sisi ilmu dan pemahaman. Terus mengaji, terus meningkatkan diri, itulah kunci agar dakwah kita bisa benar-benar bermanfaat dan sesuai syariat.
Bagaimana cara njenengan menjaga konsistensi dan semangat dalam berdakwah secara digital?
Jujur, kalau untuk berdakwah di media sosial—terutama konten yang saya buat dan unggah sendiri—saya menjaga konsistensi dengan cara tetap tersambung pada ta’lim wa ta’alum. Salah satu caranya, saya minta teman-teman membantu membuat jadwal shot atau take video seputar fiqih. Dengan begitu, saya bisa terus berkontribusi tanpa mengganggu kegiatan belajar di pesantren.
Tentu, prioritas utama tetap di pondok. Kalau ada jadwal di luar pondok, saya pastikan tidak menggangu jadwal di pondok. Ada kalanya harus izin untuk kegiatan di luar, tapi tetap saya batasi agar tidak mengganggu kontinuitas belajar.
Hal yang paling berdampak bagi saya dalam menjaga istiqomah adalah pengaruh ibu saya sendiri, Ummi Hanah. Beliau disiplin dan konsisten dalam mengaji, sehingga saya meneladani dan terus diingatkan untuk membagi waktu dengan baik antara kegiatan di pesantren dan di dunia digital. Dukungan dan nasihat beliau membuat saya tetap semangat dan konsisten dalam berdakwah, sekaligus menjaga prioritas belajar di pondok.
Apa harapan njenengan untuk perkembangan dakwah digital dan peran influencer pesantren ke depannya dan tips bagi para santri atau influencer muda yang ingin memulai dakwah digital?
Harapan saya, dengan hadirnya influencer pesantren di media sosial, santri dan pesantren dapat dikenal lebih luas oleh masyarakat. Saya berharap citra pesantren semakin positif, dan semakin banyak orang tertarik pada Islam serta dunia pesantren melalui karya santri di media sosial.
Bagi teman-teman yang ingin memulai dakwah digital, jika merasa berat untuk menyampaikan opini atau pendapat pribadi di awal, jalur paling mudah adalah membagikan posting atau konten yang bermanfaat dan sumbernya jelas. Misalnya, menyebarkan dawuh dari para guru dan masyayikh di pesantren. Hal ini adalah langkah awal yang aman, sekaligus mendidik.
Selain itu, tulislah apa yang didapat dari guru-guru, terutama dawuh-dawuh mereka. Ingat pepatah: “Ma kutiba qarra, wa hafidza farra” — yang ditulis akan menetap, yang hanya dihafal bisa hilang. Jangan hanya mengandalkan ingatan. Tuliskan, catat, dan sebarkan secara bertanggung jawab.
Bagi santri yang merasa belajar di pondoknya masih banyak kekurangan, sebelum terjun ke dakwah digital maupun nyata, pastikan untuk lebih banyak belajar dan membekali diri. Jangan asal menyampaikan sesuatu hanya berdasarkan dugaan atau opini pribadi. Semua yang disampaikan harus ada rujukan dari guru atau kitab. Muthola’ah dan ngaji terus-menerus adalah kunci. Dengan begitu, dakwah yang disampaikan akan tepat, bermanfaat, dan tetap sesuai dengan ajaran pesantren.