Senja tenggelam di pinggir kota. Suasana sibuk kota yang berlalu lalang menghiasi langit sore itu. Sepasang pemuda sedang menikmati indahnya surya yang perlahan tenggelam.
“Kira-kira, semisal kita sudah pada sibuk dengan diri sendiri, masih bisa kumpul lagi nggak, ya?”
“Ya, mungkin masih bisa.”
“Emang kau seyakin itu?”
“Kenapa tidak? Lagipula, kita masih hidup di dunia.”
“Kok kau seyakin itu?”
“Oke, sekarang logikanya begini: kita hidup di dunia dengan 100% ketidakpastian. Jika kita bagi menjadi empat kemungkinan yang terjadi, berarti ada 25% peluang yang bisa dikatakan memiliki rasio 1:3. Nah, di situlah kita bisa bertemu, bahkan melepas tawa.”
“Oo… gitu.”
“Menurutmu, apa yang membuat ini hampir memiliki rasio 1:3?”
“Menurutku, dari beberapa pengalamanku, tidak semua yang kita usahakan bisa terjadi. Bahkan, terkadang kemungkinan kecil bisa menjadi batu loncatan terbesar.”
Di sore itu, mereka berdua menikmati keindahan senja yang sebelumnya belum pernah mereka rasakan bersama. Meskipun salah seorang dari mereka baru pertama kali mengalaminya, suasana saat itu telah menjelaskan hampir segudang pemikirannya.
Salah seorang lainnya berkata, “Dahulu aku pernah berada di fase memahami arah suatu masalah. Hingga pada akhirnya, saat ini aku merasa hal itu biasa saja.”
“Terus, lanjutannya seperti apa?”
“Akhirnya, aku mencoba hal yang baru, lagi dan lagi. Di situlah kehendak Tuhan, seolah aku bisa mengalikannya.”
“Wow, keren dong bisa melompat sejauh itu.”
“Menurut orang-orang itu bagus. Hingga pada akhirnya, aku hampir terjebak di dalamnya.”
“Maksudnya?”
“Seolah semuanya sama saja dan akan selalu seperti itu hingga kapan pun.”
“Oo…”
“Gimana dengan dirimu?”
“Entahlah, terlalu kompleks untuk dikatakan.”
“Maksudnya?”
“Saat ini, semuanya tidak bisa dilihat dari satu arah. Seolah semua bisa dipandang dari mana saja.”
“Oo… Yap, aku setuju.”
“Saat ini tak bisa dipandang dari satu arah. Bahkan, seolah kita terbang di langit yang luas nan indah.”
“Itu benar. Saking luas dan indahnya, kita hanya bisa diam dan terpukau.”
“Saking takjubnya, kita bingung ingin ke mana.”
“Mungkin itu benar. Tapi kalau kita lihat Salmon Atlantik, di tengah perjalanan jauhnya, ia tetap percaya pada medan magnet Bumi hingga akhirnya kembali ke rumah semula.”
“Ya, itu benar. Sejauh apa pun kita berjalan, kita akan kembali ke rumah.”
“Tapi pertanyaannya, rumah itu di mana sekarang?”
“Entahlah, mungkin rumah kita saat ini, atau bisa juga rumah yang kita bangun sendiri.”
“Haaah…”
(Suara helaan napas panjang dari salah seorang pemuda.)
“Dengan kita membangunnya sendiri, kemungkinan kita bisa mengerti lebih banyak.”
“Tunjukkan rasionya!”
“Baiklah, rasionya 2:2.”
“Oke, masuk akal dengan jawabanmu.”
“Bagaimana dengan kau, Kawan?”
“Menurutku, aku akan kembali ke rumah yang saat ini. Kemudian, suatu hari nanti akan kubangun yang lebih indah dan nyaman.”
“Baiklah, Kawan. Kau telah memilihnya!”
“Maksud kau apa?”
“Pilihanmu sudah bagus.”
“Terima kasih, Kawan. Bagaimana dengan kau?”
“Seperti biasa, aku akan belajar dulu dari seseorang, kemudian akan kubangun rumah itu dengan nyaman dan layak.”
“Maksudmu, layak seperti apa?”
“Ya, seperti yang kau lihat sekarang.”
“Baiklah, aku mengerti.”
***
“Sepertinya ia telah tenggelam dan berganti?”
“Tidak, dia tak akan pernah tenggelam. Ia hanya beristirahat sejenak.”
“Dari apa?”
“Dari tugas yang telah ia lakukan. Sekarang waktunya rembulan yang berjaga.”
“Yap, mungkin sudah waktunya kita berganti.”
“Mungkin saja.”
“Baiklah, ayo kita berpindah untuk mengisi perut.”
“Kau sudah lapar?”
“Bisa dikatakan begitu. Bahkan, aku sedang haus.”
“Baiklah, ayo kita berpindah dan menikmati suasananya.”
“Oke, siap.”
Malam itu pun mereka berdua berpindah, lalu mulai mengisi perut dan membasahi diri mereka dengan segala kekurangan yang ada. Hari itu menjadi pengalaman bagi salah seorang dari mereka untuk menikmati alam dan sedikit gambaran tentang masa depan serta masa lalu.
Wallahu a‘lam.